Parparatv.id |Jayapura| — Calon Gubernur Papua nomor urut 2, Mathius Derek Fahiri (MDF), kembali menegaskan komitmennya terhadap isu lingkungan dan sosial di Papua. Dalam pernyataan terbarunya, MDF menyoroti pentingnya perlindungan satwa, terutama hewan-hewan endemik Papua, serta mendorong pembangunan ruang terbuka publik yang bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dalam pertemuan dengan sejumlah komunitas pecinta lingkungan dan seni budaya di Jayapura, MDF menyampaikan keprihatinannya terhadap makin berkurangnya populasi satwa liar di Papua. Ia menyebut beberapa contoh satwa khas seperti kuskus, kasuari, hingga cendrawasih yang kini sulit dijumpai di alam bebas.
“Kalau tidak dijaga dari sekarang, anak cucu kita nanti cuma bisa dengar nama-nama hewan Papua dari cerita atau lihat gambarnya di buku. Mereka tidak akan tahu bagaimana bentuk dan suaranya di alam bebas,” tegas MDF saat dimintai keterangannya, Minggu (01/06).
Menurutnya, kekayaan satwa Papua adalah bagian dari identitas daerah yang tidak ternilai. Ia menekankan bahwa pelestarian satwa bukan hanya urusan pemerintah atau lembaga lingkungan, tapi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.
Untuk itu, MDF menyatakan akan mendorong program-program strategis seperti:
- Edukasi publik di sekolah dan komunitas soal pentingnya menjaga satwa,
- Penegakan hukum terhadap perburuan liar dan perdagangan satwa ilegal,
- Penguatan kawasan konservasi dan suaka margasatwa,
- Dukungan terhadap penangkaran satwa endemik.
Namun, perhatian MDF tidak hanya berhenti pada satwa. Ia juga menilai pentingnya menyediakan ruang terbuka publik bagi masyarakat Papua—baik di kota maupun di kampung. Bagi MDF, ruang terbuka bukan sekadar tempat bersantai, tapi sarana penting untuk membangun kehidupan sosial dan budaya yang sehat.
“Kita perlu ruang yang bisa dinikmati semua orang. Bukan cuma untuk orang yang punya hewan peliharaan, tapi juga untuk anak muda yang mau latihan menari, musisi jalanan, seniman mural, atau siapa pun yang ingin berekspresi,” ujarnya.
Menurut MDF, keberadaan taman kota, ruang seni terbuka, lapangan komunitas, dan tempat berkumpul lainnya bisa menjadi solusi atas minimnya tempat publik yang nyaman dan aman di banyak wilayah Papua. Ruang-ruang ini, lanjutnya, bisa menjadi pusat kreativitas dan kebersamaan bagi generasi muda.
Lebih jauh, MDF menghubungkan perlindungan satwa dan ruang terbuka publik sebagai bagian dari satu visi besar: menciptakan Papua yang seimbang antara kemajuan dan kelestarian. Baginya, pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga soal nilai dan kehidupan yang dijaga bersama.
“Papua tidak boleh kehilangan jati dirinya. Pembangunan harus tetap jalan, tapi alam dan budaya tidak boleh dikorbankan. Kita harus tumbuh, tapi tetap akar,” kata MDF dengan nada optimis.
Pernyataan MDF ini mendapat tanggapan positif dari berbagai komunitas, termasuk aktivis lingkungan, pegiat seni, dan anak-anak muda yang selama ini merasa kurang ruang untuk berekspresi.
Dengan pendekatan yang menyentuh aspek lingkungan, sosial, dan budaya, MDF menunjukkan bahwa kepemimpinan yang ia tawarkan tidak hanya bicara soal proyek besar, tapi juga menyangkut hal-hal sederhana yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat Papua sehari-hari. (Arie)


















