Bupati Tabuni: Pemda Intan Jaya Fokus Urus Persoalan Daerah, Bukan Blok Wabu!

BUpati Intan Jaya, Natalis Tabuni, SS., M.Si
banner 120x600

Paraparatv.id | Jayapura | Bupati Intan Jaya, Natalis Tabuni, mengatakan belum terima ada surat undangan audiens bersama Komisi VII DPR RI terkait eksploitasi tambang emas blok wabu Kabupaten Intan Jaya, Papua yang bakal digelar di ruang rapat Komisi VII DPR RI, Gedung Nusantara 1 Lantai 1 pada hari Rabu (9/2/2022).

“Surat audiens itu ada kasih ke siapa? Kita pemerintah daerah sedang urus masalah di daerah, jangan memperkeruh suasana dengan urus urus blok Wabu,” kata Bupati Senin (7/2/2022).

Dikatakan, dalam surat undangan tersebut ditujukan kepada Ketua Tim Advokasi Hak Masyarakat Adat Intan Jaya, agar hadir bersama perwakilan DPR Papua, Majelis Rakyat Papua (MRP), Pemerintah Daerah Intan Jaya dan DPRD Kabupaten Intan Jaya dalam audiens bersama Komisi VII DPR RI.

“Ya, saya sebagai kepala pemerintahan sama sekali belum menerima surat undangan tersebut. Kami saat ini pemerintah daerah sedang focus dengan persoalan di daerah,” ujarnya.

Menurut Bupati Intan Jaya, persoalan blok Wabu itu urusan pemerintah pusat dan gubernur. Karena ada rekomendasi dari gubernur kan (Surat Rekomendasi tentang wilayah Izin usaha pertambangan khusus yang disingkat WUPK Blok B Wabu Kabupaten Intan Jaya dengan No. Surat 540/11625/SET yang diterbitkan pada tanggal 24 Juli 2020 di Jayapura-red).

“Jadi, tidak ada tembusan kepada kami bupati dan bupati tidak punya kewenangan mengeluarkan surat ijin dan lain – lain,” tegas Bupati Natalis Tabuni.

Bupati Natalis tidak menolak apabila diajak duduk bersama untuk berdiskusi dan akan mewakili pemerintah serta masyarakat Kabupaten Intan Jaya.

Dimana konflik antara TPN/OPM dengan TNI POLRI, tugas Pemerintah daerah  adalah sedang urus masyarakat yang mengungsi karena takut.

Sekarang Pemerintah daerah hampir hampir tidak melakukan aktifitas di Intan Jaya karena bunyi senjata setiap kali, kapan saja bisa terjadi di Intan Jaya.

“Diharapkan kelompok – kelompok tertentu jangan mengatasnamakan masyarakat Intan Jaya. Masyarakat Intan Jaya dalam posisi sekarang tertekan dalam konflik dan juga mengungsi di Timika dan di Nabire. Jadi kelompok kelompok tertentu jangan mengatasnamakan masyarakat Adat Intan Jaya,” katanya

“Jadi, posisi kami seperti itu. Kami tidak muluk muluk berpikir yang lebih jauh tapi toh karena itu kewenangan Negara maka kalau ada arahan petunjuk teknis misalnya kalau dari Pemerntah daerah harus seperti apa ya kami siap untuk mengakomodir dan mengamankan kebijakan itu,” jelasnya.

Soal Blok Wabu

Bupati Natalis menjelaskan terkait perkembangan penambangan di Blok Wabu dari sisi Pemda, yang mana sampai saat ini masih ada pertantangan dari masyarakat terkait izin penambangan ini.

“Kalau kami Pemerintah daerah sedang tunggu petunjuk pelaksanaan dan juga tindak lanjut daripada Surat yang sudah diterbitkan oleh Pak Gubernur kepada lembaga yang katakan bahwa Investor yang sedang mau masuk di Intan Jaya,” kata Bupati.

