Paraparatv.id | Keerom | Emanuel Yarsy Burung, Guru Penggerak Eliminasi Malaria (PEM) SMP N 7 Pitewi, rutin menggelar diskusi kelas tentang malaria bersama para siswanya. Bukan sekadar ceramah, siswa didorong aktif bertanya dan berbagi pendapat agar terhindar dari penyakit malaria.
“Kami sengaja buat suasana diskusinya dua arah. Siswa tidak hanya duduk dan dengar penjelasan. Tapi mereka ikut bicara dan tanya agar lebih mudah ingat dan paham.” ujar Emanuel kepada paraparatv.id
Dijelaskan Emanuel, setelah diskusi kelas, kegiatan tidak langsung berhenti di situ. Mereka langsung menyusun rencana aksi. Salah satu yang paling rutin dilakukan adalah membersihkan lingkungan sekolah dan menghilangkan tempat yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk.
“Setelah diskusi kami langsung sepakati rencana aksi. Bersih-bersih lingkungan sekolah ini yang rutin kami lakukan. Bukan cuma sekali, karena pencegahan malaria harus menjadi kebiasaan di lingkungan sekolah dan rumah.” jelasnya.
Ia menambahkan siswa-siswi tidak hanya membawa pulang tugas sekolah, tetapi juga paham cara melindungi diri dan keluarga dari malaria. Pengetahuan itu dibawa ke rumah masing-masing.
“Yang kami harapkan, anak-anak ini menjadi agen informasi dan penggerak di keluarganya. Kalau mereka paham, orang tua di rumah juga bisa ikut terlindungi.” katanya.
Program ini menjadi salah satu contoh nyata keterlibatan sekolah dalam upaya eliminasi malaria di Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Malaria Perdhaki melalui SSR Dekenat Keerom-2.(KT)



















