Paraparatv.id | Jayapura | Sampah plastik masyarakat di Kota Jayapura diolah menjadi berbagai produk kerajinan tangan bernilai ekonomi. Mulai dari dompet, gantungan kunci, bunga hias, vas bunga hingga tempat tisu dibuat dengan memanfaatkan barang-barang bekas.
Kerajinan daur ulang tersebut menjadi salah satu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal Kota Jayapura yang ditampilkan dalam ajang Jayapura Fair 2026 yang digelar Dinas Pariwisata Kota Jayapura pada 12–17 Agustus 2026.
Pengrajin daur ulang, Friska Engelina Elmas, mengatakan produk yang dibuatnya memanfaatkan berbagai barang bekas yang dikumpulkan dari lingkungan masyarakat.
“Kerajinan tangan dari daur ulang ini saya buat dari barang-barang bekas. Botol plastik, penutupnya, terus ada sendok-sendok plastik, kaleng-kaleng bekas, koran bekas, kertas HVS bekas, sama sachet-sachetan yang biasa mama-mama jual minuman sachet,” ujar Friska kepada media di Jayapura, Sabtu (15/8).
Ia mengatakan telah menekuni kerajinan daur ulang sejak 2018 dan terus menjalankan usaha tersebut hingga saat ini.
Menurut Friska, terdapat sekitar 25 jenis produk yang dihasilkan, mulai dari produk berukuran
kecil hingga besar. Gantungan kunci menjadi produk terkecil, sementara sofa dari botol plastik menjadi produk dengan ukuran paling besar.
“Kerajinan yang paling kecil itu gantungan kunci. Yang paling besar itu sofa dari botol plastik. Kalau itemnya itu mungkin sekitar 25 item,” katanya.
Harga produk yang ditawarkan juga bervariasi. Gantungan kunci menjadi produk dengan harga termurah, yakni Rp25 ribu, sedangkan sofa dari botol plastik dapat dijual hingga Rp3 juta per set.
“Gantungan kunci Rp25.000, terbuat dari sachetan plastik minuman kopi. Satu gantungan kunci terbuat dari 24 sachet. Yang paling besar biasanya sofa botol plastik, satu set kami biasa jual Rp3 juta,” jelasnya.
Ia menyebutkan produk kerajinan tersebut mendapat respons cukup baik dari masyarakat, termasuk sekolah, pejabat pemerintahan dan BUMN yang berkunjung dalam berbagai kegiatan pameran.
“Untuk peminatnya sendiri lumayan dari sekolah-sekolah. Biasanya pejabat-pejabat kalau ada pameran-pameran begitu pasti mampir beli. Seperti sofa botol plastik yang paling banyak diambil dari pejabat pemerintahan dan BUMN,” ungkap Friska.
Untuk bahan baku, Friska memanfaatkan barang bekas yang diperoleh dari Bank Sampah Waniambey Kota Jayapura, teman-teman, hingga masyarakat sekitar.
“Kebetulan kami juga di Bank Sampah Waniambey Kota Jayapura. Jadi biasa ambil barang dari Bank Sampah, terus dari teman-teman. Ada beberapa mama-mama yang saya ambil dari pinggir jalan. Daripada dibuang begitu saja, lebih baik saya ambil, saya cuci, terus bisa diproduksi untuk bisa diuangkan,” tuturnya.
Selain sampah plastik, koran bekas juga dimanfaatkan untuk membuat produk kerajinan, khususnya pohon Natal. Untuk satu pohon Natal berukuran besar dengan tambahan lampu, produk tersebut dijual sekitar Rp250 ribu dan membutuhkan sekitar 45 hingga 50 kilogram koran bekas.
“Kalau koran khusus Natal kami biasa produksi pohon Natal. Pohon Natal modelnya agak besar, harganya Rp250.000 kalau pakai lampu. Itu biasanya sampai sekitar 45 kilo sampai 50 kilo koran,” pungkasnya.
Produk UMKM berbasis daur ulang tersebut tidak hanya menjadi bagian dari promosi usaha lokal, tetapi juga menunjukkan bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk kreatif dan menghasilkan nilai ekonomi. (VN)














