Paraparatv.id |Jayapura| – Euforia Piala Dunia selalu melahirkan gelombang kreativitas. Namun yang terjadi belakangan ini bukan lagi kreativitas, melainkan eksploitasi simbol yang serampangan. Sejumlah produsen jersey lokal mencampur identitas Persipura Jayapura dengan atribut tim nasional peserta Piala Dunia, sebuah praktik yang bukan hanya mengganggu estetika, tetapi juga merusak makna.
Lebih mengkhawatirkan, beredar desain jersey yang menggabungkan identitas Persipura dengan simbol Bintang Kejora dan narasi “Free West Papua”. Di titik ini, persoalannya tidak lagi berada di wilayah desain atau tren pasar. Ini sudah memasuki ranah politik yang sensitif dan berpotensi memicu konflik.
Jersey sepak bola bukan sekadar produk tekstil. Ia adalah symbol mengandung sejarah, identitas kultural, dan loyalitas kolektif. Persipura Jayapura, dengan akar kuat di Papua, bukan sekadar klub, ia adalah representasi kebanggaan lokal. Ketika identitas ini dicampur dengan simbol negara lain secara sembarangan, makna tersebut tereduksi menjadi komoditas kosong.
Pencampuran ini menunjukkan satu hal, absennya batas. Tidak ada penghormatan terhadap identitas, tidak ada kehati-hatian terhadap sensitivitas. Yang ada hanya logika pasar apa pun yang bisa dijual akan diproduksi, tanpa peduli implikasi.
Masuknya simbol Bintang Kejora dan slogan politik memperparah situasi. Olahraga yang seharusnya menjadi ruang netral justru diseret ke dalam tarik-menarik ideologi. Ini bukan hanya berisiko memecah basis suporter, tetapi juga mengancam fungsi sepak bola sebagai ruang pemersatu.

Dari sisi regulasi, praktik ini jelas problematik. Penggunaan identitas tim nasional tanpa izin berpotensi melanggar hak cipta dan merek dagang. Lebih jauh, prinsip dasar regulasi sepak bola internasional menolak segala bentuk manipulasi identitas yang menyesatkan. Namun lemahnya pengawasan membuat pelanggaran ini terus berulang.
Akar masalahnya sederhana, permintaan tinggi, kontrol rendah. Produsen memanfaatkan momentum global dengan pendekatan oportunistik, sementara federasi dan otoritas terkait belum menunjukkan ketegasan yang memadai.

Jika dibiarkan, ini akan menjadi preseden berbahaya. Sepak bola akan kehilangan maknanya sebagai simbol identitas dan berubah menjadi medium bebas untuk eksploitasi komersial, bahkan politik.
Kreativitas memang penting, tetapi tanpa batas, ia berubah menjadi pelanggaran. Dan ketika simbol-simbol kehilangan maknanya, yang runtuh bukan hanya estetika, melainkan integritas olahraga itu sendiri. (Ari)














