Paraparatv.id | Jayapura – Gejala El Nino yang mulai terjadi di sejumlah wilayah Indonesia belum memberikan dampak signifikan terhadap pelayanan air bersih di Kota Jayapura. Meski terjadi penurunan debit di sejumlah sumber air, PT Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani (Perseroda) telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.
Direktur Utama PT Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani (Perseroda), Dr. H. Entis Sutisna, S.E., M.M., M.Ak., Ak., CA., CGRM., mengatakan, berdasarkan prediksi BMKG yang dirilis sebelumnya, gejala El Nino mulai dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut turut berdampak pada beberapa BUMD air minum di Indonesia, khususnya di wilayah Maluku, Makassar, dan Jawa Barat yang mengalami penurunan produksi air bersih.
PT Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani saat ini mengelola 23 titik sumber air, terdiri dari tiga sumber air yang berada di wilayah Kabupaten Jayapura dan 20 sumber air di wilayah Kota Jayapura.
Total kapasitas produksi dari seluruh sumber air tersebut mencapai 925 liter per detik. Namun, kondisi saat ini baru memungkinkan sekitar 715 liter per detik yang dapat dimanfaatkan akibat adanya fluktuasi dan penurunan debit di sejumlah sumber air.
“Dari 715 liter per detik yang terproduksi dari 23 sumber air, saat ini juga mengalami penurunan di beberapa sumber air, terutama di intake Entrop, Kamp Wolker, dan Anafre,” ujar Entis kepada media di Jayapura, Jumat (21/8).
Meski demikian, ia menyebut kondisi El Nino di Papua sejauh ini belum terlalu parah. Dalam sepekan terakhir, hujan masih terjadi sekitar dua kali dalam seminggu sehingga cukup membantu menjaga ketersediaan air.
Menurutnya, kondisi ideal untuk memastikan pelayanan air bersih adalah hujan yang turun sekitar empat hingga lima hari dalam sepekan. Namun, dengan masih adanya hujan dua kali dalam seminggu, distribusi air kepada pelanggan masih dapat dibantu.
Untuk menghadapi kondisi kemarau, pihaknya melakukan sejumlah langkah antisipasi. Salah satunya dengan melakukan pemagaran di beberapa area sumber air guna membatasi aktivitas masyarakat di sekitar sumber air.
Hal tersebut dilakukan karena masih ditemukan masyarakat yang menggunakan tampungan air pada sumber air sebagai lokasi mandi atau berenang, padahal air tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan pelayanan air bersih masyarakait.
“Kemudian kami juga melakukan pemagaran di area sumber air. Untuk sementara di Kamp Wolker sebelah kiri tidak kami fungsikan. Air sekarang kami maksimalkan di sebelah kanan dengan harapan tidak lagi ada masyarakat yang melakukan aktivitas berenang di Kamp Wolker,” jelasnya.
Selain pemagaran, tim teknis di enam cabang pelayanan juga melakukan pemeliharaan rutin dan pemantauan terhadap sumber-sumber air selama musim kemarau.
Pembersihan dilakukan di area intake karena material dari kawasan hutan, seperti pepohonan dan batang kayu kering, dapat masuk ke sumber air dan menghambat aliran sungai, khususnya di bagian mulut pipa.
Untuk mengantisipasi masuknya pepohonan dan dedaunan, pihaknya juga memasang strainer di seluruh area sumber air.
Di sisi lain, optimalisasi pelayanan dilakukan dengan mengidentifikasi dan memperbaiki kebocoran pada jaringan pipa utama. Sebelumnya, terdapat dua titik kebocoran yang diperbaiki, yakni di Pancakarsa dan Jalan Alternatif Perumnas 3.
Perbaikan kebocoran pipa Kojabu berukuran sekitar 450 milimeter juga disebut memberikan dampak terhadap peningkatan kapasitas produksi. Debit air yang masuk hingga ke wilayah terjauh, terutama Pasir 2, kini sudah dapat dimaksimalkan.
Ia menegaskan, dampak El Nino terhadap pelayanan air bersih di Jayapura sejauh ini belum terlalu terasa karena berbagai langkah antisipasi telah dilakukan oleh tim teknis.
“Bisa dikatakan dampak El Nino belum begitu terasa karena kami sudah melakukan antisipasi-antisipasi dari teman-teman teknis di lapangan,” katanya.
Pihaknya juga masih akan melakukan pemantauan secara intensif pada September hingga Oktober. Hal ini menyesuaikan dengan prediksi BMKG yang menyebut kondisi diharapkan kembali normal setelah Oktober.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, PT Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani juga membentuk personel yang bertugas sebagai satuan tugas antisipasi kekeringan.
Selain itu, sebanyak lima armada mobil tangki disiagakan untuk mengantisipasi gangguan pelayanan di wilayah yang terdampak kekeringan. Saat ini terdapat empat titik pengambilan air untuk mobil tangki, yakni di TMB, kawasan Kota Juang, kantor pusat, serta Skyland yang dapat dimanfaatkan apabila terjadi kondisi darurat.
Dengan berbagai langkah tersebut, PT Air Minum Jayapura Robongholo Nanwani berharap pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan optimal meskipun Jayapura menghadapi kondisi kemarau dan potensi dampak El Nino.(VN)














