Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BERITAEkonomiHeadlineKMAN VIPesona Papua

Festival Ulat Sagu Kampung Yoboi, tradisi dan kuliner khas Papua

269
×

Festival Ulat Sagu Kampung Yoboi, tradisi dan kuliner khas Papua

Sebarkan artikel ini
Seorang ibu rumah tangga di kampung Yoboi Sentani saat membakar sate ulat sagu
Example 468x60

Paraparatv.id | Sentani | Warga Kampung Yoboi turut berpartisipasi dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara Keenam (KMAN VI) melalui Festival Ulat Sagu ke II Tahun 2022.

Diselenggarakan sejak tanggal 25 sampai 27 Oktober kedepan, festival ulat sagu menampilkan kuliner berbahan dasar sagu dan atraksi budaya Papua.

Wakil Bupati Kabupaten Jayapura, Giri Wijayantoro secara resmi membuka festival ulat sagu tersebut.

Dikatakannya, festival ulat sagu sebagai sarana melestarikan tradisi. Selain memiliki banyak fungsi dan bernilai ekonomis, ulat sagu menjadi salah satu menu yang digemari di Papua.

“Bukan hanya sagunya, ada bagian dari sagu yang terbuang yang juga bisa dikonsumsi. Itu proteinnya sangat tinggi dan semoga masyarakat kita rindu akan kuliner sagu,” katanya.

Dirinya berpesan agar pemanfaatan lahan sagu dapat dimaksimalkan warga kampung dan diikuti dengan penanaman kembali pohon sagu.

“Hutan sagu tidak boleh dimanfaatkan untuk permukiman. Kesadaran untuk menanam dan menjaga pohon sagu harus terus dipertahankan, ungkapnya.

Sejak pukul 11 Pagi, Kampung Yoboi mulai terlihat ramai. Para pengunjung begitu antusias melihat langsung proses memanen ulat sagu.

Sementara itu, warga menjajakan kuliner ulat sagu di sepanjang jalan kampung. Ada yang disajikan seperti sate, ada juga yang dimasak dengan olahan bumbu.

“Ulat sagu ini bisa makan mentah, bisa juga dimasak dengan bumbu. Enak, kalau mau coba silahkan,” ujar Delilah Wali sambil memberikan satu tusuk ulat sagu yang telah dibakar.

Delilah Wali merupakan warga Kampung Yoboi. Seperti banyaknya orang Sentani, ia bangga memperkenalkan tradisi dan adat Sentani.

Sambil menunjuk ulat sagu yang dimasak, ia bercerita tentang proses bagaimana ulat sagu dapat dipanen hingga dikomsumsi.

Dikatakannya, proses menghasilkan ulat sagu membutuhkan waktu 3 bulan. Pohon sagu yang sudah ditebang akan dibiarkan membusuk hingga menghasilkan ulat sagu.

“Ulat sagu ini makanan pokok orang Papua, pohon sagu harus harus dibiarkan 3 bulan baru bisa dimakan,” terangnya.

Ketika memasuki bulan Desember warga kampung Yoboi biasanya mulai menokok sagu untuk persediaan bulan Desember.

Kampung Yoboi sendiri merupakan salah satu kampung di Kabupaten Jayapura yang menjadi 50 desa wisata terbaik Indonesia tahun 2021 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia.

Selain melestarikan tradisi orang Sentani, Festival ulat sagu menunjukan potensi ekowisata yang memberikan manfaat ekonomi. (*/KW).

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *