Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BERITAKABAR SENTANI

Kapolres Jayapura : Jangan Lagi Bergantung Pada Beras

218
×

Kapolres Jayapura : Jangan Lagi Bergantung Pada Beras

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Paraparatv.id | Sentani | Kapolres Jayapura, AKBP Fredrickus Maclarimboen berharap agar seluruh masyarakat di Kabupaten Jayapura tidak terlalu bergantung pada beras.

Karena menurutnya saat ini, harga beras yang merupakan salah satu komoditi pangan paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat sedang meroket harganya.

Hal ini disebakan karena Kabupaten Merauke yang merupakan pemasok beras untuk 6 Provinsi di Tanah Papua mengalami gagal panen.

Sehingga saat ini, pemerintah terpaksa harus mendatangkan beras dari luar Papua. Hal itulah yang menyebabkan harga beras di Papua saat ini cukup tinggi.

Hal ini disampaikannya saat menghadiri Kegiatan Baku Bicara yang dilaksanakan di Obhee Kampung Putali, Distrik Ebungfau, Jumat (06/10).

Oleh sebab itu, Kapolres mengajak seluruh masyarakat untuk dapat kembali mengkonsumsi makanan lokal.

Dikatakan Kapolres, sebenarnya tidak ada yang beda antara pangan lokal dan beras.

Oleh sebab itu dirinya mengajak masyarakat untuk dapat merubah mindset bahwa makan sagu bisa bisa kenyang.

“Mindset selama inikan, kalau tidak makan nasi tidak kenyang. Nah ini yang harus kita ubah. Makan sagu saya kenyang” kata Kapolres.

Lebih jauh dikatakan Kapolres, makanan lokal seperti Sagu, Keladi, Petatas dan lain sebagainya memiliki jumlah karbohidrat yang lebih rendah dari pada beras.

Sehingga pastinya lebih sehat, ketimbang beras yang jumlah karbohidratnya jauh lebih tinggi.

“Kalau terlalu sering makan nasi juga kurang baik, karena kita bisa saja kena penyakit gula” ungkap Kapolres.

“Bisa juga diselingi, hari senin makan nasi, selasa papeda, rabu keladi dan seterusnya” tambahnya.

Karena menurut Kapolres, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi semua jadi serba instan termasuk dengan penyajian makanan.

Penyajian makanan yang saat ini menggunakan teknologi belum tentu bisa menjamin kualitas kesehatannya.

Berbeda dengan olahan makanan yang masih dilakukan secara tradisional maupun semi tradisional.

“Dan kami melihat di Distrik Ebungfau khususnya di Kampung Putali ini tidak ditemukan adanya stunting, karena pengolahan makanan di setiap keluarga pastinya sangat baik sehingga hal itu tidak ditemukan” ucapnya.

Kapolres berharap apa yang saat ini sudah dipertahankan oleh masyarakat Distrik Ebungfau, sekiranya dapat terus di pertahankan.

Karena ini merupakan hal yang baik untuk membentuk generasi Papua untuk masa depan. (Arie)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *