Inilah Refleksi DAP di Hari Pribumi Se-Dunia

0
248
Direktur Yayasan Pembangunan Masyarakat Adat Papua, Ferdinand Okoseray

Jayapura, – Wilayah masyarakat adat Papua adalah rumah bagi 80% keanekaragaman hayati dunia dan karena itu dan Masyarakat adat dapat mengajari kita banyak hal tentang cara menyeimbangkan kembali hubungan kita dengan alam dan mengurangi risiko pandemi di masa depan.

Hal tersebut sebuah refleksi dari Dewan Adat Papua (DAP), dimana masyarakat adat mencari solusi mereka sendiri ditengah untuk pandemi Covid-19, mereka mengambil tindakan dan menggunakan pengetahuan dan praktik tradisional seperti isolasi sukarela, dan menyegel wilayah mereka, serta langkah-langkah pencegahan.

“Sekali lagi mereka telah menunjukkan kemampuan mereka untuk beradaptasi,” kata Ferdinand Okoseray selaku Direktur Yayasan Pembangunan Masyarakat Adat Papua dibawah naungan Dewan Adat Papua (DAP) mewakili Ketua DAP Yan Pieter Yarangga kepada media ini, Senin (10/8/20).

Pada tanggal 23 Desember 1994, kata Ferdinand, telah berlangsung Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memutuskan dalam resolusi PBB No. 49/214, bahwa Hari Internasional Masyarakat Pribumi Se-Dunia harus dirayakan pada tanggal 09 Agustus setiap tahun selama Dekade Internasional Masyarakat Pribumi Se-Dunia.

“Perayaan Hari Internasional Masyarakat Pribumi Se-Dunia pada 09 Agustus untuk mengakui dan memperingati Pertemuan pertama Kelompok Kerja PBB di Jenewa tahun 1982 sebagai wujud kehadiran masyarakat pribumi secara formal dalam seluruh tatanan dan mekanisme kerja PBB,” ujarnya.

Menurut Dewan Adat Papua, masyarakat adat Papua adalah bagian dari masyarakat pribumi/adat internasional yang berjumlah sekitar 476 juta didunia yang hidup di 90 negara. Masyarakat adat Papua, kata Ferdinand, adalah pewaris dan praktisi dari budaya dan cara-cara unik yang berkaitan dengan hubungan diantara masyarakat adat dan lingkungan.

“Sebagai bagian dari masyarakat adat dunia masyarakat adat Papua telah terlibat aktif dalam mempertahankan karakteristik sosial, budaya, ekonomi dan politik yang berbeda dari masyarakat dominan dimana mereka berada,” katanya.

Masyarakat adat Papua secara terus menerus telah memperjuangkan pengakuan atas identitas mereka, cara hidup mereka dan hak mereka atas tanah, wilayah dan sumber daya alam tradisional mereka selama bertahun-tahun. Namun menurutnya, hak masyarakat adat terus dilanggar.

Tema kali di Hari Internasional Masyarakat Pribumi Se-Dunia kali ini bertemakan Covid-19 dan Ketahanan Masyarakat Adat dengan subtema Marilah Rebut Kembali Masa Depan Kita: Bangun Hari Esok yang Inklusif, Adil, dan Aman. Serta seruan Konferensi Besar Masarakat Adat Papua III di Biak Tahun 2015, dalam Deklarasi Selamatkan Manusia, Tanah dan Sumber Daya Alam Papua.

“Dalam Perayaan Hari Internasional PBB Masyarakat Pribumi Se-Dunia Tahun ini, saya mengajak kita masyarakat adat Papua untuk dapat menggunakan momentum ini untuk melakukan refleksi atas kemalangan yang telah kita alami,” imbuhnya.

Dimana telah terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), lanjutnya, juga terjadi pengambilan alihan tanah-tanah, eksploitasi Sumber Daya Alam Papua yang telah mendatangkan penderitaan bagi masyarakat adat Papua.

“Semua ini telah terjadi di depan mata yang membawa keprihatinan yang mendalam dalam menatap hari esok kita terutama anak cucu kita,” ujarnya.

Dikatakannya, semuanya jangan lemah dan putus asa melainkan refleksi ini menolong semuanya untuk merekonstruksi sejarah perjuangan kita sebagai masyarakat adat Papua yang adalah masyarakat adat dunia untuk menyelamatkan Hak Hidup, Hak atas Tanah dan Hak atas Sumber Daya Alam.

“Refleksi ini menolong kita untuk bangkit dan menyatakan tekad untuk untuk Merebut Kembali Masa Depan Kita yang lebih baik,” tegasnya.

Perayaan Hari Internasional Masyarakat Pribumi se-Dunia tahun 2020 haruslah dijadikan sarana tuk terus mempromosikan pentingnya peran masyarakat adat Papua dalam mendorong dan mengimplementasikan kampanye ‘Keluarga Besar Bertanggung jawab’ dengan menghentikan penjualan tanah atau dikontrakkan dan menegosiasikan pengelolaan Sumber Daya Alam yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat adat Papua.

“Marilah, seluruh Komponen Masyarakat Adat Papua, marilah bergandengan untuk Merebut Masa depan Kita yang lebih baik bagi Generasi Masa Depan Papua. Kita telah menunjukan bahwa kita mampu dengan pengetahuan tradisional kita. Kita pasti mendapat tempat yang layak di negeri kita,” ditegaskannya.

Pihaknya meminta seluruh masyarakat adat harus bekerja lebih keras, sistematis dan bersama-sama dan dengan cara-cara konkrit melalui pemetaan tanah adat masing-masing, melakukan Konversasi hutan adat dan berpartisipasi aktif dalam mengelola dusun Sagu, Umbi-umbian, Sayuran, Anggrek dan hasil kekayaan lainnya.

Jangan berharap pada beras saja atau makanan dari luar Papua, juga harus melindungi burung Cenderawasih yang mulai punah dan satwa endemik lainnya serta kekayaan Sumber Daya Alam lain yang tersedia.

Marilah bergandengan tangan yang erat dan bukan saling menyerang. Ini dilakukan lakukan untuk satu masa depan yang masyarakat adat tentukan sendiri. (Tim Redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here