Karimin Si Pria Tiga Zaman

0
210
KARIMIN

Paraparatv.id | Keerom | Karimin, pria berusia 108 tahun habiskan masa tuanya di Arsopura, Distrik Skanto, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Tiga zaman ia lalui, pada zaman modern saat ini tak menyurutkan semangatnya seperti masa muda yang telah dilaluinya. Pesan beliau hanya satu, jangan pernah lupakan masa lalu.

Karimin kelahiran 1913 silam, dipenuhi suka duka, pahit manis kehidupan yang dilaluinya. Sejak berusia belasan tahun lalu, ia turut berjuang bersama rakyat Indonesia, beranjak dewasa menginjak usia 20-an, pria paruh baya ini telah melanglang buana se-antero Tanah Jawa. Gerilya di hutan Tanah JAwa pada masa penjajahan Jepang dan Belanda telah ia lalui.

Kini, pria payuh baya memiliki delapan cucu dan tiga cicit hendak habiskan masa hidupnya di Arsopura, Distrik Skanto, Kabupaten Keerom. Sejak menempati rumah transmigrasi tahun 1985 bersama almarhum istrinya yang telah meninggal sekitar empat tahun silam, ia pun hanya menyibukkan diri mengurus ternak sapi miliknya.

KARIMIN SAAT MELAKUKAN AKTIVITAS MENCARI MAKANAN TERNAK

Dua kali sehari dirinya berjalan kaki menempuh jarak sekitar satu hingga dua kilometer untuk mencari rumput buat sapi peliharaannya. Tak terkikis dengan zaman modern saat ini, mudahnya transportasi dan komunikasi. Pria ini tetap melakukan aktifitas seperti dulu kala.

Hidup sendiri tak menyurutkan semangat bekerja, pesan yang paling menonjol darinya kepada pemuda pemudi saat ini yaitu hargai dan cintai hidup ini seperti mencintai Sang Pencipta yang telah memberikan kesempatan untuk hidup di dunia.

KARIMIN USAI MENCARI PAKAN TERNAK

“Sejak Presiden Soekarno sampai Presiden Joko Widodo ini, bagi saya yang berubah hanyalah usia. Karena hidup itu keras, apabila dijalani dengan sabar pasti tak terasa keras,” kata Karimin, Rabu 19 Februari 2020.

Dirinya juga mengaku sudah sejak berapa tahun terakhir telah mempersiapkan semua saat meninggalkan dunia ini. Seperti mempersiapkan patok kuburan, kain kafan, meja untuk memandikan jasadnya nanti serta perlengkapan lainnya.

KARIMIN

Pengakuannya terhadap kemandirian, janganlah karena ada keluarga terus memanjakan diri kepada mereka di hari tua. Menurutnya, semuanya harus tetap berusaha mandiri di hari tua dan jangan merepotkan anak, cucu bahkan cicit. Hingga kini, rumah miliknya dibersihkannya sendiri tiap harinya dan kebahagiannya ini menjadi cermin inspirasi bagi cucu-cucunya.

“Saya tak mau tinggal di rumah anak saya. Saya lebih suka tinggal sendiri, setelah istri saya meninggal beberapatahun lalu. Karena sejak kecil saya diajarkan orang tua untuk mandiri, apalagi saat itu suasana perang disana sini,” kata pria yang masih kuat bekerja sendiri.

Sembari menggoreng ikan, ia juga mengaku hanya seekor kucing yang menemani dirinya saat makan maupun bersantai didalam rumah. Suara ternak miliknya seperti ayam dan sapi, menjadi pengingat dirinya saat berada di Tanah Jawa.

KARIMIN SAAT MELAKUKAN AKTIVITAS

“Di sini (rumah) saya hanya punya kucing, sapi dan ayam. Memang saya sudah tak kerja bangunan lagi. Kalau dulu setelah perang dan Indonesia merdeka tahun 1945, saat di Jawa saya bekerja sebagai buruh bangunan untuk hidupi keluarga,” kata pria yang disiplin waktu ini.

Ia pun mengaku tak akan meninggalkan Tanah Papua hingga akhir hayatnya, karena telah mencintai Bumi Cenderawasih ini dan juga anak, cucu bahkan cicit semuanya ada di Kabupaten Keerom.

“Saya mau kemana lagi, anak-anak disini (Arsopura) kok, kalau anak-anak saya pulang ke Jawa, yah saya mau pulang juga. Disana (Jawa) saya ada tanah juga,” ujarnya.

Ely, salah satu cucunya mengaku mbah Karimin selalu menceritakan pengalaman hidupnya kepada keluarga dan terus-menerus mengingatkan dirinya untuk tetap menghargai hidup ini.

“Mbah saya ini masih kuat bekerja, dan tak mau merepotkan kami mas. Mbah juga tak mau tinggal bersama kami, karena suka hidup sendiri di rumah tran yang mbah punya,” kata Ely.

KARIMIN

Pesan dari Mbah Karimin kepada anak-anak penerus Bangsa Indonesia adalah selalu bersyukur dan manfaatkanlah kehidupan di zaman serba ada saat ini. Dikatakannya, zaman penjajahan Belanda dulu sangat susah.

Kesaksian Mbah Karimin pada dulu kala Sekolah tingkat pertama (SMP) dan Sekolah menengah atas (SMA) tak ada dan masyarakat pribumi tak diperbolehkan belajar pada zaman Jepang dan Belanda dulu. Di zaman serba bisa dan ada saat ini, pesannya pemuda pemudi penerus bangsa harus lebih berjuang meneruskan tumpah darah pahlawan dengan membangun daerah masing-masing dalam bingkai NKRI. (ITH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here