Example floating
AdvetorialBUMN

Tak Hanya Selamatkan Mamoa, Konservasi di Pantai Wauwo Kini Hadirkan Harapan Baru bagi Penyu dan Ekosistem Pesisir Halmahera

4
×

Tak Hanya Selamatkan Mamoa, Konservasi di Pantai Wauwo Kini Hadirkan Harapan Baru bagi Penyu dan Ekosistem Pesisir Halmahera

Sebarkan artikel ini
Tampak warga menunjukan hasil Program konservasi berbasis masyarakat menunjukkan Sebanyak 20 tukik berhasil menetas di Pantai Wauwo, Desa Mamuya, Kabupaten Halmahera Utara

Paraparatv.id | Jayapura | Komitmen menjaga kelestarian lingkungan melalui program konservasi berbasis masyarakat kembali menunjukkan hasil positif. Sebanyak 20 tukik berhasil menetas di Pantai Wauwo, Desa Mamuya, Kabupaten Halmahera Utara, menjadi simbol keberhasilan kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

Sebanyak 20 tukik atau anak penyu berhasil menetas. Momen sederhana itu menjadi simbol bahwa alam mulai merespons berbagai upaya pelestarian yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat bersama para pendamping konservasi.

Keberhasilan ini terasa istimewa karena setahun sebelumnya, seluruh upaya penetasan semi alami telur penyu di kawasan tersebut belum membuahkan hasil. Tidak ada satu pun telur yang berhasil menetas. Namun kegagalan itu tidak menghentikan semangat masyarakat Desa Mamuya untuk terus belajar dan memperbaiki metode konservasi yang mereka lakukan.

Bagi Garda Multi Gosango dan Sukasimon, warga yang terlibat langsung dalam pengelolaan kawasan konservasi Pantai Wauwo, pengalaman tahun 2025 justru menjadi pelajaran berharga.

Mereka menemukan bahwa lokasi penanaman telur yang digunakan saat itu berada terlalu jauh dari area bertelur alami penyu. Perbedaan karakter pasir dan kondisi lingkungan diduga menjadi penyebab utama gagalnya proses inkubasi.

“Pada tahun 2025 kami mencoba melakukan penanaman telur di lokasi yang ternyata terlalu jauh dari habitat bertelur alami penyu. Setelah dievaluasi, kemungkinan kondisi pasir di area tersebut tidak cocok sehingga telur tidak berhasil menetas. Saat ini lokasi penanaman disesuaikan dengan habitat alami tempat penyu bertelur sehingga kondisi pasir dan lingkungan lebih mendukung proses penetasan,” jelas mereka.

Berbekal pengalaman tersebut, masyarakat kemudian menyesuaikan lokasi penetasan dengan habitat alami penyu. Pendekatan yang lebih dekat dengan kondisi alam ini akhirnya membuahkan hasil. Pada 13 Mei 2026, sebanyak 20 telur berhasil menetas, sementara sekitar 200 butir telur lainnya masih berada dalam proses inkubasi alami.

Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kabar baik bagi konservasi penyu, tetapi juga menunjukkan dampak yang lebih luas dari upaya perlindungan ekosistem yang telah berjalan di Pantai Wauwo sejak tahun 2024.

Awalnya, kawasan ini dikenal sebagai lokasi konservasi Burung Gosong Maluku atau Mamoa (Eulipoa wallacei), satwa endemik Maluku yang bergantung pada pasir pantai panas untuk menetaskan telurnya. Melalui program konservasi yang dikembangkan bersama masyarakat dan akademisi, kawasan bertelur Mamoa seluas kurang lebih 14.400 meter persegi mulai ditata dan dilindungi dari berbagai ancaman.

Hasilnya mulai terlihat. Hingga saat ini, sekitar 400 telur Mamoa berhasil ditetaskan secara semi alami dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Aktivitas edukasi lingkungan juga semakin berkembang, menjadikan Pantai Wauwo sebagai ruang belajar terbuka bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat umum.

Perubahan tersebut secara perlahan menghadirkan dampak yang lebih besar dari yang sebelumnya dibayangkan. Ketika habitat pantai dijaga untuk melindungi Mamoa, ekosistem yang sama ternyata juga menjadi lebih aman bagi satwa lain, termasuk penyu.

Ketua Tim Konservasi Burung Mamoa dari Program Studi Kehutanan Universitas Halmahera, Fiktor Imanuel Boleu, menilai kemunculan tukik-tukik baru di Pantai Wauwo merupakan indikator positif bahwa kualitas habitat pesisir mulai membaik.

“Keberhasilan menetasnya telur penyu merupakan kabar baik bagi konservasi satwa pesisir di Pantai Wauwo. Ini menunjukkan bahwa upaya perlindungan habitat yang dilakukan secara berkelanjutan mulai memberikan dampak positif terhadap kondisi ekosistem pantai. Harapan kami, keberhasilan ini dapat terus berlanjut sehingga Pantai Wauwo menjadi habitat yang aman bagi penyu sekaligus pusat edukasi konservasi bagi masyarakat dan generasi muda,” ujar Fiktor.

Keberhasilan konservasi ini terselenggara berkat dukungan dari program PLN Peduli. Dukungan tersebut mendorong penguatan kawasan konservasi yang tidak hanya berfokus pada perlindungan satwa, tetapi juga pendidikan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

General Manager PLN UIP MPA, Raja Muda Siregar, mengatakan bahwa keberhasilan penetasan tukik di Pantai Wauwo menjadi bukti bahwa program konservasi yang dijalankan secara kolaboratif mampu memberikan dampak nyata bagi kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat peran masyarakat sebagai garda terdepan pelestarian alam.

“Bagi PLN, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari jumlah satwa yang berhasil dilindungi, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan di sekitarnya. Menetasnya tukik-tukik penyu di Pantai Wauwo menjadi bukti bahwa kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan PLN mampu menghadirkan dampak positif bagi keberlanjutan ekosistem pesisir,” ujar Raja.

Ia menambahkan bahwa Program Konservasi Mamoa di Desa Mamuya telah berkembang menjadi lebih dari sekadar upaya penyelamatan satwa endemik. Program tersebut kini menjadi model pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat yang memberikan manfaat ekologis, edukatif, dan sosial secara bersamaan.

“Kami bersyukur melihat kawasan yang awalnya difokuskan untuk konservasi Burung Mamoa kini juga mulai menunjukkan manfaat bagi satwa lain seperti penyu. Ini menunjukkan bahwa ketika habitat dijaga dengan baik, manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh ekosistem. PLN akan terus mendukung program-program yang mampu menciptakan keseimbangan antara pelestarian lingkungan, pendidikan konservasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Bagi masyarakat Desa Mamuya, menetasnya telur-telur penyu ini bukan sekadar peristiwa alam biasa. Kehadiran tukik-tukik kecil yang berjalan menuju laut menjadi simbol harapan bahwa upaya menjaga alam, pembelajaran dari pengalaman sebelumnya, dan kerja bersama dapat membawa perubahan nyata bagi masa depan ekosistem pesisir Halmahera Utara.(Redaksi)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *