Paraparatv.id | Jayapura | Anggota Komisi IV DPR Papua dari Fraksi Partai NasDem, Dr. Ir. Alberth Merauje, A.Md.Tek., S.T., M.T., IPM, melakukan kunjungan ke SD Negeri Inpres Pantai Enggros, Jl. Pantai Enggros Kelurahan Asano Distrik Abepura, Kota Jayapura.
Dalam kunjungan tersebut, ia menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi sekolah yang dinilai masih memerlukan perhatian serius, terutama dari sisi infrastruktur dan keamanan lingkungan sekolah.
Sebagai anggota DPR Papua dari Daerah Pemilihan (Dapil) I yang meliputi Abepura, Muara Tami, dan Heram, Alberth Merauje juga menyampaikan bahwa kunjungan ini memiliki makna khusus baginya karena ia merupakan putra asli Kampung Enggros.
“Saya datang bukan hanya sebagai anggota DPR Papua, tetapi juga sebagai anak Port Numbay, anak Enggros. Saya prihatin melihat kondisi sekolah ini yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk belajar,” ujar Albert kepada media saat kunjungan, Kamis (6/3).
Sementara itu, Kepala SD Negeri Inpres Pantai Enggros, Katerina Giay, S.Pd, menjelaskan bahwa dirinya telah mengabdi sebagai guru di sekolah tersebut sejak tahun 2005 dan baru dilantik sebagai kepala sekolah pada tahun 2020.
Ia mengatakan, kondisi sekolah yang kumuh sudah berlangsung lama sehingga dirinya sempat menolak rencana rehabilitasi dan memilih melakukan pembongkaran sebagian bangunan.
“Sejak saya mengajar tahun 2005 sampai 2020 kondisinya memang kumuh. Waktu dinas mau rehab saya tidak setuju, akhirnya saya lapor ke RT, RW dan kepala suku, lalu kami bongkar sebagian bangunan. Tapi bangunan baru yang dibuat juga tidak bertahan lama, belum sampai satu tahun atap seng sudah bocor,” ungkapnya.
Selain masalah bangunan, keamanan sekolah juga menjadi perhatian. Menurut Katerina, pagar sekolah yang rendah membuat area sekolah sering dimasuki orang tidak bertanggung jawab, bahkan ditemukan botol minuman keras di sekitar lingkungan sekolah.
“Ketika kami pulang, sering ada orang mabuk masuk ke dalam sekolah. Botol miras banyak di belakang. Waktu libur Natal kemarin pintu belakang sampai digergaji dan saat liburan awal puasa dimasuki maling ada beberapa barang juga hilang. Kami sudah melapor ke polisi, DPR dan wali kota,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah dapat memperhatikan kebutuhan mendesak sekolah, terutama pembangunan pagar yang lebih tinggi agar keamanan sekolah terjamin. Selain itu, ia juga menyoroti rumah guru yang saat ini ditempati masyarakat.
“Kami berharap pagar sekolah bisa ditinggikan agar tidak ada orang yang masuk sembarangan. Untuk rumah guru juga sekarang ditempati masyarakat, padahal itu aset sekolah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Alberth Merauje menegaskan bahwa meskipun bidang pendidikan secara kelembagaan berada di Komisi V DPR Papua, namun persoalan infrastruktur sekolah tetap menjadi perhatian karena menyangkut kenyamanan proses belajar mengajar.
Ia menilai kualitas pembangunan gedung sekolah perlu menjadi evaluasi pemerintah daerah, mengingat bangunan yang baru dibangun sudah mengalami kerusakan.
“Gedung baru dibangun tapi belum sampai satu tahun atapnya sudah bocor. Ini mengganggu kenyamanan guru dan anak-anak saat belajar, apalagi ketika hujan. Infrastruktur seperti ini harus memenuhi standar,” tegasnya.
Ia juga menyoroti potensi banjir di lingkungan sekolah serta masalah keamanan akibat pagar yang rendah sehingga beberapa kali terjadi pencurian fasilitas sekolah.
“Barang yang dibeli dari uang rakyat untuk pendidikan justru dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Karena itu yang paling penting sekarang adalah memperbaiki atap yang bocor dan membangun pagar yang lebih aman,” katanya.
Sebagai putra asli Enggros, Alberth berharap pemerintah Kota Jayapura dapat memberi perhatian khusus terhadap sekolah tersebut.
“Saya tidak mau sebagai tuan tanah di negeri ini, tetapi sekolah di kampung saya sendiri tidak diperhatikan. Saya akan sampaikan ini kepada pemerintah kota dan juga mencari kemungkinan dukungan dari pemerintah provinsi maupun pusat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurut guru dan pihak sekolah perlu variasi menu agar anak-anak tidak bosan.
“MBG bukan hanya soal kenyang, tetapi bagaimana makanannya bergizi untuk mencerdaskan anak-anak. Menu harus bervariasi, jangan setiap hari itu-itu saja,” jelasnya.
Selain itu, Alberth mengusulkan agar pemerintah kota mencari solusi terkait rumah guru yang saat ini ditempati masyarakat dengan menyiapkan skema penggantian tempat tinggal, misalnya melalui program perumahan.
Di sisi lain, para guru juga menyampaikan kebutuhan sarana pembelajaran berbasis teknologi, seperti laptop, infokus, dan akses internet untuk mendukung kurikulum berbasis IT.
“Kami guru tetap semangat mengajar walaupun sarana terbatas. Anak-anak juga ingin belajar seperti sekolah lain menggunakan infokus, tetapi saat ini kami hanya menggunakan satu HP dan anak-anak berkumpul menonton bersama,” ujar salah satu guru.
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi perhatian pemerintah daerah agar kondisi SD Negeri Inpres Pantai Enggros dapat segera diperbaiki demi mendukung kualitas pendidikan bagi generasi muda di Kota Jayapura.(VN)



















