Legenda Black Brothers, Andi Ayamiseba Berpulang

0
865
Ady Ayemiseba

Paraparatv.id | Jayapura | Kabar duka Bagi Pecinta Black Brothers di Tanah Papua kembali menyelimuti, setelah sang Legenda yang merupakan sosok penting bagi kejayaan Musim Pop Papua Erah 60 an, Andi Ayamiseba di kabarkan Meninggal dunia di Negeri Kangguru Cambera Australia Pada pukul 14.00 Wit Papua dan Pkl.16.00 waktu Australia .

“Sebagai salah satu pencinta berat grup musik The Black Brothers, dan sebagai adik dari Andy Ayamiseba, saya benar-benar terkejut saat tadi mendengar dan melihat berita duka kepergian almarhum untuk selama-lamanya” tutur Adik Alm. Yan Cristian Warinusi dari Manokwari.

Yan Warinusi mengaku   mengenal  almarhum sebagai tokoh Orang Asli Papua (OAP) yang sangat dihormati. Almarhum meninggalkan Tanah Papua sebagai tanah leluhurnya dan merantau ke Jakarta untuk mempopulerkan grup musik Black Brothers. Hingga akhirnya almarhum berkesempatan membawa grup musik legenda Papua tersebut untuk melakukan perjalanan (tour) ke kawasan Pasifik hingga almarhum bersama sejumlah personilnya tidak pernah kembali ke Tanah Papua lagi.

LEGENDA BLACK BROTHERS ADY AYAMISEBA DAN KELUARGA SERTA MUSISI BLACK BROTHERS

“Almarhum menetap di Port Villa, Vanuatu hingga akhir hayatnya. Almarhum sempat dipercayaka sebagai perwakilan senior dari wadah politik Papua bernama United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) atau Koalisi Gerakan Pembebasan untuk Papua Barat) di Port Villa- Vanuatu. Almarhum sangat konsisten kepada perjuangan pembebasan bagi rakyat Papua hingga akhir hidupnya,” Jelas Direktur LP3BH Manokwari Yan Warinusi Mengenang sosok Alm. Andy Ayamiseba

Artikel Oleh : I Ngurah Suryawan (Dosen Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat menegaskan Andy Ayamiseba, pendiri sekaligus manajer BB dengan tajam mengungkapkan bahwa BB bukanlah grup musik biasa. BB adalah band yang mempunyai prinsip dan misi dalam bermusik. Keseluruhan visi tersebut terekspresikan dalam syair-syair lagu BB yang sarat makna sekeligus tajam dalam mengkritik berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Berbagai keputusan-keputusan yang diambil oleh grup ini menunjukkan sikap mereka yang diekspresikan dalam bermusik. Andy Ayamiseba mengungkapkan:

Black Brothers memiliki misi bermusik untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya (Papua) yang selalu dibilang masih terkebelakang. Visi dan misi kedua adalah menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera serta yang ketiga dan maha penting adalah untuk membebaskan bangsanya dari segala bentuk penindasan dari kaum penjajah (Tabloid Jubi, 12 Maret 2014).

Keteguhan prinsip dan visi bermusik itulah yang melegenda dari BB. Saat beberapa personilnya gugur, ingatan mereka kembali menuju masa kejayaan BB yang beberapa lagunya melantunkan kepedihan dan penderitaan rakyat Papua. BB dengan karya-karyanya menjadi oase kerinduan rakyat Papua dan penggemarnya akan hadirnya karya musik yang mencerminkan kejujuran mengungkapkan realitas sosial di tengah masyarakat. Meninggalnya alm. Stevie Mambor menjadi momentum mengembalikan ingatan masyarakat kepada karya-karya BB dan menggalang solidaritas penghormatan terhadapnya.

Seperti yang terjadi pada Senin malam 7 Mei 2018 di kota Manokwari, di sebuah café sederhana, seorang kolega berbisik saat kami sama-sama mendengarkan lagu-lagu band legendaries ini.

”Bagi orang Papua, entah mengapa e, lagu-lagu Black Brothes membuat kami bergetar,” ungkapnya.

Dirinya melanjutkan selain grup musik Mambesak yang mewakili music folk Papua, Black Brothers dan Persipura adalah ikon kebudayaan yang terkenal luas dan mendapatkan tempat di hati orang Papua.

Masa-masa di tengah represi kebudayaan masa rezim otoritarian Orde Baru, ekspresi kebudayaan modern dipangkas agar apolitis terhadap struktur penindasan yang terjadi di tengah masyarakat. Stabilitas sosial politik menjadi “harga mati” untuk menjamin pelaksanaan pembangunan. Ekspresi kebudayaan Papua bagai hantu yang menakutkan bagi kekuasaan. Album kedua “Derita Tiada Henti” dengan lagu hits “Hari Kiamat” dilarang oleh pemerintah untuk ditayangkan di TVRI. Meski demikian album tersebut menjadi album tersukses dari Black Brothers selama berkarir music dari tahun 1976 hingga 1979.

Saya bersama masyarakat Papua di Kota Manokwari malam itu larut bersama lagu-lagu kenangan dari Black Brothers, termasuk bersenandung bersama menyanyikan “Hari Kiamat”. Kami bersama-sama mengenang alm. Stevie Mambor, penggebuk drum band legenda Papua tersebut yang meninggal dunia karena sakit di Canberra, Australia pada Rabu, 18 April 2018. Beberapa lagu-lagu Black Brothers dibawakan oleh para seniman yang menamakan diri mereka Solidaritas Seniman Manokwari (SSM) secara spontan. SSM sendiri adalah komunitas kelompok seniman dan budayawan yang dikoordinasi oleh Anton Krey, Adolof Tapilatu, Samuel Wambrauw, Iriano Awom, Vallen Baransano untuk menyebut beberapa nama. Komunitas ini juga terinspirasi oleh lagu-lagu BB. Di ujung café, layar besar memancarkan foto lima personil BB dengan gaya khas pemuda tahun 1970-1980-an dengan rambut panjang dan celana cut bray. Di atasnya tertuliskan salah satu lagu hits mereka berjudul “Derita Tiada Akhir”.

Lagu ‘Derita Tiada Akhir” adalah judul lagu yang juga merupakan tajuk album kedua mereka. Lagu ini diciptakan oleh Yochy Patipeiluhu. Liriknya menyibak pilu yang dialami rakyat Papua pada masa-masa awal kekuasaan Orde Baru terbentuk.

Derita Tiada Akhir

Cipt : Yochy Patipeiluhu

Vocalis: Hengky MS

Mengapa ini harus terulang kembali

Terluka lagi, tersiksa lagi

Haruskah derita yang selalu ku alami

Di dalam hati tiada akhir

Di mana lagi kan ku jelang

Di mana lagi kemana lagi

Di mana lagi kan ku cari

Penghibur hati ini

Oh Tuhan….

Jauhkanlah diri hamba ini

Dari derita dari sengsara

Semoga bahagia selalu di dalam hati

Tiada derita tiada sengsara

Di mana lagi kan ku jelang

Di mana lagi kemana lagi

Di mana lagi kan ku cari

Penghibur hati ini

Bergantian seniman-seniman di Kota Manokwari menyanyikan lagu-lagu Black Brothers atau lagu lainnya malam itu. Selain itu, kotak donasi juga disebar kepada pengunjung yang ingin memberikan sumbangan untuk membantu keluarga dalam proses pemakaman nantinya. Sampai pada akhirnya tiba giliran Pieter Mambor, adik kandung Stevie Mambor diundang ke atas panggung untuk menyampaikan kesaksiannya. Pieter dikenal juga sebagai seniman di Kota Manokwari mengikuti jejak kakaknya. Ia mengisahkan pada masa kecilnya Stevie sudah memperlihatkan bakatnya di bidang musik, khususnya alat musik drum. Ia mengumpulkan kaleng-kaleng bekas untuk diikat dengan karet menjadi alat musik yang kemudian dia coba mainkan sesuai dengan irama yang didengarnya.

Keluarga Mambor berasal dari Wondama, namun sempat menetap di Serui dan terutama tinggal di Manokwari. Di kota inilah Stevie memiliki lingkungan pergaulan dan melatih bakat bermusiknya secara otodidak. Stevie Mambor adalah putra Wondama (Kabupaten Teluk Wondama) kelahiran tahun 1955. Ia mulai bermain drum sejak usia 6 tahun. Stevie menggeluti dunia musik dengan bermain drum di beberapa grup music hingga bergabung bersama Black Brothers. Pada tahun 1950-1960-an, grup-grup musik tumbuh subur dan mengisi tempat-tempat hiburan di Jayapura memainkan musik-musik berirama rock, rock and rool, hard rock, jazz, blues, pop, hingga ke music keroncong.

Selamat Jalan Legenda Sejati Selamat Jalan Sang Kreator, Jasa mu akan selalu di Kekang sosokmu panutan, menjadi Ispirasi Seniman Papua Untum terus memajukan manusia Papua.(Nesta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here