Paraparatv.id | Biak | Suku Byak adalah salah satu suku di Papua yang mendiami pulau Biak dan sekitarnya, Suku ini merupakan salah satu komunitas suku terbesar di Papua. Bahasa mereka satu dan yang membedakan mereka adalah dialek yang dipakai oleh kelompok- kelompok komunitas dalam suku Byak. Pulau Biak berada di Utara Papua berbatasan langsung dengan Samudara Pasifik.
Salah satu budaya yang terkenal adalah budaya snap mor. Budaya Snap mor merupakan kebiasaan masyarakat beramai ramai melaksanakan pesta menangkap ikan sekaligus sebagai bentuk melestarikan Sumber Daya Alam mereka.
Kegiatan Snap Mor adalah kegiatan menangkap ikan secara tradisional dengan cara memagari sebagian pesisir dengan alat bantu jaring sambil menjaganya sejak air pasang waktu pagi hari atau subu hingga saat air surut atau siang hari. Disaat air surut atau sudah kering dan tinggal sejumlah kolam2, maka saat itulah dipersilahkan semua warga kampung bahkan kampung tetangga untuk mulai menangkap ikan.
“Tradisi ini kami sudh lakukan sejak nenek moyang dan tetap di pertahankan turun temurun” ungkap Kumeser Kafiar salah satu Tokoh Masyarakat Adat Biak Papua.
Kumeser Kafiar yang juga aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara AMAN dan Dewan Adat Papua Biak ini menjelaskan, Sebelum Snap Mor dilakukan, daerah atau lokasi yang ingin dijadikan sebagai tempat Snap Mor harus di Sasi atau di larang.
Pelarangan ini dilakukan beberapa waktu tertentu sehingga tidak ada orang yang melakukan aktivitas penangkapan ikan di lokasi itu. Setelah habis waktu larangan, maka lokasi itu di ijinkan untuk dilakukan aktivitas penangkapan ikan.
Salah satu cara budaya suku Byak menangkapan ikan secara tradisional adalah Snap Mor. Air laut pasang terbesar dan surut terbesar biasanya terjadi pada saat bulan sabit dan pada saat bulan purnama pertama pada musim juni hingga Oktober atau musim air surut terbesar di saat siang hari.
” Snap mor merupakan salah satu cara kegiatan matapencaharian berkelanjutan yang dimiliki suku Byak.” jelas Kumeser Kafiar.
Sebelum masyarakat adat suku Byak mengenal adanya jaring, maka yang dilakukan adalah mengumpulkan sebagian batu karang menjadi tumpuhkan tumpuhkan lalu membiarkan ikan untuk berada dalam tumpuhkan tumpuhkan karang batu tersebut, dan disaat air laut surut, maka masyarakat beramai ramai menangkap ikan yang berada pada tumpuhkan karang batu tersebut. Tumpuhkan karang batu itu yang disebut mor. Lalu dengan adanya pengetahuan jaring maka ditambah dengan kegiatan menjaring atau memagari tepi pantai atau laut dengan jaring maka disebut Snap.
Snap mor dapat dikatakan kegiatan inklusi sosial karena dapat diikuti oleh anak anak, remaja, pemuda pemudi laki- laki dewasa, orang tua maupun yang disabilitas.
Fredrik Morin salah satu Nelayan di Biak mengakui, tradisi Snap Mor merupakan tradisi sakral yang di lakukan pada waktu atau kesempatan tertentu, sehingga kebiasaan masyarakat Adat Biak ini turun temurun terus di lestarikan dalam upaya menjaga keseimbangan alam, yang condong menggunakan alat tangkap moderen, sehingga ini sebagai bagian dalam menjaga alam dan alam memberikan manfaat bagi kita.
“tradisi dan moderen untuk menjaga keseimbangan, sehingga alam juga memberikan manfaat bagi kita manusia ” katanya.
Selain itu tradisi Snap Mor sebagai edukasi kepada masyarakat Adat untuk menjaga lingkungan agar populasi ikan tetap ada untuk memberikan manfaat ekonomi.
Tidak saja sebagai budaya dan tradisi, ini. Juga untuk memenuhi kebutuhan dalam kegiatan -kegiatan besar yang ndi buat oleh masyarakat Adat. (Nesta)