Jangan Lupakan Sejarah Port Numbay (2)

0
156
Kampung Enggros (Foto: Indrayadi TH)

Penulis: Indrayadi TH

Jayapura, – Port Numbay atau Kota Jayapura sebagai ibukota provinsi Papua, terletak di ujung timur Indonesia bagian Barat Daya Samudera Pasifik Selatan khatulistiwa. Berikut ulasan lengkapnya yang berhasil dihimpun redaksi.

Pulau dan gunung-gunung di dalam Teluk Humboldt dan Teluk Youtefa seperti Pulau Janus yang dikenal saat ini Metu Debi, Pulau Slavante (Injemoch), Suidkerbrond (Gunung Mer), Pulau Mathilde (Missioditj), Pulau Magdalena (Kayu Pulau dan Meturau), Pulau Meeuwen (Pun), Pulau Muskiten (Sibir), dan Hagenaars hoek atau dikenal dengan Tanjung Juar.

Bulan September 1883 selama tiga hari dari tanggal 5-7, Residen D.F. Van Bram Morris mengunjungi Kampung Tabati Injros (saat ini Kampung Tobati dan Enggros) gunakan kapal ‘Sing Tjin’. Morris serahkan bendera Belanda serta Tidore.

Dua tahun kemudian, 17 Mei 1885, antropolog Jerman O. Finsch datang menggunakan kapal ‘Samoa’ kunjungi Kampung Tabati Injros. Di tahun 1892, kata Mebri, datang orang Inggris bernama William Doherty. “William ini penghimpun jenis-jenis hewan menyinggahi Teluk Humboldt dan Teluk Youtefa, tinggal di Pulau Metu Debi Kampung Tobati Injros,” kata Mebri.

Pada tahun yang sama juga, lanjutnya, William Doherty menemukan Danau Sentani lewat Zedeling G.L Bink, memohon ijin kepada Harsori Numadic dalam Bahasa Tobati Injros Sansaoyi (Sentani) dan mengimbau jangan pergi itu tempat orang-orang jahat atau daerah konflik dan peperangan.

“Saat Zendeling G.L Bink tiba di Metu Debi 3 April 1892, saat itu kembali ke Yende Roon Wasior dan membawa kedua pemuda Tobati Injros yaitu Waro Wasa Itaar dan Padai Hamadi. Dua pemuda ini langsung dibaptis bersama setahun kemudian pada 29 Mei di Yende Roon Wasior,” katanya.

Ada tiga hal positif yang dapat dipegang saat Pdt G.L Bink ada di Teluk Youtefa. Pertama, kampung-kampung adalah cukup besar dan penduduknya suka menetap di suatu tempat. Kedua, tidak ada pengacauan dan perbudakan. Ketiga, orangnya tidak mengenal tuak (minuman keras lokal).

Pendeta G.L Bink tak terima dan melaporkan hal itu ke UZV di Belanda agar Negara tersebut mengirim seorang guru ke teluk Youtefa. Mebri kembali jelaskan bahwa utusan zending G.L Bink kembali lagi ke Teluk Youtefa dan melakukan perjalanan ke Sentani 16 Mei 1895 di batas wilayah Papua (saat itu masih dikuasai Belanda) dan Papua New Guinea (Inggris) dinyatakan dalam Staatsblad van Nederlandsch- Indie 1895 No. 220 dan 221.

Ketika pada  1897 zendeling F.J.F van Hasselt datang dari Mansinam bersama rombongan Residen Ternate D.W. Herst dan seorang Pangeran dari Tidore. Rombongan ini tiba di Pulau Metu Debi menggunakan kapal ‘Borneo’ di tahun ini juga Residen mengangkat putra Yantewai Hamadi sebagai kepala Suku Tabi menggantikan ayahnya.

Tepat di tahun 1900, J.M Dumas mendirikan pangkalan khusus ‘Para Dijsvogeljacht’ (bulu burung cenderawasih) di Metu Debi dan tiga tahun kemudian expedisi Wichmann tiba di Metu Debi selama empat bulan dari 13 Maret hingga 13 Juli 1903 dan untuk anda ketahui bahwa perjalanan Wichmann ini dibiayai Treub Institut dan gunakan kapal ‘G.S.S. Zeemeeuw’.

Rombongan yang ikut dalam expedisi guna penyelidikan yakni Prof. Dr. A Wichmann ahli di Geologi, H.A Lorentz. J. Van der Sande sebagai tim kesehatan, L.F de Beaufort yang ahli dibidang kehewanan (Zoologie), Mas Djipja dari kebon Raya Bogor sementara Prof.Dr. John khusus penyelidikan bidang Kesehatan.

Masih dari pecahan-pecahan data yang saya rangkum. Tahun 1906 Pemerintah Nederlandsch Nieuw Guinea P.Windhouwer ditempatkan ke Pulau Metu Debi sebagi ‘Post Houder’ sesudah kunjungan Wakil Gubernur Pemerintahan Jerman Nieuw Guinea E.Krauss. Penempatan P.Windhouwer terutama didasarkan sebagai persiapan penentuan perbatasan antara Nederlands Nieuw Guinea dan Nieuw Guinea Jerman. (Bersambung 3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here