Paraparatv. id | Jayapura | Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung stabilitas dan pembangunan di Tanah Papua. Dalam kunjungannya ke Tolikara, perwakilan tinggi Kemenag RI menyampaikan pesan kunci bahwa agama dan tokoh-tokoh gereja memegang peranan sentral sebagai penjaga perdamaian dan kunci keberhasilan pembangunan di Tanah Papua.
Pernyataan ini disampaikan Direktur urusan Agama Kristen Direktorat Jenderal Bimas Kristen Kementerian Agama RI, Luksen Jems Mayor, di tengah upaya pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia di Tanah Papua. Kemenag menilai bahwa pendekatan teknis saja tidak cukup; diperlukan pendekatan kultural dan spiritual yang melibatkan pemimpin-pemimpin kepercayaan masyarakat.
Dalam paparannya, pejabat Ditjen Bimas Kristen RI menyoroti bahwa institusi gereja di Tanah Papua memiliki akar yang sangat kuat dan pengaruh yang luas hingga ke pelosok kampung. “Kami melihat bahwa tokoh-tokoh gereja bukan hanya pemimpin rohani, tetapi juga pemimpin sosial yang dihormati. Mereka adalah mitra strategis pemerintah dalam meredam potensi konflik dan menyebarkan nilai-nilai toleransi,” ujar
Ditjen Bimas Kristen RI Luksen Jems Mayor.
Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pembangunan dan penguatan perdamaian di Tanah Papua melalui sinergi dengan pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, serta seluruh elemen masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Urusan Agama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI, Luksen Jems Mayor, saat menghadiri Dialog dan Festival Budaya Religi Tolikara yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Tolikara bersama Kementerian Agama Kabupaten Tolikara pada 10–13 Agustus 2026.
Dalam dialog bertema “Merawat Kerukunan dari Tolikara untuk Indonesia”, Luksen menegaskan bahwa kerukunan dan perdamaian merupakan kebutuhan bersama yang harus dijaga oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Kerukunan dan perdamaian adalah kebutuhan semua orang, baik anak-anak, perempuan, laki-laki, pemerintah, TNI, Polri, maupun seluruh umat beragama,” tegasnya.
Menurut Luksen, budaya damai harus dibangun secara bersama-sama dan dimulai dari lingkungan terkecil, yakni pribadi dan keluarga, kemudian diperkuat oleh tokoh agama, tokoh adat, pemerintah, serta seluruh komponen masyarakat.
Ia secara khusus menekankan pentingnya peran tokoh agama dan gereja dalam membangun kehidupan masyarakat Papua yang damai sekaligus mendukung proses pembangunan.
“Agama dan tokoh agama atau gereja adalah kunci pembangunan dan perdamaian di Tanah Papua,” ujarnya.
Luksen juga mengajak masyarakat Tolikara, yang dikenal sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah pekabaran Injil di kawasan Papua Pegunungan, untuk terus menjadikan pesan-pesan keagamaan sebagai spirit dalam menghadirkan perubahan, pembangunan, dan kehidupan sosial yang lebih baik.
Di hadapan Bupati Tolikara Wilem WandikWakil dan Wakil Bupati Yotam Wonda, serta jajaran Forkopimda, Luksen mengajak Pemerintah Kabupaten Tolikara menjadikan agama dan gereja sebagai salah satu kekuatan utama dalam membangun masyarakat.
Ia memberikan apresiasi terhadap arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Tolikara yang menempatkan pendekatan religius dan budaya sebagai bagian penting dalam visi dan misi pembangunan daerah.
Dalam dialog tersebut, para tokoh agama juga menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap pendidikan agama serta peningkatan kualitas sarana dan prasarana rumah ibadah.
Menanggapi aspirasi tersebut, Luksen menegaskan bahwa Menteri Agama memberikan perhatian serius terhadap pembangunan bidang agama dan peningkatan sumber daya manusia di Tanah Papua.
Karena itu, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui berbagai program strategis untuk mendukung pembangunan dan meningkatkan kemaslahatan masyarakat Papua, termasuk di Kabupaten Tolikara.
Komitmen tersebut sekaligus menegaskan bahwa pembangunan di Tahap Papua tidak hanya membutuhkan dukungan infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan fondasi kerukunan, perdamaian, nilai-nilai keagamaan, dan keterlibatan aktif para tokoh agama serta seluruh masyarakat.
Dari Tolikara, pesan yang disampaikan Kementerian Agama menjadi pengingat bahwa perdamaian merupakan tanggung jawab bersama dan harus menjadi kekuatan utama dalam membangun masa depan Tanah Papua yang lebih baik.(*redaksi)














