Paraparatv.id |JAYAPURA| — Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 75 Jayapura menjadi ruang baru bagi 86 siswa untuk kembali mendapatkan kesempatan belajar. Mereka terdiri dari 42 siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) dan 44 siswa jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Berada di kompleks Balai Latihan Kerja (BLK) Provinsi Papua, SRT 75 Jayapura tidak hanya menjadi tempat bagi siswa untuk mengikuti proses belajar mengajar, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter melalui kehidupan sekolah dan asrama.
Di antara puluhan siswa tersebut, terdapat kisah Adriana Maria Geofani S, siswi kelas 6 SD yang sebelumnya bersekolah di SD Inpres Tanjung Ria, Jayapura Utara.
Adriana mengatakan banyak perbedaan yang ia rasakan setelah berpindah dari sekolah reguler ke Sekolah Rakyat.
Saat masih bersekolah di sekolah sebelumnya, Adriana mengaku kerap mengalami perundungan karena kondisi ekonomi keluarganya. Keadaan tersebut sempat membuatnya memutuskan untuk berhenti sekolah.
Namun, pada 2025, Dinas Sosial melakukan pendataan dan Adriana kemudian mendapat kesempatan untuk kembali bersekolah melalui SRT 75 Jayapura.
Menurut Adriana, lingkungan pertemanan di Sekolah Rakyat membuatnya merasa lebih nyaman karena para siswa diajarkan untuk saling menjaga dan menyayangi.
“Kalau sekolah reguler di luar pertemanan kurang baik. Kalau di Sekolah Rakyat ini semua berteman dengan baik, saling menjaga satu sama lain. Kalau di luar saling bicara-bicara dan membenci satu sama lain. Kalau di sini kita semua saling menyayangi,” ujarnya.

Tidak hanya dalam hubungan dengan teman, Adriana juga merasakan perubahan dalam dirinya setelah mengikuti pendidikan dan pembinaan di sekolah serta asrama.
Ia mengaku mulai belajar lebih disiplin dan menghormati orang tua.
“Ada perubahan, saya sudah tidak melawan lagi karena kita dididik sama wali asuh dan wali asrama. Kalau di rumah biasa melawan mama dan bapak, tapi di sini ketika liburan saya sudah tidak melawan mama dan bapak,” katanya.
Kini, Adriana kembali memiliki harapan untuk masa depan. Ia bercita-cita menjadi seorang guru.
Kisah serupa tentang kesempatan untuk kembali bersekolah juga dialami Riko Yafet Johan Awom, siswa kelas 9 SMP.
Perjalanan Riko untuk mendapatkan pendidikan tidak mudah. Ia ditinggalkan ibunya ketika berusia lima tahun dan kemudian kehilangan ayahnya saat duduk di kelas 4 SD.
Sebelum bergabung dengan SRT 75 Jayapura, Riko bersekolah di SMP Negeri 6 Jayapura. Namun, kondisi ekonomi membuatnya harus mengambil keputusan untuk berhenti sekolah.
Riko tinggal bersama kakaknya yang telah berkeluarga dan memiliki lima orang anak. Ia melihat kondisi keluarganya yang juga harus memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak.
Dari lima keponakannya, tiga sudah bersekolah dan dua lainnya masih kecil. Kondisi tersebut membuat Riko khawatir biaya pendidikan dan kebutuhan hidupnya justru akan menambah beban keluarga.

“Pilihan itu sangat sulit karena perkara ekonomi. Saya masuk di sini karena kalau masuk di sekolah reguler akan terkendala perkara ekonomi ketika masuk SMA. Selain itu, adik-adik saya masih kecil. Apalagi mereka sudah masuk jenjang sekolah, sudah ada tiga yang SD dan dua masih kecil. Saya takut biaya hidup mereka tidak terpenuhi,” ungkap Riko.
Masuk ke SRT 75 Jayapura kemudian menjadi kesempatan bagi Riko untuk kembali melanjutkan pendidikan.
Selain pelajaran akademik, ia mengaku mendapatkan banyak pembelajaran mengenai kedisiplinan dan kehidupan bersama di asrama.
Menurut Riko, kedisiplinan yang diterapkan di sekolah dan asrama secara perlahan membentuk karakternya menjadi lebih baik.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 75 Jayapura, Abigael Kalami, mengatakan sejak berdiri pada September 2025, jumlah siswa yang terdata mencapai 98 orang.
Namun, tidak seluruh siswa dapat mengikuti pola pendidikan berasrama. Sebelum masuk asrama, para calon siswa menjalani pemeriksaan kesehatan. Dari pemeriksaan tersebut, terdapat sejumlah siswa yang teridentifikasi tuberkulosis (TB), sehingga tidak dapat mengikuti pendidikan dengan pola asrama.
Abigael mengatakan salah satu tantangan yang dihadapi sekolah adalah kemampuan dasar siswa yang beragam. Guru, wali asuh, dan wali asrama harus memberikan pendampingan secara bertahap, terutama bagi siswa yang sebelumnya belum pernah mendapatkan pendidikan formal.

“Tantangannya adalah memberikan pemahaman literasi dan numerasi kepada siswa yang sama sekali belum pernah masuk sekolah,” kata Abigael.
Menurut Abigael, proses pendidikan di SRT 75 Jayapura tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik. Pembentukan karakter, kedisiplinan, kebersamaan, serta pendampingan dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari pendidikan di sekolah tersebut.
Bagi Adriana dan Riko, kembali ke bangku sekolah bukan sekadar melanjutkan pendidikan. Di SRT 75 Jayapura, keduanya kembali menemukan ruang untuk belajar, bertumbuh, dan menata mimpi tentang masa depan. (Arie)