“Pada prinsipnya kami Pemerintah daerah siap akan akomodir kalau sejauh operasional itu dilanjutkan sesuai dengan perundang – undangan yang berlaku dan itu memberikan manfaat kepada Negara dan kepada masyarakat,” sambungnya.

Blok Wabu sendiri luasan tata ruang yang telah ditanda tangani oleh Pemerintah Intan Jaya adalah 48.000 hektar dikarenakan terjadi penciutan diantara bekas eksplorasi anak perusahaan milik PT Freeport. Termasuk juga di Kabupaten Paniai ada beberapa tempat yang dipersempit yang luasannya mencapai 17.000 hektar.

Dikutip dari okefinance.com bahwa Blok Wabu di Intan Jaya, Papua, diduga memiliki potensi kandungan emas yang lebih besar dari tambang grasberg Freeport Indonesia. Blok ini disebut-sebut menjadi rebutan para pengusaha setelah dikembalikan Freeport Indonesia ke pemerintah sebelum 2018.

Holding perusahaan tambang Mining and Industry Indonesia atau MIND ID pernah menyampaikan wilayah tambang terbuka tersebut memiliki potensi emas yang diperkirakan mencapai 8,1 juta ounces. Meski sempat masuk ke dalam wilayah kerja (Blok B) PT Freeport Indonesia di kontrak karya, Blok Wabu belum sempat ditambang sebelum diserahkan kembali kepada pemerintah.

Hal itu tentu saja membuat MIND ID dan PT Aneka Tambang Tbk. tertarik dan menyatakan kesiapannya untuk mengelola blok tersebut. Antam sebagai anak perusahaan MIND ID pun telah menyatakan komitmennya untuk menggandeng badan usaha milik daerah (BUMD) jika dipercaya sebagai pengelola Blok Wabu.

Dalam kesempatan lain, MIND ID juga menyampaikan bahwa hasil penghitungan sumber daya pada 1999 untuk kategori measured, indicated, dan inferred terdapat sekitar 117,26 juta ton dengan average 2,16 gram per ton emas.

Freeport Indonesia sebelumnya memastikan menarik diri terhadap pengelolaan Blok Wabu di Papua kendati diklaim memiliki kandungan yang menjanjikan.

Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan Blok Wabu adalah salah satu wilayah dalam Blok B dikontrak karya yang lalu. Perusahaan telah melakukan eksplorasi blok dengan wilayah total 200.000 hektare tersebut, tetapi memutuskan tidak tertarik untuk melakukan penambangan.

“Kenapa? Bukan karena Wabu tidak berpotensi, tetapi kami fokus di Grasberg [Block Cave],” kata Tony, dikutip dari Solopos.com, Minggu (26/9/2021).

Dia menuturkan, telah melepas dan menyerahkan kembali Blok Wabu kepada pemerintah sebelum 2018. Pemerintah secara resmi menyatakan dalam Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pada 21 Desember 2018 bahwa wilayah tambang Freeport hanya 9.900 hektare, yang dulu dikenal dengan Blok A.

Tony menambahkan, Blok B sudah tidak ada lagi. Adapun, sisanya hanya wilayah penunjang seluas 116.000 hektare. Freeport pun memastikan tidak memiliki kepentingan apapun di Blok Wabu lagi. Perusahaan menegaskan tidak memiliki kepemilikan ataupun hak untuk menambang di wilayah tersebut.

Dia menjelaskan biaya eksplorasi Blok Wabu mencapai USD170 juta yang dikeluarkan secara kumulatif pada periode 1996-1997. Kandungan di dalamnya terdapat emas dan tembaga.

“Saya enggak bisa disclose, ada copper and gold. Enggak sebesar Grasberg,” ujarnya ketika ditanya mengenai detail kandungan Blok Wabu.

Bila mengacu data Kementerian ESDM 2020, Blok Wabu menyimpan potensi sumber daya 117,26 ton bijih emas dengan rata-rata kadar 2,16 gram per ton (Au) dan 1,76 gram per ton perak. * (Er)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *