DAP : Pilkada, Perlu Perhatian Serius Stakholder di Raja Ampat.

0
56
Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah III Doberay Papua Barat Paul Finsen Mayor

Paraparatv.id | Waisai  | Kunjungan kerja Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah III Doberay/Papua Barat selama 1 minggu di Waisai, Ibukota Kabupaten Raja Ampat dan kemudian bertemu Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, Kapolres dan Dandim Raja Ampat serta Ketua Klasis GKI Raja Ampat, Tokoh-tokoh Politik Baik dari Kubu AFU -ORI dan Kubu Relawan Kotak Kosong.

Atas nama Masyarakat Adat Papua di wilayah Doberay/Papua Barat Ketua DAP Mananwir Paul Finsen Mayor ingin memberikan Pandangan dan seruan sebagai berikut,

Pesta demokrasi di kabupaten Raja Ampat harus dilihat sebagai sebuah pesta yang harus di nikmati bukan saling menghianati, apalagi saling serang secara Fisik.

“Ada sejumlah Kasus antara lain seperti Kasus Penganiayaan di Kampung Atkari, di Misol Selatan berimbas serangan Balasan dari Kubu Kotak Kosong di Posko AFU-ORI di kota Waisai. Kasus-kasus ini harus segera di proses oleh polres raja ampat jangan dibiarkan menggantung, bisa membias nantinya.” Ujar Paul Mayor dalam Relese yang di terim redaksi Jumat, 27 November 2020

Menurut Ketua DAP Paul Mayor pesta demokrasi ini hanya sementara waktu, kemudian akan kembali seperti semula. maka, kekeluargaan diantara Pendukung Kotak Kosong dan Pendukung AFU-ORI tetap bersaing secara sehat dan mengedepankan kekeluargaan.

” sebagai anak Asli Suku Betew Raja Ampat  saya mengajak masyarakat Raja Ampat untuk mengedepankan kekeluargaan jangan karena perbedaan pandangan politik lalu menghancurkan tatanan kekeluargaan.” tuturnya .

Mayor menambahkan masyarakat  harus berpolitik secara dewasa. pendidikan politik yang masif, terstruktur dan berjenjang harus terus dikampanyekan dan diajarkan kepada masyarakat oleh tokoh-tokoh masyarakat Raja Ampat. Jangan ada politik saling menghujat dan menjatuhkan diantara para pendukung. 

“Sebagai Tokoh Adat saya mengajak Tokoh agama, dan birokrat agar memberikan pandangan-pandangan yang baik kepada masyarakat raja ampat sehingga terciptannya budaya politik yang sehat di kabupaten seribu pulau ini.”imbuhnya

Dirinya meminta agar  politik di Pilkada nanti Jangan jadikan Mimbar-mimbar keagamaan untuk kampanye politik. tapi gunakanlah mimbar-mimbar itu untuk mengutarakan kedamaian, perpolitikan yang sehat dan sejuk sehingga pasca pilkada tidak ada saling serang dan saling menjatuhkan sebab akan berimplikasi pada pembangunan Kabupaten Raja Ampat kedepan.

“kabupaten raja ampat ini awal mula dibangun dengan cucuran keringat dan air mata para pendahulu kita. Tujuannya adalah untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat adat raja ampat. maka hari ini, jangan kita menghancurkan tatanan dan pondasi awal yang sudah ditanamkan dan dibangun oleh para pendahulu kita. mari jaga kekeluargaan dan kedamaian di raja ampat. politik itu sementara saja, beberapa saat saja tapi Keluarga itu Abadi..!”tandasnya.

Melihat Situasi  Pilkada di Kabupaten Raja Ampat yang diindikasi dapat menimbulkan Perpecahan dan Gangguan keamanan dan ketertiban Masyarakat. Maka, dengan ini atasnama masyarakat Adat Papua di Doberay/Papua Barat, Kami mendesak Perhatian Serius Oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat, KPU Papua Barat, BAWASLU Papua Barat, Kodam 18 Cenderawasih, dan Polda Papua Barat.

Kita menginginkan Proses Demokrasi yang sehat dan Netralitas Kinerja Penyelenggara Pemilu maupun Kinerja Aparat Keamanan Oleh sebab itu Kami minta Perhatian Serius dari stakeholders di Provinsi Papua Barat khusus untuk Pilkada Raja Ampat agar pasca 09 Desember 2020 tidak ada Perpecahan dan Gangguan Kamtibmas berkepanjangan di kabupaten raja ampat.(Nesta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here