Tahun 2030, Punahnya HIV/AIDS di Papua

Gubernur Papua Lukas Enembe menandatangani pakta integritas komitmen Papua memutus mata rantai HIV AIDS hingga tahun 2030, Dok II Jayapura, Papua, Rabu (1/12/2021). Foto: SA)
banner 120x600

Paraparatv.id | Jayapura | Tak terasa sudah 33 tahun, seluruh orang di belahan bumi ini memperingati hari Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Perjuangan penderita AIDS dari Virus imunodefisiensi manusia atau Human Immunodeficiency Virus (HIV) sungguh luar biasa serta butuh rangkulan dari setiap manusia.

Virus tersebut masih menjadi salah satu epidemi terbesar di dunia saat ini. Dari catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekitar 1,5 juta orang terinfeksi HIV di tahun 2020 dan dari tambahan tersebut, terjadi penambahan kasus sekitar 37,7 juta orang di seluruh dunia, hidup dengan HIV di tahun 2020.

Khusus di Indonesia, sesuai data Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Agustus 2020 lalu terdapat lima provinsi dengan kasus AIDS terbanyak masing-masing Papua sebanyak 23.629 kasus, Jawa Timur 21.016 kasus, Jawa Tengah 12.565 kasus, DKI Jakarta 10.672 kasus dan Bali sebanyak 8.548 kasus.

Sementara, lima provinsi dengan kasus HIV terbanyak ditempati DKI Jakarta sebanyak 68.119 kasus, Jawa Timur 60.417 kasus, Jawa Barat 43.174 kasus, Papua 37.662 kasus dan Jawa Tengah sebanyak 36.262 kasus.

Berkaca dari kasus tersebut,Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua berkomitmen memutus mata rantai penyebaran virus HIV AIDS di Tanah Papua di Tahun 2030 seperti yang dikatakan Gubernur Papua, Lukas Enembe saat memperingati Hari AIDS se-Dunia tersebut di lahan parkir kantor Gubernur Papua, Dok II Jayapura.

“Sebagai seorang pemimpin, saya mempunyai tanggung jawab untuk membuat benteng yang kokoh terhadap penularan HIV AIDS yang ada di tanah Papua,” kata Lukas Enembe, Rabu (1/12/2021).

Menurutnya, masih banyak sekali mitos yang tak benar dan beredar ditengah masyarakat soal HIV AIDS. Dan ini, lanjut Lukas sebagai tugas semua Aparatur Sipil Negara (ASN) di Bumi Cenderawasih tuk berikan pencerahan ke setiap orang agar tidak berkembangnya diskriminasi dan kekerasan sosial.

“Saya dan saudara-saudara semua punya tanggung jawab yang sama untuk memberikan rasa nyaman bagi teman-teman kita yang terjangkit penyakit HIV AIDS,” ujarnya.

Setiap hari, dikatakan Lukas, mereka berjuang untuk menemukan sembuh dan pulih dari penyakit tersebut. “Tapi perjalanan mereka terkadang menjadi sulit oleh karena stigma negatif yang masih besar di tengah-tengah masyarakat kita,” kata Lukas.

Masih kata Lukas, penyebaran HIV AIDS akan terus terakumulasi menuju angka yang sangat tinggi. Setidaknya, saat ini di Provinsi Papua terdapat 46.967 orang yang terinfeksi oleh HIV AIDS.

“Satu detik pun, kita tak boleh menutup mata terhadap penularan dan penyebaran HIV AIDS di Papua. Saya ingin mengajak seluruh stakeholder di Provinsi Papua untuk tidak hanya menunggu 1 tahun lagi duduk di kursi yang sama memperingati Hari Aids Sedunia tanpa merealisasikan satu pun aksi di masing-masing instansi,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan, jangan menjadi abdi negara yang hanya siap bertugas untuk sebuah seremoni, melainkan bergerak dan ciptakanlah sesuatu yang dapat membantu Provinsi Papua dalam penanggulangan HIV AIDS.

“Komitmen kita dalam memutus mata rantai penyebaran virus HIV AIDS di Tanah Papua dengan target di Tahun 2030 nanti kita sudah terbebas dari ancaman virus ini,” kata Lukas.

Puncak serangkaian kegiatan yang bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua tersebut, juga dilakukan penandatanganan pakta integritas Gubernur Papua bersama Jajaran Forkompimda Provinsi Papua dan segenap elemen guna mewujudkan komitmen Papua terhadap HIV. (SA/ith)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *