Example floating
BERITAKABAR KOTA JAYAPURA

Dinas Pariwisata Kota Jayapura Susun Rencana Induk Pembangunan Pariwisata, Dorong Sinergi Lintas OPD

26
×

Dinas Pariwisata Kota Jayapura Susun Rencana Induk Pembangunan Pariwisata, Dorong Sinergi Lintas OPD

Sebarkan artikel ini

Paraparatv.id |JAYAPURA| — Dinas Pariwisata Kota Jayapura menggelar seminar akhir dalam rangka penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPARDA) Kota Jayapura, Jumat, 4 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Jasmine Hotel Jayapura tersebut dibuka langsung oleh Asisten III Setda Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari, yang hadir mewakili Wali Kota Jayapura.

Seminar akhir ini menjadi bagian penting dalam proses penyusunan dokumen perencanaan pembangunan kepariwisataan Kota Jayapura, khususnya untuk memetakan potensi, permasalahan, serta arah pengembangan pariwisata yang lebih terencana dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, dr. Ni Nyoman Sri Antari menekankan pentingnya membangun sinergi dan komunikasi antara Dinas Pariwisata dengan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya maupun berbagai lembaga terkait.

Menurutnya, pengembangan sektor pariwisata tidak dapat dilakukan hanya oleh satu OPD, mengingat sektor tersebut memiliki keterkaitan erat dengan berbagai bidang, mulai dari infrastruktur, transportasi, lingkungan hidup, kebersihan, ekonomi kreatif, kebudayaan, hingga pemberdayaan masyarakat.

“Dinas Pariwisata harus membangun komunikasi dengan OPD lain maupun lembaga-lembaga terkait. Potensi wisata yang ada harus terus diperbaiki, diperbarui, dan dikelola secara baik,” ujarnya.

Ia menegaskan, sinergitas antarlembaga menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan berbagai potensi wisata di Kota Jayapura tidak hanya teridentifikasi, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi destinasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kota Jayapura, kata dia, memiliki kekayaan potensi wisata yang cukup beragam, baik wisata alam, bahari, budaya maupun potensi wisata yang berbasis pada kehidupan dan kearifan lokal masyarakat.

Karena itu, diperlukan perencanaan yang komprehensif agar pengembangan pariwisata tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi memiliki arah yang jelas dan terintegrasi dengan pembangunan Kota Jayapura secara keseluruhan.

“Sinergitas antar-lembaga sangat dibutuhkan. Jangan sampai ada program yang berjalan sendiri-sendiri. Dengan komunikasi dan koordinasi yang baik, potensi yang ada bisa dikembangkan secara maksimal,” katanya.

Ia berharap hasil penyusunan RIPPARDA nantinya tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan semata, tetapi dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan dan program pembangunan pariwisata di Kota Jayapura.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Richar Nahamury, mengatakan seminar akhir tersebut penting dilakukan untuk memetakan sekaligus melihat secara lebih menyeluruh potensi pariwisata yang dimiliki Kota Jayapura.

Menurutnya, pemetaan diperlukan agar pemerintah memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai potensi yang dapat dikembangkan, termasuk berbagai persoalan yang selama ini menjadi kendala dalam pengelolaan destinasi wisata.

“Seminar ini penting karena kita ingin melihat kembali potensi-potensi pariwisata yang ada di Kota Jayapura. Kita harus mengetahui apa yang kita miliki, bagaimana kondisinya, dan apa yang harus dilakukan ke depan,” kata Richar.

Ia mengakui bahwa selama ini masih terdapat sejumlah potensi wisata di Kota Jayapura yang belum dikelola secara optimal. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari keterbatasan pengelolaan, aksesibilitas, fasilitas pendukung, promosi, hingga belum optimalnya keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

Karena itu, penyusunan RIPPARDA diharapkan dapat menjadi momentum untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh terhadap sektor pariwisata Kota Jayapura.

Richar menjelaskan, pengembangan pariwisata ke depan tidak hanya diarahkan pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga bagaimana menciptakan destinasi yang berkualitas, aman, nyaman, memiliki daya tarik, serta mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.

“Potensi kita cukup besar, tetapi kalau tidak dikelola dengan baik, tentu belum memberikan manfaat yang maksimal. Karena itu, kita perlu membangun sistem pengelolaan yang lebih baik dan melibatkan semua pihak,” jelasnya.

Menurutnya, masyarakat yang berada di sekitar kawasan wisata juga harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan kepariwisataan. Keterlibatan masyarakat dinilai dapat memperkuat keberlanjutan destinasi sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui usaha mikro, ekonomi kreatif, kuliner, kerajinan, jasa wisata dan berbagai aktivitas pendukung lainnya.

Selain itu, Dinas Pariwisata juga perlu memperkuat promosi dan pemanfaatan teknologi digital untuk memperkenalkan destinasi wisata Kota Jayapura kepada masyarakat luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Ke depan kita tidak bisa hanya mengandalkan potensi alam. Harus ada inovasi, kreativitas, promosi dan kolaborasi. Semua ini harus masuk dalam arah pembangunan pariwisata Kota Jayapura,” tambahnya.

Ia berharap dokumen RIPPARDA yang disusun dapat memberikan arah pembangunan yang jelas, termasuk menentukan kawasan dan destinasi yang menjadi prioritas pengembangan, strategi pengelolaan, penguatan infrastruktur pendukung, promosi, pemberdayaan masyarakat serta pola kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Dengan adanya perencanaan yang lebih terarah dan dukungan lintas sektor, Pemerintah Kota Jayapura optimistis sektor pariwisata dapat berkembang menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus memperkuat identitas Kota Jayapura sebagai salah satu destinasi wisata di Tanah Papua.

Seminar akhir tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan terhadap dokumen RIPPARDA sebelum nantinya ditetapkan sebagai salah satu pijakan dalam pembangunan kepariwisataan Kota Jayapura. (Arie)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *