Example floating
BERITAKABAR KOTA JAYAPURAPeristiwa

Dinas Perikanan Jayapura Dorong Budidaya Ikan Air Tawar dan Minta Penanganan Limbah Teluk Youtefa Diperkuat

14
×

Dinas Perikanan Jayapura Dorong Budidaya Ikan Air Tawar dan Minta Penanganan Limbah Teluk Youtefa Diperkuat

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Perikanan Kota Jayapura, Metheys Sibi

Paraparatv.id | Jayapura — Dinas Perikanan Kota Jayapura mendorong pengembangan budidaya ikan air tawar menggunakan kolam terpal di Kampung Nafri sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan, memenuhi kebutuhan gizi, serta memperkuat ekonomi keluarga Orang Asli Papua (OAP).

Kepala Dinas Perikanan Kota Jayapura, Metheys Sibi, mengatakan pengembangan tersebut dapat didukung melalui dana Otonomi Khusus (Otsus) dengan memanfaatkan potensi lokal dan ketersediaan lahan yang tidak bermasalah.

Menurutnya, pengembangan usaha perikanan selama ini dilakukan dengan skema berbasis kawasan. Namun, melihat kondisi Kampung Nafri, budidaya ikan air tawar menggunakan kolam bak terpal atau kolam bulat terpal dapat menjadi alternatif yang perlu didorong.

“Prinsipnya, kami bisa membantu. Dengan melihat kondisi yang ada di Kampung Nafri ini, ke depan bisa kita dorong pengembangan budidaya air tawar menggunakan sistem kolam bak terpal dengan memanfaatkan lahan yang ada,” ujar Metheys ujar kepada media, di sela-sela kegiatan reses Dewan Perwakilan Rakyat Kota Jayapura, Ferdinand Hanuebi, S.E. Dapeng II Kampung Nafri, Selasa (27/10).

Ia menegaskan, salah satu syarat utama dalam pengembangan tersebut adalah tersedianya lahan yang tidak berkonflik sehingga program dapat berjalan dengan baik.

Selain budidaya ikan air tawar, Dinas Perikanan Kota Jayapura juga tengah mengembangkan budidaya lobster air tawar menggunakan kolam terpal. Program tersebut berpeluang dikolaborasikan untuk mendukung peningkatan ekonomi keluarga di Kampung Nafri.

“Ini bisa kita kolaborasikan untuk mendukung peningkatan ekonomi keluarga di Kampung Nafri,” katanya.

Selain pengembangan ekonomi masyarakat, Metheys turut menyoroti persoalan sampah dan limbah yang berdampak terhadap masyarakat adat di kawasan Teluk Youtefa, termasuk Kampung Nafri.

Ia menilai masyarakat kampung di kawasan tersebut turut menanggung dampak aktivitas di darat yang menyebabkan sampah dan limbah masuk ke perairan teluk.

Karena itu, menurutnya, diperlukan keseriusan Pemerintah Kota Jayapura, terutama instansi teknis terkait, untuk melakukan langkah nyata dalam mengurangi limbah yang masuk ke Teluk Youtefa.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memasang jaring atau perangkat penyaring di saluran-saluran masuk menuju teluk guna menahan sampah sebelum mencemari perairan.

“Ini menjadi perhatian serius pemerintah kota, terutama instansi teknis. Perlu ada langkah-langkah aksi nyata, terutama menjaga saluran masuk ke teluk dengan membuat jaring atau semacamnya untuk mengurangi limbah yang masuk ke Teluk Youtefa,” jelasnya.

Metheys mengatakan, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena masyarakat adat di kawasan Teluk Youtefa, khususnya nelayan, sangat bergantung pada laut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sementara itu, kondisi sumber daya ikan yang mengalami penurunan turut memengaruhi aktivitas penangkapan ikan dan penghidupan masyarakat nelayan.

“Realitas yang kita temui hari ini adalah sumber daya ikan mengalami penurunan akibat dampak aktivitas tersebut. Karena itu, diperlukan sinergi dan keseriusan pemerintah kota, terutama instansi teknis,” ujarnya.

Ia mengingatkan, apabila persoalan limbah tidak ditangani secara serius, dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat nelayan yang menggantungkan penghasilan pada hasil laut.

Sebagai bagian dari upaya memulihkan ekosistem dan mendukung ketersediaan sumber daya ikan, Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Perikanan telah melakukan pelepasan rumah ikan di sejumlah titik.

Menurut Metheys, upaya tersebut dinilai efektif untuk mendukung pemulihan ekosistem sumber daya ikan. Selain itu, keberadaan rumah ikan juga berpotensi menjadi daya tarik wisata baru, khususnya bagi masyarakat yang memiliki hobi memancing.

Ia berharap program serupa dapat dikembangkan di Kampung Nafri untuk mendukung pemulihan sumber daya ikan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

“Yang sudah dilakukan Pemerintah Kota melalui Dinas Perikanan adalah pelepasan rumah ikan. Ini cukup efektif di beberapa titik sebagai upaya pemulihan ekosistem sumber daya ikan sekaligus menjadi spot wisata baru untuk memancing. Ke depan, kalau bisa dilakukan di Kampung Nafri, tentu akan jauh lebih baik,” katanya.

Berbagai persoalan tersebut menjadi bagian dari aspirasi masyarakat yang disampaikan dalam kegiatan reses tahap II Dewan Perwakilan Rakyat Kota Jayapura, Ferdinand Hanuebi, S.E. Dapeng II Kampung Nafri dan Kampung Koya Koso.

Kegiatan reses tersebut menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan kebutuhan dan persoalan yang mereka hadapi secara langsung kepada wakil rakyat serta instansi pemerintah terkait.

Melalui pertemuan itu, masyarakat berharap berbagai persoalan, terutama pencemaran limbah dan penurunan sumber daya ikan, mendapat perhatian serius serta ditindaklanjuti sesuai kewenangan masing-masing pihak.

Metheys berharap pemerintah semakin serius melindungi masyarakat adat yang tinggal di kawasan Teluk Youtefa, khususnya nelayan Orang Asli Papua yang menggantungkan kehidupan pada potensi laut.

Ia juga menaruh harapan terhadap Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan Nelayan Orang Asli Papua yang digagas DPR Kota Jayapura agar dapat menjadi instrumen perlindungan bagi masyarakat adat dalam menjaga dan memanfaatkan potensi laut secara berkelanjutan.

“Harapan kami, pemerintah lebih serius, khususnya dalam memproteksi masyarakat adat yang ada di teluk ini. Dengan adanya Perda Perlindungan Nelayan Orang Asli Papua yang digagas oleh dewan, kami berharap ini bisa menjadi benteng bagi masyarakat asli untuk menjaga potensi laut,” tutupnya.(Redaksi)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *