Pelukis Stiker Kaca Sandblast Untuk PON Papua

0
192
Seorang bocah di belakang kaca berpola tulisan Papua. (Foto: ITH)

Paraparatv.id | Jayapura | Bemodalkan pisau kater, pria berusia 52 tahun ini beri sentuhan nuansa adat Papua sebanyak 360-an karya di Stadion Lukas Enembe dan Wisma Cenderawasih. Ikuti ulasan tim paraparatv berikut ini.

Aturi Sueni namanya, pria yang lahir di Jayapura 8 Juni 1969 silam ini turut ambil bagian dalam proses menuju perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua. Bapak memiliki enam anak ini begitu semangat mengerjakan tugas yang diterimanya ini.

Suatu kebanggaan tersendiri karyanya dapat di nikmati banyak orang. “Saya bangga dengan karya yang saya pelajari secara otodidak ini. Karena sudah banyak orang memiliki hasil karya saya,” kata Aturi sembari memegang kater sambil mengukir stiker pada salah satu kaca di Wisma Atlet Mandala Jayapura .

Stiker kaca berpola adat budaya Papua. (Foto: ITH)

Dengan adanya perhelatan olahraga nasional ini, dirinya salah satu seniman Papua menebar pesona hasil karya indahnya tuk menunjukkan ke semua orang, bahwa Papua itu sungguh indah. “Kapan lagi kami bisa menunjukkan karya kami ke luar, kita tak tau PON di Papua kapan lagi dilakukan setelah PON XX nanti. Nah inilah saatnya seniman-seniman bersatu,” katanya sambil duduk di depan teras Wisma Atlet Mandala Jayapura.

Sembari tersenyum, dirinya sangat mudah bergaul terbukti banyak teman-teman dosen di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua yang dikenalnya, salah satunya Agus Ohee. Ia pun pernah diajak untuk masuk kuliah di institute tersebut, namun tak ada niatan dari hati kecilnya tuk mencicipi dunia perkulihan.

“Saya putus sekolah di SMA karena pergaulan dan tak melanjutkannya, tapi saya tak malu. Saya terus tekuni seni lukis dan menjual karya saya untuk kehidupan sehari-hari,” kata pria alumni SD Inpres 2 Polimak, Jayapura Selatan puluhan tahun silam.

Semenjak istrinya meninggal enam tahun lalu, dirinya hanya ditemani anak-anaknya masing-masing dua orang laki-laki dan empat orang perempuan. “Saya tetap bangga dan bersyukur kepada Tuhan, talenta yang saya miliki ini dan kemauan saya menjadi dorongan untuk berbuat yang terbaik untuk Papuam,” kata alumni SMP Negeri 1 (sekarang SMP N 3) Jayapura Selatan.

Keinginan kuat yang ia rasakan saat ini adalah memiliki dukungan moril dari pemerintah untuk mewujudkan cita-citanya yaitu mengajar seni lukis ke anak-anak yang ada di Kota Jayapura, bahkan Papua secara umumnya.

“Saya ingin sekali membuat satu pelatihan melukis diatas Sandblast, dan saya mau orbitkan pengganti saya,” kata Aturi.

Seorang bocah di belakang kaca berpola tulisan Papua. (Foto: ITH)

Gambar bernuansa Papua yang terlihat di kaca-kaca lokasi Stadion Lukas Enembe dan Wisma Atlet Mandala Jayapura, merupakan corak suku, budaya dan adat dari lima wilayah adat di Papua yaitu Tabi, Saereri, Ha Anim, La Pago, Mee Pago. Lebih dari 360 ukiran di hasilkan dan menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakat di PON XX Papua yang akan dilaksanakan 2 Oktober 2021 mendatang.

Lima wilayah tersebut yakni, wilayah adat Tabi berada tersebar Kabupaten Jayapura, Sarmi, Memberamo Raya dan Kabupaten Keroom. Wilayah adat Saereri tersebar di Teluk Cenderawasih yakni Kabupaten Biak Numfor, Supiori, Kepulauan Yapen, Waropen sebagian Nabire bagian pantai.

Wilayah Ha Anim terletak di Papua Selatan yakni Kabupaten Merauke, Boven Digul, Mappi, dan Kabupaten Asmat. Wilayah La Pago terletak di Pegunungan Papua Tengah Bagian Timur, meliputi Kabupaten Pegunungan Bintang, Wamena, Lani Jaya, Puncak Jaya, Puncak 6, Nduga, Yahukimo, Yalimo, Mamberamo Tengah, dan Kabupaten Tolikara.

Sedangkan Wilayah adat Mee Pago terletak di Pegunungan Papua bagian tengah yaitu Kabupaten Intan Jaya, Paniai, Deiyai, Dogiyai, di Nabire bagian gunung dan sebagian Kabupaten Mimika bagian gunung. (ITH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here