Paraparatv.id | Jayapura — Sebanyak 15 kader dari tiga puskesmas di Kota Jayapura mengikuti Pelatihan Kader Kusta yang diselenggarakan Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Papua bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peran kader dalam menemukan gejala kusta sejak dini, meningkatkan edukasi kepada masyarakat, serta mendorong pengobatan dan pencegahan penularan di lingkungan keluarga.
Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari, yang mewakili Wali Kota Jayapura, mengapresiasi keterlibatan Dompet Dhuafa sebagai mitra pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, LKC Dompet Dhuafa tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan gratis, tetapi juga aktif melakukan penyuluhan di sekolah dan masyarakat serta memberikan bantuan makanan tambahan.
Ia menilai keterlibatan berbagai pihak dapat mendorong masyarakat lebih proaktif memeriksakan kondisi kesehatan, termasuk ketika menemukan gejala yang mengarah pada kusta.
“Kusta ini lambat tapi pasti. Kalau kita biarkan, lama-lama bisa menjadi kontraktur dan menyebabkan kecacatan. Kalau ditemukan sejak awal dan diobati, kusta bisa sembuh,” jelasnya.
Ni Nyoman mengatakan, penemuan kasus pada anak juga perlu mendapat perhatian serius karena dapat menjadi indikator masih adanya penularan di lingkungan keluarga.
Karena itu, menurutnya, pemeriksaan perlu dilakukan secara menyeluruh hingga tingkat keluarga untuk memastikan kasus dapat ditemukan dan ditangani lebih awal.
“Ini harus kita sisir, benar-benar kita cari keluarga demi keluarga. Makanya informasi ini penting. Melalui teman-teman media juga bisa disampaikan betapa pentingnya masyarakat memeriksakan diri,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat tidak mengabaikan bercak pada kulit atau benjolan yang tidak terasa, karena salah satu ciri khas kusta adalah hilangnya rasa pada bagian kulit yang terkena.
“Kalau masyarakat merasa seperti itu, cepat-cepat diperiksa. Jangan sampai kusta. Kalau ternyata bukan kusta, kita tinggal obati penyakit lainnya. Tapi kalau kusta dibiarkan lama-lama bisa menyebabkan cacat,” ujarnya.
Ni Nyoman juga menyoroti masih adanya stigma terhadap penderita kusta yang kerap dikaitkan dengan penyakit kutukan. Menurutnya, stigma tersebut justru dapat menghambat penderita untuk mendapatkan pengobatan.
“Penyakit ini bisa disembuhkan. Jadi berdoa sambil berusaha. Jangan ada lagi stigma bahwa kusta adalah kutukan,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Jayapura, hingga September 2026 tercatat 563 orang sedang menjalani pengobatan kusta, 234 kasus merupakan kasus baru yang ditemukan sepanjang tahun berjalan.
Ni Nyoman menyebut tingginya temuan kasus juga menunjukkan pentingnya upaya penemuan aktif yang dilakukan pemerintah bersama para mitra.
Ia berharap penemuan dan pengobatan dapat dipercepat sehingga target eliminasi kusta di Kota Jayapura dapat terus didorong.
“Kalau tahun 2026 ini kita temukan, kemudian 2027 sudah selesai diobati, kita berharap 2030 bisa eliminasi. Jadi memang harus disisir, jangan sampai ada satu kasus yang terlewat,” ujarnya.
Pemerintah Kota Jayapura, kata Ni Nyoman, tidak dapat bekerja sendiri dalam menangani persoalan kesehatan masyarakat. Karena itu, kolaborasi dengan lembaga sosial, masyarakat, hingga rumah ibadah dinilai penting untuk memperluas edukasi kesehatan.
“Pemerintah tidak bisa kerja sendiri. Kita harus lebih aktif lagi, bukan saja dengan mitra kami, tetapi juga dari rumah-rumah ibadah. Di masjid, di gereja, di pura dan sebagainya. Kita belajar untuk proaktif. Kerja sama lintas sektor ini yang harus terus kita lakukan,” pungkasnya.
Sementara itu, Koordinator LKC Dompet Dhuafa Papua, Tumijan, mengatakan pelatihan tersebut merupakan penyegaran bagi para kader yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan serupa.
Menurutnya, terdapat tiga materi utama yang diberikan, yakni pelaporan digital, komunikasi efektif, serta pencegahan stigma terhadap penderita kusta.
“Kita latih kader supaya punya kemampuan bagaimana mencegah stigma sehingga masyarakat mau berobat. Karena ketika ada yang sakit, bisa jadi karena stigma masyarakat takut dikucilkan oleh keluarga,” jelas Tumijan.
Ia mengatakan, stigma masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kusta. Karena itu, kader diharapkan mampu memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat bahwa penderita kusta yang telah menjalani pengobatan tidak seharusnya dikucilkan.
Pelatihan diikuti 15 kader dari tiga puskesmas, masing-masing lima kader, yakni Puskesmas Abepura, Puskesmas Hamadi, dan Puskesmas Jayapura Utara.
Tumijan menyebut ketiga puskesmas tersebut dipilih karena memiliki cukup banyak kasus kusta. Selain pelatihan, Dompet Dhuafa juga memberikan dukungan berupa pemberian makanan tambahan (PMT) dan paket kebersihan pribadi kepada 195 penerima manfaat dari tiga wilayah puskesmas tersebut serta Paket hygiene kit seperti sikat gigi, sabun mandi dan sabun cuci.
Sementara itu, Wasor Kusta dan Frambusia Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Dorkas Elly, SKM, mengatakan kegiatan pelatihan berlangsung selama dua hari dan difokuskan pada kemampuan kader mengenali tanda-tanda awal kusta.
“Kader akan belajar bagaimana mengenali bercak. Karena kader ini yang lebih banyak bersentuhan dengan masyarakat. Kalau melihat ada bercak apapun, silakan kasih tahu. Nanti petugas yang menegakkan diagnosis,” jelas Dorkas.
Dorkas mengatakan, data hingga September 2026 menunjukkan sebanyak 563 kasus kusta sedang menjalani pengobatan. Angka tersebut dinilai cukup tinggi karena pada tahun-tahun sebelumnya jumlah sekitar 500 kasus biasanya baru tercatat hingga akhir tahun.
“Ini termasuk tertinggi sekali. Baru sampai triwulan kedua sudah mencapai 500 lebih yang berobat,” ujarnya.
Ia menyebut kasus lebih banyak ditemukan pada laki-laki dewasa, sementara jumlah kasus pada anak tercatat sebanyak 106 kasus.
Menurut Dorkas, kegiatan skrining atau penemuan aktif sangat membantu dalam menemukan kasus lebih cepat. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak.
Dorkas juga mengajak masyarakat membantu menghilangkan stigma terhadap kusta dan mendorong penderita segera mendapatkan pengobatan.
“Kusta itu tidak seperti yang ada dalam pikiran masyarakat. Kalau tidak berobat memang bisa menyebabkan kecacatan. Karena itu kita harapkan penemuan secara dini, kemudian diobati. Keluarga juga diperiksa semuanya. Anggota keluarga yang memiliki kontak dengan penderita dapat diberikan obat pencegahan sesuai ketentuan dan dosis yang ditetapkan tenaga kesehatan,”ungkapnya.(VN)














