Marthen Indey, Pejuang Irian Barat Untuk NKRI

0
503
Tugu Marthen Indey di Port Numbay, Kota Jayapura, Papua. (PTV/IndrayadiTH)

Jayapura, Paraparatv.id – Marthen Indey kelahiran 16 Maret 1912 di Doromena (Depapre saat ini), Kabupaten Jayapura, Papua. Lulusan Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat adalah pejuang Irian Barat (Papua saat ini) dari jajahan Belanda. Berkat jasa-jasanya, Marthen Indey diangkat menjadi Pahlawan Nasional tanggal 14 September 1993.

Marthen Indey sebagai Polisi Belanda terketuk hati dan menumbuhkan jiwa Nasionalismenya melawan penjajah dengan mendukung Indonesia. Jiwa nasionalismenya ini muncul ketika dirinya bertugas menjaga tahanan politik Belanda di Digul (Boven Digoel saat ini) yang salah satunya adalah Sugoro Atmoprasojo. Saat itu.

Jiwa nasionalismenya semakin hari semakin kuat, ia bersama anak buahnya sering merencanakan upaya menangkap aparat pemerintah Belanda yang kerap kali gagal. Kegagalan tak menyurutkan semangatnya memperjuangkan Irian Barat (Papua saat ini).

Di tahun 1944, saat ia kembali dari pengungsian di Australia selama tiga tahun, Marthen ditunjuk sekutu untuk melatih anggota Batalyon Papua yang akan difungsikan sebagai tentara pelawan Jepang. Setahun setelah itu, ia pun diangkat menjadi Kepala Distrik Arso Yamai dan Waris (Kabupaten Keerom saat ini) selama dua tahun.

Tugu Marthen Indey di Port Numbay, Kota Jayapura, Papua. (PTV/IndrayadiTH)

Jabatan yang didapatnya itu, tak membuat ia diam saja. Melainkan, ia membangun komunikasi bersama mantan para pejuang Indonesia yang pernah ditahan di Digul (Boven Digoel saat ini) dan merencanakan pemberontakan tuk mengusir Belanda dari Irian Barat. Sayang, usaha mereka gagal, karena tercium oleh Belanda membuat rencananya gagal.

Masih Dalam jabatan Kepala Distrik ini tepatnya tahun 1946, ia ditunjuk sebagai ketua organisasi politik Komite Indonesia Merdeka (KIM) dan dikenal sebagai Partai Indonesia Merdeka (PIM).

Tugu Marthen Indey di Port Numbay, Kota Jayapura, Papua. (PTV/IndrayadiTH)

Saat menjabat ketua inilah ia dan beberapa kepala suku yang ada di Papua menyampaikan protesnya terhadap pemerintahan Belanda yang berencana pisahkan wilayah Irian Barat dari wilayah kesatuan Indonesia.

Ketahuan ia menghianati pemerintahan Belanda, akhirnya Marthen ditangkap aparat Belanda dan membuinya selama tiga tahun di hulu Digul (Boven Digoel saat ini).

Sebelumnya, di tahun 1962 Marthen Indey bergerilya untuk menyelamatkan anggota RPKAD yang didaratkan di Papua selama masa Tri Komando Rakyat (Trikora). Pada tahun yang sama, Marthen menyampaikan Piagam Kota Baru berisi keinginan kuat penduduk Papua untuk tetap setia pada wilayah kesatuan Republik Indonesia.

Tugu Marthen Indey di Port Numbay, Kota Jayapura, Papua. (PTV/IndrayadiTH)

Berkat piagam inilah, Marthen dikirim ke New York untuk melakukan perundingan dengan utusan Belanda tentang pengembalian Irian Barat yang selama ini berada di bawah pemerintahan sementara PBB ke dalam wilayah kesatuan Republik Indonesia.

Dari perundingan tersebutlah, Irian Barat resmi bergabung dengan wilayah kesatuan Rpublik Indonesia dan berganti nama menjadi Irian Jaya dan berkat jasanya, Marthen Indey diangkat sebagai anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) sejak tahun 1963 hingga tahun 1968.

Selain itu, Marthen Indey juga diangkat sebagai kontrolir untuk diperbantukan pada Residen Jayapura dengan pangkat Mayor Tituler selama dua puluh tahun. Marthen meninggal pada usia 74 tahun tepatnya pada tanggal 17 Juli 1986.

Mengenang tanda jasa dan perjuangan Marthen Indey di Bumi Cenderawasih, dan juga untuk mengingatkan kembali kepada pejuang-pejuang di zaman modern saat ini, maka Pemerintah Kota Jayapura telah membangun Tugu Pahlawan Nasional dari Papua yang berdiri kokoh serta indah dipandang mata, tepatnya di pusat Kota Jayapura. (PTV/ITH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here