Example floating
AdvetorialBERITAKABAR KOTA JAYAPURAPeristiwa

Batik Ameldi Perkuat Karya Lokal Lewat Batik Cap dan Tulis, Angkat Motif Kota Jayapura

5
×

Batik Ameldi Perkuat Karya Lokal Lewat Batik Cap dan Tulis, Angkat Motif Kota Jayapura

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo dan Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, M.M., saat berkunjung ke stand IKM Sanggar Seni Ameldi, di Terminal Tipe A Entrop, Jayapura, Jumat (21/8/2026)

Paraparatv.id | Jayapura | Sanggar Seni Ameldi Kota Jayapura terus memproduksi batik Papua melalui batik cap dan batik tulis. Sanggar Seni Ameldi mengangkat motif-motif yang berasal dari Kota Jayapura dan wilayah Tanah Papua.

Pimpinan Sanggar, Joni Silas Wona mengatakan, Batik Ameldi merupakan salah satu komunitas batik yang ada di Kota Jayapura, bersama dengan Batik Asasi, Batik Wanggo, Batik Pokofa dan Batik Ubrani.

“Kami punya nama batik itu Batik Sanggar Seni Ameldi Kota Jayapura. Produksi batik Papua, sewa mahkota dan busana tarian,” kata Joni kepada media saat ditemui pada acara Creative Festival Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kota Jayapura,di Terminal Tipe A Entrop, Jayapura, Jumat (21/8/2026),

Ia menjelaskan, produksi Batik Ameldi saat ini terdiri dari dua jenis, yakni batik cap dan batik tulis. Motif yang digunakan sebagian besar mengangkat kekayaan lokal Kota Jayapura.

“Lebih 70 persen motif yang kami angkat itu motif yang ada di Kota Jayapura, dan 30 persen kami ambil motif yang ada di Tanah Papua,” jelasnya.

Menurut Joni, proses produksi kedua jenis batik tersebut terus dilakukan setiap hari. Batik cap menjadi produk yang saat ini lebih banyak diminati masyarakat karena harganya lebih rendah dibandingkan batik tulis.

Untuk batik cap, harga yang ditawarkan sebesar Rp200 ribu per meter. Sementara batik tulis dengan motif yang jarang dibanderol sekitar Rp250 ribu per meter. Sedangkan untuk batik tulis dengan motif yang lebih padat, harganya dapat mencapai Rp300 ribu hingga Rp350 ribu per meter, karena proses pengerjaannya membutuhkan waktu lebih lama.

“Kalau batik cap satu hari bisa jadi, kalau batik tulis bisa hampir satu bulan juga,” ujarnya.

Joni menuturkan, perjalanan Batik Ameldi sendiri telah dimulai sejak 2009. Kemudian pada 2012 kembali berjalan, sempat mengalami pasang surut, dan pada 2014 mulai bangkit kembali hingga terus bertahan sampai saat ini.

Sementara itu, aktivitas teman-teman pembatik lainnya mulai aktif sejak 2018 melalui binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jayapura.

“Lewat binaan ini kami didorong untuk selalu melakukan aktivitas kami setiap hari,” katanya.

Untuk mendukung kegiatan produksi, Joni saat ini dibantu enam orang. Mereka juga melibatkan beberapa anak-anak sekolah anak orang asli papua dalam kegiatan di sanggar.

Galeri Batik Ameldi berlokasi di Jalan Sumatra, Dok IV Pantai, Kelurahan Mandala, Distrik Jayapura Utara.

Dalam pengembangan kegiatan, Batik Ameldi juga pernah bekerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Dinas Perindustrian dan kementerian terkait. Kerja sama tersebut kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan dan sertifikasi.

“Lewat kegiatan pelatihan ini dari kementerian mereka datang untuk melaksanakan sertifikasi dengan mengirim asesor langsung dari Balai Besar Batik Jakarta,” pungkasnya.(VN)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *