Kampung Yoka; Penduduk yang memadat, wilayah yang mengecil, adat yang terkikis dan generasi yang mengambang !

0
211
Kampung Yoka diakir Tahun 2020

Oleh : Andreas Deda

Paraparatv.id | Jayapura  | Kampung Yoka  suatu wilayah yang termasuk dalam wilayah administrasi Pemerintahan Kota Jayapura. Secara pemerintahan bagian dari Kota Jayapura, namun secara adat dan budaya Yoka merupakan bagian dari Masyarakat Hukum Adat Sentani yang tatanan hidupnya di atur oleh MAM. Penduduk warga Yoka dikenal sebagai Masyarakat adat Hebaeibulu Naungei Wla naei Ondofolo. Sebagai bagian dari Masyarakat Hukum Adat Sentani orang Hebaeibulu naungei wlanei mengenal hubungan ‘Akha ha Bakhae ha dan Akha hi Bakhae hi’ atau hubungan kekerabatan dan hubungan persaudaraan.

Kampung yang telah menjadi sebuah kampung moderen dengan jumlah penduduk yang heterogen. Sejak enam puluh empat tahun lalu berdiri, 2 Januari 1956, kampung ini telah menjadi sebuah sentrum peradaban dan melting pot kebudayaan yang bagai mercusuar memancarkan pengaruhnya keberadaannya pada tanah Papua. Di sana, di kampung Yoka anak – anak dari seluruh tanah Papua di kumpulkan oleh para Zendeling untuk di didik menjadi para pemimpin di tanah Papua pada masa Netherlands Nieuw Guinea. Dari sana dari Yoka banyak pejabat dilahirkan oleh Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Jayapura. Dari Yoka diberikan tanah dan ruang untuk Pendidikan para Pendeta – Pendeta GKI di Tanah Papua lewat STFT GKI Isak Zamuel Kijne Abepura.  Universitas Cenderawasih, Universitas Sains & Tekhnologi Jayapura dan beberapa Lembaga Pendidikan dan pembinaan yang berdiri di atas tanah – tanah adat orang Yoka Hebaeibulu.

Sebuah kemajuan membesarkan nama dan melahirkan kejayaan, tetapi kemajuaan dan kejayaan masa lalu tanpa kesadaran menjaganya adalah sebuah ancaman bagi tergerusnya nilai – nilai adat istiadat masyarakat asli tanah tempatan khususnya di kalangan generasi Milenial hari ini. Di lahirkan diatas tanah air Yoka Hebaeibulu bukan sajat tentang makan minum diatas tanah air yang perlu di perhatikan tetapi untuk apa saya menjadi anak – anak Yoka dalam adat budaya dan kemajuan zaman hari ini. Itulah sebuah pertanyaan yang harus mengalir dalam detak nadi kita. Jika setiap anak dan orang tua mengingat bahwa dia adalah orang Sentani dan sekalipun bukan orang Sentani, kenyataannya bahwa diatas ruang hidup Sentani yang terbungkus oleh MAM dia ada dan hidup hari ini. Itu pertanda bahwa bagaimana saya harus hidup sebagai anak Yoka Hebaeibulu. Itu yang yang harus diketahui dan di jaga oleh setiap kita agar bisa disebut sebagai anak – anak kampung yang tahu adat sehingga beradab dan tidak biadab.

Orang Sentani mengenal hubungan kekerabatan adat istiadat yang disebut ‘Akha ha Bakhae ha Akha hi Bakhae hi’ yang menjadi jati dirinya sebagai penanda hubungan baik sebagai keluarga tetapi juga sebagai saudara bersaudara satu ideologi dan perasaan Bersama sebagai anak kampung. Di Yoka dalam hubungan ini telah terbangun hubungan Yo Ondofolo Khote dengan suku – suku yang terhimpun dalam setiap imea (kesatuan marga) yaitu Imekhabang dan ime name se+rta juga hubungan esure mesure untuk kebesaran nama kampung yang mengakui Masyarakat Papua lain dan Nusantara sebagai bagian dari adat istiadat Yoka Hebaeibulu yaitu dengan adanya pengangkatan Ahai Khotelo, Bapak Joko Santoso pada tahun 2009.

Diatas landasan ini seharusnya Yoka menjadi kampung modern yang tidak hanya maju tetapi juga Moderen dan Berkebudayaan. Berkebudayaan itulah yang harus diketahui dan di jaga oleh kita semua. Kebudyaan itu adalah sebuah prkatek kehidupan yang mewarisi tradisi lisan salah satunya adalah hubungan diatas.

Hari ini, semakin padatnya penduduk di kampung Yoka, semakin menggerus nilai – nilai adat kekerabatan dan persaudaraan. Dalam hubungan persaudaraan ini, kita mengenal ayau- enggo, afa – along, enimi – abu, akho nakhe, dan juga awau sebagai kebanggaan. Hubungan kekerabatan dan persaudaraan di Yika seperti menjadi sebuah ancaman serius kehilangan identitas kesukuan. Banyak diantara generasi hari ini tidak mengenal hubungan persaudaraan mengakibatkan mereka buta dan salah melangkah hingga terjerumus kedalam globalisasi yang menghambakan mereka sebagai budak zaman. Perkawinan, perselingkuhan, perceraian, perkelahian dan bahkan bisa ancaman pembunuhan saudara semakin serius meearnai perkembangan Yoka hari ini. Adalah suatu pertanyaan yang serisu ketika penulis harus bertanya; tahu kah dia bahwa Bapanya dan Bapamu itu Royau Kaha Bakhae. Kenapa dia harus mengancam dan bisa melakukan tindakan pembunuhan seperti itu? Atau, tahukah engkau bahwa Bapanya dan Abumu mempunyai hubungan suci untuk menjaga kelangsungan hidup kampung sebagai negeri anak – anak asli. Kenapa dia harus merancangkan dan melakukan tindakan pereselingkuhan yang mengarah pada nacaman perceraian?

Itulah sekilas gambar Yoka hari ini. Mari kita generasi muda yang peduli adat dan berpikiran positif untuk ekmajuan suku bangsa mengevaluasi dan menjaga jati diri kita agar kita tetap bisa eksisi di kampung kita walau diterpa pengaruh buruk globalisasi sekalipun.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here