Paraparatv.id | Jayapura | Peringatan Hari Kartini tahun ini menjadi momentum refleksi mendalam bagi kaum perempuan di Tanah Papua. Mengusung tema Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi Menuju Indonesia Emas 2045 peringatan ini menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan sebagai kunci kemajuan bangsa sekaligus perlindungan generasi penerus.
Wakil Ketua I DPR Papua, Herlin Beatrix Monim, mengatakan bahwa semangat Kartini mencerminkan perjuangan atas hak dasar perempuan untuk belajar, berpikir, menyampaikan pendapat, hingga menentukan masa depan.
Namun demikian, ia mengakui bahwa realitas di lapangan menunjukkan perjuangan tersebut belum sepenuhnya tuntas. Masih banyak perempuan yang belum memperoleh kesempatan dan kepercayaan untuk tampil sebagai pemimpin.
“Perempuan Papua hari ini bukan lagi penonton dalam pembangunan. Kita adalah penentu arah dan masa depan Papua. Karena itu, perempuan harus berani keluar dan mengambil peran strategis dalam pembangunan,” ujar Herlin di Jayapura, Selasa (21/4).
Menurutnya, perempuan masa kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan zaman yang memiliki empati, menjunjung keadilan, berintegritas, serta berani mengambil keputusan dan risiko. Meski demikian, ia menegaskan bahwa potensi saja tidak cukup. Seorang pemimpin, kata dia, tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang berupa penguatan kapasitas dan penempaan mental.
Lebih lanjut, politisi NasDem Papua tersebut menyampaikan tiga pesan utama bagi perempuan Papua, yakni mengenali nilai diri, menciptakan peluang, dan mempersiapkan diri.
“Jangan pernah merasa kecil atau tidak mampu. Perempuan Papua diciptakan bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai penentu. Jangan menunggu peluang, melainkan berani menciptakan kesempatan di berbagai bidang. Yang terpenting, terus mempersiapkan diri, karena masa depan hanya diberikan kepada mereka yang siap,” tegasnya.
Herlin juga menekankan bahwa perjuangan kesetaraan bukan semata tugas perempuan, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, pemerintah, hingga lembaga keagamaan. Menurutnya, sistem yang adil bagi perempuan merupakan fondasi penting bagi kemajuan bangsa.
“Ketika perempuan maju, keluarga menjadi kuat, masyarakat bertumbuh, dan bangsa menjadi kokoh. Perempuan Papua harus bersuara untuk kebenaran dan tampil di garis depan sebagai pelopor. Masa depan Papua tidak hanya ditentukan laki-laki, tetapi oleh laki-laki dan perempuan yang berjalan beriringan,” pungkasnya. (*)



















