Boccia menjadi Cabor Baru di Peparnas Papua

Olahraga Boccia (Foto: Dank)
banner 120x600

Paraparatv.id | Jayapura | Boccia dengan bahasa latin yaitu bottia atau disebut Bocce Coling Lapangan. Olahraga ini belum begitu familiar bagi penggemar olahraga pada umumnya. Parparatv mengajak pembaca tuk megikuti ulasan singkat dari olahraga yang baru diperkenalkan ke Bumi Cenderawasih.

Awalnya ini diperkenalkan oleh dokter saraf asal Inggris pada tahun 1558 silam, diperuntukkan sebagai terapi gerak bagi penyandang difabel (Celebral Palsy) yang mengalami keterbatasan gerak pada bagian tubuh atas dan bawah.

Sekitar empat ratus tahun lebih, olahraga boccia terdaftar dalam salah satu pertandingan di Paralimpiade New York tahun 1984 dan sejak itu dibentuklah organisasi induk bernama Boccia Sport Federation atau Bisfed.

Cabang olahraga (cabor) boccia sendiri menggunakan lapangan seluas 6 x 12,5 meter sedikit menyamai luas lapangan bulu tangkis. Sementara bola yang digunakan sebanyak sembilan buah dan satu di antaranya berwarna putih yang disebut sebagai bola poin. Nah, delapan bola lainnya terdiri dari 4 bola berwarna merah dan 4 bola biru.

Cara bermainnya, bola putih adalah bola poin yang dilempar pertama kali di lapangan. Kemudian empat bola berwarna merah dan empat bola berwarna biru akan dilempar ke arah bola putih secara bergantian oleh masing-masing tim.

Jauh dekatnya lemparan bola menggunakan teknik dan setiap jarak ada kuota nilainya dan poin inilah yang akan menentukan siapa pemenangnya. Masing-masing bola memiliki bobot 263-287 gram. Ram dan antena adalah alat yang digunakan para atlet boccia untuk melempar bola.

Ram ini berbentuk papan luncur untuk menggulirkan bola, dan antena berbentuk seperti tongkat biliar yang dipasang di mulut atau kepala untuk mengarahkan bola.

Olahraga boccia ini juga baru dipertandingan pertama kali di Indonesia dan perdana di Pekan Palimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua, Senin (8/11/2021). Salah satu pelatih Boccia Papua, Rumi saat dikonfirmasi membenarkan hal ini.

“Cabor boccia ini merupakan olahraga yang baru di Indonesia, dan pertama kalinya dipertandingkan di Peparnas XVI Papua,” kata Rumi.

Dirinya bersama pelatih boccia lainnya mengaku bukan hanya membawa dan mempersiapkan Tim Papua di even olahraga empat tahunan ini tuk merebut medali. Melainkan, lanjutnya, disisi lain pihaknya berkeinginan agar perangkat pertandingan terkait olahraga tersebut mampu dipelajari, semisal wasit dan aturan pertandingan.

“Saya ingin ketika saya pulang, ada hal baik yang saya tinggalkan untuk Papua, khususnya di Cabor Boccia. Untuk itu saya minta beberapa orang untuk belajar tentang aturan pertandingan di Boccia,” ujarnya.

Di Peparnas XVI Papua kali ini, seluruh kontingen di cabor Boccia yang mulai berkompetisi terbagi pada lima kelas dan di ikuti sebanyak 14 provinsi. (Dank/ith)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *