Paraparatv.id | Jayapura | Aktivitas perekonomian masyarakat di Kota Jayapura saat ini menunjukkan dinamika yang dirasakan langsung oleh para pelaku usaha dan pekerja sektor informal. Mulai dari pedagang pasar, penjual pinang, pengemudi ojek daring, hingga sopir angkutan kota, menyampaikan adanya perubahan yang terasa dari sisi transaksi jual beli, jumlah pesanan, hingga jumlah penumpang dalam beberapa waktu terakhir.
Seorang pedagang sayur di Pasar Otonom bernama Diana mengakui kondisi perdagangan saat ini cenderung sepi dan omzet harian tidak menentu serta mengalami penurunan.
“Sekarang ini sepi, ekonomi menurun cukup terasa. Omzet harian berubah-ubah dan tidak menentu,” ujar Diana saat diwawancarai, Jumat (14/8/2026).
Ia juga menyampaikan lonjakan harga sejumlah kebutuhan pangan, di antaranya bawang merah mencapai sekitar Rp65.000 per kilogram, bawang putih Rp60.000 per kilogram, cabai merah besar Rp100.000 per kilogram, dan cabai keriting sekitar Rp70.000 per kilogram.
Kondisi serupa dirasakan Ibu Erik, seorang penjual pinang. Jumlah pembeli menurun drastis, sehingga barang dagangan yang biasanya cepat habis kini butuh waktu lebih lama untuk terjual, diperparah oleh harga sirih yang melonjak mahal.
“Pembeli makin sedikit. Pinang yang kami beli hari ini bisa terjual hingga dua hari. Pendapatan pun berkurang,” ungkapnya.
Harga sirih sempat menyentuh Rp300.000 per kilogram, atau sekitar Rp120.000 hingga Rp130.000 per setengah kilogram tergantung lokasi. Sementara itu, pinang kualitas baik mencapai lebih dari Rp100.000 per kilogram, dan pinang ukuran kecil berkisar Rp50.000 hingga Rp70.000 per kilogram.
Penurunan jumlah pendapatan juga dirasakan Andi, seorang pengemudi ojek daring. Keluhan yang paling terasa adalah menyusutnya jumlah pesanan yang masuk setiap hari.
“Kalau saya lihat, sekarang memang agak menurun. Pesanan tidak seramai sebelumnya. Biasanya dari pagi hingga sore masih banyak, sekarang harus menunggu lebih lama untuk mendapat orderan,” tutur Andi.
Pendapatan harian pun ikut menurun. Bahkan, ia harus memperpanjang jam kerja sekadar untuk menyamai penghasilan yang dulu bisa diperoleh dalam waktu lebih singkat. “Bukan hanya antar penumpang, pesanan makanan pun kadang ikut berkurang,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Jimmy, seorang sopir angkutan kota. Ia mengakui jumlah penumpang kini semakin sepi, dan aktivitas hanya terasa ramai pada jam-jam tertentu, terutama saat jam berangkat dan pulang sekolah.
“Angkot sekarang memang sepi sekali, kecuali pagi hari terbantu penumpang pelajar. Siang hari juga hanya saat jam pulang sekolah, khususnya anak SD dan SMP,” jelas Jimmy.
Di luar jam tersebut, jumlah penumpang sangat sedikit. Kondisi ini diperparah dengan semakin banyaknya masyarakat yang beralih menggunakan layanan ojek daring. “Penghasilan pun ikut sepi. Setelah dipotong setoran dan beli bahan bakar, yang dibawa pulang ke rumah tinggal sangat sedikit,” keluhnya.(VN)














