Replika Cenderawasih Dari Limbah Sabuk Kelapa

Mahkota replika Cenderawasih karya Sanggar Mitra Gaharu, Jumat (22/10/2021). (Foto: ITH)
banner 120x600

 

Paraparatv.id | Jayapura | Ada yang unik di salah satu stan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) pada semarak Pekan Olahraga Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua, yang berlangsung di halaman kantor Otonom Kotaraja, Kota Jayapura, Jumat (22/10/2021), berikut ulasan dari tim paraparatv.

Burung Cenderawasih di bumi Mutiara Hitam ini semakin langka, juga perburuan yang tinggi bersamaan dengan perusakan hutan sebagai hunaian burung tersebut masih terus berlangsung. Ditambah lagi dengan burung surga ini dijadikan sebagai pelengkap aksesoris dan cinderamata, mulai dari bagian-bagian kepala, tubuh hingga bulu cenderawasih.

Jika hal ini terus berlangsung, sangat pasti burung cenderawasih tersebut akan hilang dari Tanah Papua tercinta. Dengan adanya rasa cinta dan dorongan hati kecil untuk menjaga kelsetarian burung tersbeut, Gubernur Papua Lukas Enembe telah mengeluarkan surat edaran pada Juni 2017 dengan Nomor  660.1/6501/SET soal larangan penggunaan burung cenderawasih sebagai aksesoris dan cinderamata.

Melihat pada semarak Peparnas XVI Papua, dari 23 UMKM terdapat beberapa stan yang menonjol dari ribuan karya seni anak negeri. Terlihat dari kejauhan beberapa topi mahkota burung cenderawasih dan burung kasuari, semakin dekat mata anda tertuju ke benda tersebut, dan anda akan dibuat terpukau akan karya seni dari Sanggar Mitra Gaharu.

Replika Cenderawasih di stan Sanggar Mitra Gaharu, Jumat (22/10/2021). (Foto: ITH)

“Awalnya saya lihat lekukan-lekukan sisa sabuk kelapa tua, dan muncul ide membuat sebuah bulu kasuari sisa sabuk kelapa, kemudian saya buatkan sebuah mahkota menyerupai mahkota bulu kasuari, ternyata indah,” kata Sutarno ke media paraparatv.

Pria yang pernah mengenyam pelatihan dari Dinas Pariwisata Provinsi Papua ini tertarik dan terdorong membuat mahkota replika burung cenderawasih, untuk memberikan inspirasi kesemua seniman di Papua, agar sama-sama menjaga kelestarian burung cenderawasih.

“Ternyata mudah sekali membuatnya, semua orang bisa membuatnya. Hanya manfaatkan sisa sabuk kelapa tua, bisa dibuat beberapa replika burung cenderawasih,” ujarnya.

Ditempat yang sama, Ketua Harian Peparnas XVI Papua Doren Wakerkwa kagum dan bangga melihat karya-karya dari UMKM yang turut memeriahkan semarak Peparnas tersebut.

“Terbukti hari ini saya bisa melihat langsung bahwa hasil karya mama mama Papua sangat sangat luar biasa,” kata Doren.

Karya yang dipamerkan pada semarak Peparnas Papua ini , lanjut Doren, semuanya berasal dari hasil Tanah Papua dan harus terus dikembangkan.

“Di masa mendatang, ukiran dan hasil karya mama Papua yang hari ini berada di kantor Otonom harus terus dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan,” ujarnya.

Terlepas dari ada even maupun tidak, sejumlah pelaku seni juga mengajak seluruh masyarakat bersama-sama pemerintah menjaga kelestarian kehidupan burung cenderawasih, dan bersaing sehat menjual hasil karya seni masing-masing. (Kris/ith)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *