Example floating
Peristiwa

GAMKI Papua Soroti Dugaan Keracunan MBG di Depapre, Desak Investigasi Transparan

61
×

GAMKI Papua Soroti Dugaan Keracunan MBG di Depapre, Desak Investigasi Transparan

Sebarkan artikel ini
Yulianus FR. X. Teurupun, S. SOS, MM (Plt Ketua GAMKI Papua)

Paraparatv.id | Jayapura | Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Provinsi Papua menyampaikan keprihatinan atas dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, setelah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Plt Ketua DPD GAMKI Papua, Yulianus FR. X. Teurupun, S.Sos., M.M., mengatakan peristiwa tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah mengingat program MBG bertujuan meningkatkan gizi anak, bukan justru menimbulkan persoalan kesehatan.

Menurut Yulianus, berdasarkan laporan yang diterima GAMKI Papua, para pelajar dari jenjang PAUD, SD, SMP hingga SMK mengalami gejala seperti mual, pusing, muntah, dan lemas setelah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejumlah siswa bahkan harus dilarikan ke Puskesmas terdekat maupun rumah sakit rujukan di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura untuk mendapatkan penanganan medis.

Ia menyebutkan, hingga Kamis (6/8/2026), jumlah korban yang dilaporkan terus bertambah dan diperkirakan telah mencapai lebih dari 200 orang. Namun, angka tersebut masih berdasarkan laporan yang diterima GAMKI dan masih menunggu data resmi dari instansi terkait.

Menyikapi kejadian tersebut, DPD GAMKI Provinsi Papua menyampaikan keprihatinan mendalam dan mengajukan sejumlah pertanyaan kritis kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

GAMKI mempertanyakan efektivitas pengawasan terhadap kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak sekolah. “Di manakah pengawasannya? Apakah standar kebersihan dan kelayakan bahan pangan benar-benar diperiksa sebelum dibagikan kepada siswa?” demikian pertanyaan yang disampaikan GAMKI.

Selain itu, GAMKI mendesak pihak berwenang segera melakukan investigasi secara transparan terhadap penyedia jasa katering maupun dapur umum yang bertanggung jawab atas distribusi MBG di Distrik Depapre. GAMKI juga menuntut adanya evaluasi menyeluruh terhadap rantai pasok makanan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di Distrik Depapre, serta mendorong pemberdayaan pangan lokal sebagai sumber pangan MBG yang disesuaikan dengan konteks daerah.

Berdasarkan kronologi yang disampaikan GAMKI, para pelajar sebagai penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur SPPG Distrik Depapre mulai merasakan keluhan tidak lama setelah menyantap menu MBG atau makan siang di sekolah. Sementara itu, Polres Jayapura telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium guna mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan, apakah disebabkan oleh bakteri, makanan kedaluwarsa, atau kontaminasi bahan kimia.

Dalam tuntutannya, GAMKI menyatakan hak kesehatan anak-anak sebagai penerima manfaat MBG telah terabaikan demi sebuah program yang seharusnya menjadi solusi gizi, bukan malah menjadi sumber penyakit.

“Tujuan MBG menurut pemerintah baik, tetapi nyawa anak-anak tidak bisa dijadikan bahan percobaan. GAMKI menuntut pertanggungjawaban dan jaminan keamanan pangan,” tegas Yulianus.

Hingga pernyataan tersebut disampaikan, proses evakuasi dan pengobatan terhadap para pelajar yang diduga menjadi korban MBG masih terus berlangsung. DPD GAMKI Provinsi Papua juga mengingatkan kepada keluarga agar untuk sementara waktu anak-anak tidak mengonsumsi MBG karena belum ada jaminan keamanan apabila terjadi risiko yang lebih berat.

GAMKI menilai Program MBG gagal dan hanya untuk kepentingan terselubung. Menurut GAMKI, tidak perlu menggunakan SPPG maupun dapur MBG. Anggaran tersebut, menurut organisasi itu, lebih baik diberikan langsung kepada orang tua dalam bentuk beasiswa MBG. GAMKI juga menyoroti bahwa bahan pangan dibeli dari pasar-pasar yang tersebar di Kabupaten Jayapura maupun Kota Jayapura.

Terkait dampak jangka panjang, GAMKI menyebut keracunan makanan yang parah pada anak-anak berpotensi menyebabkan gangguan ginjal kronis, kerusakan saraf, gangguan pencernaan menahun seperti sindrom iritasi usus, hingga trauma psikologis. Meski kasus pada Program MBG umumnya bersifat akut, infeksi berat yang tidak ditangani dengan baik berisiko meninggalkan dampak pada organ tubuh.(Redaksi/VN)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *