Seniman Rias Wajah Berharap Pemerintah Perbanyak Iven Budaya

Deni Rumbiak bersama salah satu hasil karya rias wajahnya, Sabtu (29/10).
banner 120x600

Paraparatv.id | Sentani | Salah satu tujuan pelaksanaan iven budaya adalah sukses peningkatan ekonomi bagi pelaku usaha UMKM, terutama pelaku UMKM Orang Asli Papua (OAP).

Hal ini juga yang menjadi salah satu target dilaksanakan iven nasional Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) VI Tahun 2022 di Tanah Tabi-Papua, 24-30 Oktober 2022.

Pelaksanaan KMAN VI Tahun 2022 dirangkai dengan HUT Kebangkitan Masyarakat Adat (KMA) IX Kabupaten Jayapura dan Festival Danau Sentani (FDS) XII Tahun 2022.

Salah satu OAP pelaku ekonomi kreatif, Deni Rumbiak yang juga pemilik Art Shop & Souvenir Khas Papua, Wadomu Art, menyediakan berbagai aksesoris etnik Papua.

Deni Rumbiak bersama anggota galeri seninya juga turut membuka stan di Arena FDS di Kawasan Wisata Pantai Kalkothe, Kampung Nolokla, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura.

Saat kami temui, Sabtu (29/10) malam, Deni Rumbiak sedang merias wajah salah satu pengunjung. Menurutnya rias wajah menjadi salah satu daya tarik yang banyak diminati pengunjung selama FDS dan KMAN.

“Selain menyediakan pernak-pernik dan aksesoris kami juga merias wajah. Anggota sanggar kami semua bisa merias wajah,” tutur Deni Rumbiak, Sabtu (29/10) malam.

Menurutnya, meriah wajah harus disesuaikan dengan figur siapa yang akan dirias?

“Jika ibu-ibu atau wanita, maka riasan itu menggambarkan kecantikan seorang bidadari,” ujarnya.

Berbeda jika dia seorang laki-laki, kata Rumbiak, maka riasan itu akan menggambarkan kegagahan figur laki-laki tersebut.

“Kita merias wajah juga disesuaikan dengan situasi. Kalau untuk riasan biasa harus menggambarkan ketenangan atau suka cita,” ujarnya.

Lain halnya untuk karakter keras, biasanya digunakan untuk perang atau pentas tari perang-perangan.

“Sehingga merias wajah juga tidak boleh sembarang,” ujarnya.

Ia mengaku pendapatnya pada iven KMAN dari Arena FDS tidak sebaik iven terakhir yang lalu. Dimana dalam 5 hari pelaksanaan ia bisa meraup pendapatan sampai Rp5 juta.

“Tahun ini sedikit berbeda, kalau saya cermati, ini karena penempatan stan yang kurang teratur jadi pengunjung tidak fokus pada stan yang ada,” ungkapnya.

Dirinya berharap lebih seringnya iven budaya digelar. Karena bisa merangsang mereka, pelaku UMKM untuk terus bekerja, berkarya dan berinovasi membuat souvenir atau usaha kreatif lainnya.

“Kami harap pemerintah atau dinas terkait memperbanyak iven-iven budaya, karena dengan iven ini, usaha seperti kami bisa berkembang. Souvenir yang kami buat juga bisa dibeli sebagai cenderamata,” pungkasnya.

Deni Rumbiak mengaku dibantu 10 orang anggota dalam mengelola galerinya selama ini.

Galeri atau Art Shop & Souvenir Khas Papua, Wadomu Art beralamat di Jalan Gerilyawan Abepura, Kota Baru, Kota Jayapura. Atau tepat di depan Masjid As-Salihin Abepura. (RZR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *