Paraparatv.id | AGATS | Keterbatasan akses air bersih yang puluhan tahun dirasakan masyarakat Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan, kini mulai teratasi. PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menyalurkan bantuan berupa fasilitas dan teknologi desalinasi air bersih untuk Masjid Saiful Al-Bukhori serta warga sekitar.
Mesin pengolahan air modern berkapasitas produksi hingga 2.200 liter per hari ini mampu mengolah air sumur bor yang sebelumnya payau dan keruh menjadi air tawar jernih, tidak berbau, serta tidak berasa. Fasilitas ini hadir untuk menjawab tantangan geografis wilayah Agats yang didominasi area rawa-rawa dan perairan payau.
Sebelum adanya bantuan PLN, Masjid Saiful Al-Bukhori terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli air galon demi memenuhi kebutuhan minum jamaah, terutama saat gelaran kegiatan keagamaan berskala besar. Air sumur bor yang ada sebelumnya tergolong keruh dan tidak nyaman digunakan untuk berwudu maupun konsumsi harian.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Saiful Al-Bukhori, Burhan Ar Rahman, menyampaikan rasa syukurnya atas solusi yang diberikan oleh PLN. Bantuan ini kini berdampak langsung pada sekitar 200 jiwa, termasuk jamaah, santri, dan warga sekitar.
“Alhamdulillah, dengan adanya bantuan mesin pengolahan air dari program TJSL PLN, air dari sumur bor yang sebelumnya belum layak diminum kini dapat diolah menjadi air yang bersih. Bantuan ini sangat mendukung kenyamanan jamaah dalam beribadah serta menekan biaya operasional masjid. Kami berkomitmen untuk merawat dan mengoperasikan mesin ini dengan baik agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ungkap Burhan.
Dampak positif kehadiran mesin desalinasi ini juga dirasakan langsung oleh warga Kampung Baru, Distrik Agats. Selama ini, warga sangat bergantung pada air hujan. Ketika musim kemarau tiba, warga terpaksa mencari sumber air alternatif atau membeli air bersih dengan harga tinggi.
Ottouw G. Mirino (40), warga Kampung Baru, Distrik Agats, menceritakan perubahan signifikan setelah fasilitas pengolahan air ini beroperasi. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya warga hanya mengandalkan air hujan atau mengambil air dari masjid yang kualitasnya masih keruh, serta terpaksa berhemat dan membeli air mahal saat musim kemarau.
“Puji Tuhan, setelah ada mesin dari PLN, kami sekarang lebih mudah mendapatkan air bersih yang layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Bantuan ini sangat membantu, terutama bagi anak-anak dan orang tua. Semoga program TJSL dari PLN terus berlanjut dan menjangkau wilayah lain yang masih kesulitan air,” tutur Ottouw.
General Manager PLN UIW Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur menegaskan bahwa bantuan ini merupakan wujud nyata kehadiran negara melalui PLN. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tidak hanya di sektor kelistrikan.
“PLN menyadari bahwa akses air bersih adalah kebutuhan dasar yang sangat krusial, terlebih di wilayah dengan kondisi geografis yang menantang seperti Agats. Melalui program TJSL ini, kami berharap kehadiran teknologi desalinasi dapat meringankan beban ekonomi warga, meningkatkan taraf kesehatan, dan mendukung kenyamanan beribadah. Ini adalah komitmen nyata PLN dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam menjamin ketersediaan dan pengelolaan air bersih yang berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Roberth.
Melalui fasilitas desalinasi berbasis keberlanjutan ini, PLN berharap sinergi dengan masyarakat Asmat dapat terus terjalin dengan baik. Program ini sekaligus diharapkan mampu menurunkan risiko timbulnya penyakit akibat krisis air di daerah terpencil.(*)














