Example floating
Example floating
BERITAKesehatanPeristiwa

Sosok Frengky Pangguem, kepedulian dan tekad melawan Malaria di Negeri Tapal Batas

334
×

Sosok Frengky Pangguem, kepedulian dan tekad melawan Malaria di Negeri Tapal Batas

Sebarkan artikel ini
Frengky Pangguem, Kader Juru Malaria Desa (JMD) dari Kampung Akarinda, Distrik Yaffi, Kabupaten Keerom.
Example 468x60

Paraparatv.id | Keerom | Ada cukup banyak kader Juru Malaria Desa (JMD) yang tersebar di pelosok Kabupaten Keerom.

Dari 416 orang kader JMD, Frengky Pangguem merupakan satu diantaranya yang mengabdikan pelayanannya memberantas malaria di Negeri Tapal Batas.

Frengky Pangguem adalah penduduk asli Kampung Akarinda, Distrik Yaffi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua.

Pribadi Frengky yang energik dan murah senyum itu tetap penuh semangat membelah hutan Keerom yang berliku.

Frengky bercerita pengalamannya menjadi kader malaria. Ada rasa syukur setiap kali ia berjuang membantu masyarakat di kampungnya agar sembuh dari sakit malaria.

“Saya berjuang bagaimana masyarakat di desa Akarinda itu sehat, itu yang saya kerjakan sebagai kader malaria,” katanya ketika ditemui di selah aktivitasnya usai mengikuti evaluasi program malaria, Selasa (4/7/2023).

Meski aral melintang, ia bersedia melayani sepenuh hati tanpa adanya dukungan fasilitas kesehatan seperti Pustu.

Jalan menuju kampung Akarinda bisa ditempuh menggunakan mobil Strada 4×4. Jika dimulai dari Arso Kota, perjalanan bisa memakan waktu antara 3 sampai 4 jam ke Kampung Honda sebagai tempat transit.

Selanjutnya dari Kampung Honda ke Kampung Akarinda dilalui dengan berjalan kaki karena medan yang tidak mendukung.

“Jarak dari Puskesmas Yaffi ke kampung saya itu sekitar 16 kilo, paling cepat 1 hari jalan kaki, kalau lambat ya 2 hari,” jelasnya.

Frengky bangga dengan apa yang ia kerjakan, walaupun hanya diberikan insentif sebesar Rp. 500 ribu setiap bulannya.

Kehadirannya sebagai kader rompi ungu di kampung Akarinda semakin hari mendapat respon positif dari masyarakat.

Frengky mengaku karena kondisi alam dan akses jalan yang sulit maka laporan pemeriksaan malaria biasanya dikumpul setiap 3 bulan.

Laporan tersebut dibawa Frengky dengan berjalan kaki ke Puskesmas Yaffi agar dikumpulkan ke nakes pendamping.

Baginya, menyeberangi kali maupun mendaki gunung merupakan hal yang biasa dan menjadi rutinitas sehari-hari.

“Intinya bagi saya kerja itu bukan karena uang, motivasi kerja karena uang nanti pekerjaan tidak akan selesai,” kalimat itu diucapkan Frengky dengan rasa bangga.

Banyak hal menarik yang dilakukannya, selain pemeriksaan, ia juga memastikan agar obat malaria yang diberikannya diminum sampai habis ketika ada masyarakat yang sakit.

Ia pun sering mengingatkan pemakaian kelambu anti nyamuk, serta mengeluarkan biaya pribadi dari insentifnya untuk keperluan form laporan program dan logistik.

Bahkan, ia pernah berjalan kaki memikul 1 karung berisikan 50 lembar kelambu ke kampungnya.

Alasannya hanya ingin memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat kampung Akarinda. Sekaligus pelaporan dapat tetap berjalan dengan baik.

“Walaupun nakes atau kendaraan tidak bisa jangkau, saya tetap berikan pelayanan yang terbaik,” ucapnya.

Frengky sadar, bila proses pelaporan tidak tercatat maka dia dan kader lainnya tidak bisa diberikan obat untuk dibawa ke kampungnya untuk melayani masyarakat.

“Laporan harus saya buat sebelum dikumpulkan ke nakes pendamping, baru bisa diberikan obat dan Rapid Diagnostik Test (RDT),” terangnya.

Frengky mengemban amanat sebagai kader JMD pada tahun 2020, dimana ia menjadi kader JMD pertama di Kampung Akarinda.

Frengky menaruh asa agar semangat pelayanan kader JMD terus dijaga dan semakin berdampak bagi masyarakat Keerom.

Frengky yang mengabdikan pelayanan di kampungnya itu membawa bekal ilmu dari Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) Keuskupan Jayapura yang berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom. (KR).

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *