Polda Papua Gelar FGD, Bersama Stakolder Terkait, Penanganan Dampak Pandemi Covid-19 dan Tatanan Sosial Di Papua

0
34
Foto Bersama FGD yang digelar Polda Papua

Paraparatv.id | Jayapura | Direktorat Binmas Polda Papua menggelar Fokus Diskusi Group (FGD) melibatkan Sakeholder terkait, dalam Penanganan Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Tatanan Sosial di Papua .

Kegiatan FGD yang berlangsung  di Ballroom II Hotel Horison Kotaraja, Rabu, 4 November 2020,  Polda Papua Bersama Direktorat Binmas Polda Papua dan  Stakeholder terkait dengan tema “Dampak Pandemi Covid – 19 Terhadap Tatanan Sosial di Papua”.

Direktur Binmas Polda Papua Kombes Pol Aris Purbaya, S.IK dalam kesempatanya mengatakan Covid-19 menjadi realitas penyakit yang mengubah struktur sosial masyarakat perilaku sosial berubah begitupun kohesi sosial cara kebiasaan tata kelakuan dan adat istiadat turut beradaptasi.

Upaya – upaya menghadapi pandemi covid 19 sudah dilakukan yang menjadi pertanyaan adalah Sampai kapan masyarakat dengan berbagai sektor kehidupannya harus hidup dalam masa ketidakpastian, ketidaknyamanan dan ketidakamanan dari situasi pandemic mengingat saat ini pun belum ditemukan vaksin atau obat untuk penyembuhan para korban yang terinfeksi covid 19.

”Bahkan para ahli kesehatan memprediksi pandemi covid 19 masih akan berlangsung hingga tahun kedepan menjawab situasi dan kondisi yang terjadi maka tatanan kehidupan normal baru atau nilai normal menjadi alternatif strategi.” Ujar Dir Binmas  Kombespol. Aris Purbaya, S.IK, Rabu, 4 November 2020.

Lanjut Kombespol Aris Purbaya, Tatanan yang normal merupakan transformasi perilaku hidup di masyarakat untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan menerapkan protokol kesehatan sampai ditemukannya vaksin yang dapat menyembuhkan para korban yang terinfeksi covid 19.

Terlepas dari perdebatan istilah tatanan yang normal secara sosiologis sama dengan istilah adaptasi hidup darurat pandemi normal dimaksudkan agar berbagai sektor kehidupan yang tadinya tersendat bahkan berhenti dapat sedikit bergerak kembali.

“Dengan kata lain adaptasi hidup darurat penemu sebagai upaya meredam laju tingkat kerentanan sosial di masyarakat yang tidak menentu.” Katanya

Kerentanan sosial menjadikan posisi ketahanan masyarakat mengalami guncangan akibat pandemi covid 19 ketahanan masyarakat berkaitan dengan kemampuan dari masyarakat untuk dapat menggunakan sumber daya yang tersedia seperti teknologi makanan pekerjaan dan rasa aman nyaman dalam memenuhi kebutuhan dasar dan menjalankan fungsi sosialnya.

Namun kondisi saat ini justru menjadikan ketahanan masyarakat mengalami kerontokan sosial membuat produktivitas menurun mata pencarian terganggu dan munculnya gangguan kecemasan sosial di masyarakat.

Jika skenario new normal menjadi pilihan sambil menunggu vaksin covid 19 ditemukan, maka kolaborasi dari semua pihak menjadi syarat wajib, tidak hanya pemerintah tetapi masyarakat pun harus menjalankan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan jika tidak ada kolaborasi, kasus terinfeksi covid 19 akan semakin parah peningkatan ekspor yang diprediksi oleh para ahli kesehatan.

“ Saya ingin menyampaikan bahwa kegiatan focus group discussion ini yang merupakan bagian dari bentuk kolaborasi untuk menentukan langkah bijak yang harus dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat agar situasi menjadi lebih baik.” Imbuhnya.

Akademisi Entar Sutisman (Dosen Universitas Yapis Papua),  menambahkan   Pandemi Covid – 19 dan Tatanan Sosial Maasyarakat, awal tahun 2020 dunia (Indonesia) diguncang oleh suatu penyakit mematikan yang disebabkan oleh Virus Corona atau Covid – 19.

Menurut Ketua WHO Tedros Adhanom Gebreyesus dalam suatu pertemuan di Jenewa dimana Covid – 19 merupakan singkatan dari Co (Corona), Vi (Virus), D (Disease) yang artinya penyakit sedangkan 19 adalah tahun penemuannya di Kota Wuhan, Cina pada 31 Desember 2019.

“ Upaya pemerintah melalui peraturan dan kebijakan sangat berpengaruh terhadap segala sektor, termasuk perekonomian dan kehidupan sosial dalam masyarakat. Bahwa covid – 19 sangat memoengaruhi kehidupan sosial masyarakat dimana timbulnya rasa curiga dan kehilangan rasa kepercayaan serta rasa toleransi.” Tambahnya 

Sebelum adanya covid – 19 ini masih adanya gotong royong dengan mengumpulkan warga kampung namun wabah covid 19 membuat kegiatan tersebut tidak ada lagi karena timbul rasa curiga, hilangnya kepercayaan, rasa takut pada keramaian dan perkumpulan keramaian. Enggan berjabat tangan saat ini mengharuskan kita untuk menghindari berjabat tangan dan harus menjaga jarak kurang lebih 2 meter.*(Nees)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here