Cegah Varian Baru, Papua PPKM Mikro

0
126
Sejumlah warga saat di periksa kesehatannya sebelum di vaksinasi saat Gebyar Vaksinasi di Kantor Gubernur Papua bulan April 2021 lalu. (Foto: ITH)

Paraparatv.id | Jayapura | Varian baru COVID-19 telah tembus ke Indonesia, sejumlah pemangku kepentingan di Papua, gelar rapat terbatas untuk mencegah hal tersebut guna menentukan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Skala Mikro (PPKM) Mikro di sejumlah daerah Papua.

“Rapat terbatas bersama Presiden kemarin, membahas tentang penanganan covid 19,  karena Jakarta sudah mulai lockdown sehingga kita mengikuti kebijakan nasional,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Papua, Dance Yulian Flassy, Rabu (23/6/2021).

Sekda Provinsi Papua, Dance Yulian Flassy.(Foto: ITH)

Pembatasan aktifitas warga di Bumi Cenderawasih, kata Flassy, kemungkinan besar dilakukan setelah rapat bersama forkopimda.

“Apakah kita akan melakukan semi lockdown, atau lockdown setelah rapat nanti dengan forkopimda yang direncanakan hari jumat 25 Juni mendatang,” kata Flassy.

Varian Delta dari COVID-19 sudah menyebar luas di Indonesia dengan lonjakan total kasus telah mencapai 2 juta jiwa. Varian baru ini merupakan virus dengan gen B1617, pertama kali ditemukan di India pada Desember 2020 silam.

Beberapa bulan setelahnya jenis virus corona baru ini menyebar dengan luas sehingga menimbulkan lonjakan tinggi di India dan bahkan membuat sistem kesehatan disana kolaps. Hingga saat ini, dilaporkan jika varian delta telah menyebar ke 80 negara.

Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M Faqih seperti dilansir dalam artikel www.halodoc.com, Selasa (22/6/2021) mengatakan potensi bahaya dari Virus Corona jenis delta ini sangat tinggi.

Ia juga menyebut jika jenis ini justru banyak menyerang anak-anak muda. Bahkan, serangan yang terjadi dapat langsung menimbulkan dampak dengan gejala berat. Saat alami gejala berat, tingkat kesembuhannya menjadi lebih kecil.

Selain itu, peningkatan kasus COVID-19 akibat varian delta juga terjadi pada anak-anak. Penularan massif ini dipercaya akibat belum adanya program vaksinasi pada anak yang usianya belum mencapai 18 tahun. (Tim Redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here