“Upaya Kudeta Bagi RI 1 2019 Dengan Mengkambing Hitamkan Papua, Membuka Pintu Menuju Disintegrasi Bangsa, ‘Akankah Berbuah Manis Bagi Rakyat Papua’ ?”.

0
429
BENY WAYANGKAUW, KADER GMKI JAYAPURA CANGANG JAYAPURA

-Oleh Bung Beny Wayangkau-

Parapara Opini | Jayapura | Seluruh Rakyat Indonesia baru saja melaksanakan pesta demokrasi di tahun ini,  dalam memilih para pemimpin bangsa baik Presiden dan Wakil Presiden serta wakil – wakil rakyat di parlemen, termasuk di Papua.     

 Dalam waktu berselang tidak begitu lama, masih didalam kehangatan pemilu, bangsa Indonesia juga sedang merayakan hari bersejarah yaitu ulangtahun kebangsaan yang ke 74 Tahun, dengan suasana Gembira.   

Munculah sebuah tragedi kemanusiaan,  yang meluluhlantakan segenap alam pertiwi ini. Membahana secara nasional hingga internasional.     Hanya dengan ungkapan Kata “Monyet”, serta tuduhan menjatukan bendera mera putih.      

 Peristiwa ini tidak kebetulan, tetapi sudah di rancang oleh sang arsitek dengan perhitungan yang matang, terukur, terstruktur dan  masif.     Sang Arsitek menggunakan wada – wada yang ada atau dengan lain kata memakai tangan orang untuk memukul.      

Pada sisih yang lain, sejarah perjalanan kelam  bangsa ini tercatat dengan rapih, bahwa bagaimana para pemimpin – pemimpin bangsa ini di KUDETA.  Dan bukan itu saja,  bahwa sejarah dunia juga mencatat perjalanan para pemimpin-pemimpin  dunia di KUDETA,  dengan berbagai cara dan strategi masing-masing sesuai peristiwanya guna merebut sebuah KEKUASAAN.     Mulai dari Abraham Lincoln, Muammar Khadafi, Gabriel Gersa Moveno,  Patricia Lummumba, Jhon F Kenedy, dan Bung Karno sang proklamator bangsa ini, serta Sang Apartheid  Hendrik Vermoerd.    

 Catatan hitam sejara bangsa Indonesia  dimulai dengan rencana KUDETA pada sang proklamator Soekarno, dari referensi-referensi yang saya pelajari ini, memberikan gambaran secara detil tentang “CUPCUDETA” merangkak ini.  Termasuk berbagai upaya pembunuhan yang di lakukan oleh pihak militer luar negri atau asing, degan berkolaborasi bersama anak- anak bangsa sendiri.   

Singkat cerita bahwa hasil dari upaya itu maka lahirlah orde baru dan memunculkan Istilah rrde lama.  Lembaran hitam generasi ke-I dalam kepemimpinan ini tidak berakhir di situ, tetapi terus di buka pada halaman-halaman berikutnya. Bahwa dari babak baru sebua orde itupun juga, menyimpan lembaran hitam kelam tentang KUDETA kepemimpinan orde baru ini,  maka hukum tabur tuai berlaku juga dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia ini.

  YANG DI KUDETA DAN YANG MENGKUDETA INI, MELAHIRKAN GENERASI KE- II.      Kini Generasi Ke-II ini tampil dalam panggung politik nasional dalam nusantara pertiwi, alih-alih kekuasaan terus berpinda tangan dalam rentetan waktu dan sejarah perjalanan bangsa.

Hari ini Papua bergejolak untuk ke sekian kalinya,  sudah barang tentu persoalan KUDETA ini adalah Ingin menguasai harta kekayaan alam pada suatu wilayah, termasuk di Papua.    Bagi saya pribadi bahwa ini adalah fakta sejarah dalam bangsa Indonesia.   Ada benang merah antara DUA GENERASI ini,  dengan sandiwaranya melibatkan pihak asing.    

Konflik Generasi ke-I, perebutan kekuasaan SOEKARNO VS SOEHARTO.    Benang merahnya J.F KENEDY & CIA dengan fokus objek sengketa Gunung Emas di Papua, Hutan Kayu, Rotan dan Tambang lainnya.          

Hari ini Generasi ke-II tampil dalam bangsa ini degan motif yang sama.        Sumber Seword.com degan narasi (author) Niha Arif,  menyampaikan bahwa “Tomy Soeharto Aktor di balik Gerakan Papua Merdeka dan Aktor dalam memfasilitasi Istima Ulama Empat.    Niha Arif membuka tabir baru di tenggah derunya badai kisah cerita “Monyet – monyet Dari Papua”,  ia menuturkan bahwa sang anak bungsu penguasa orde baru ini tersinggung   karena Presiden Jokowi di atas singggasananya telah mengobok – obok kepemilikan SAHAM FREPORT Mecgmoran yang telah dibuka karpet merah oleh Bapa pembangunan orde baru SOEHARTO. Tanpa melibatkan pemilik tanah wilaya adat Papua.        

Hal ini bagi saya selaku penulis melihat bahwa “ia (Tomi Soeharto) cerdas menggunakan momentum luka batin rakyat Papua dalam sejarah integrasi bangsa, yang benihnya sudah di tabur oleh generasi ke-I dari bangsa ini. Dukungan lain kepada sang bungsu ini semakin menguat dengan terkuaknya tabir di balik kerusuhan di Surabaya dan Malang, yakni tertangkapnya kader Partai Gerindra yaitu “Trisusanti cs, partai pimpinan PRABOWO yang adalah rival politik dalam PILPRES 2019 oleh aparat keamanan serta beberapa kader partai milik Tomy Soeharto. Nasi sudah mau jadi bubur, eskalitas konflik makin meluas dan menciptakan jurang yang  semakin mengagah menuju disintegrasi bangsa, tentunya di manfaatkan pihak asing atau penumpang gelap versi Menkopolhukam Wiranto dalam kabinet JOKOWI-JUSUF  KALA.       

Beberapa media sebagai sumber referensi menguatkan kita bahwa desasdesus pembagian jata dalam kursi kabinet JOKOWI-MARUF juga merupakan faktor lain yang ikut mempengaruhi sehingga partai politik dipusaran kekuasaan juga ngambek. Tetapi analisis saya juga mengatakan bahwa “INI KUDETA MERANGKAK TERHADAP  RI 1  2019”. Karena bukan tidak bahwa tokoh – tokoh Nasional bangsa ini juga ikut meneriakan dan mendorong Negara Kesatuan Indonesia menjadi  ‘Negara  Federal’.   

Semua ini merupakan praktek politik dalam bangsa ini degan tujuan menciptakan rasa ketidak percayaan terhadap kepemimpinan RI 1 2019.     Bukan hal baru dalam sejarah KUDETA kepemimpinan.     Karena PRESIDEN GUSDUR pun di KUDETA akibat membiayai PELAKSANAAN KONGRES PAPUA I dan Mengijinkan Berkibarnya BENDERA PAPUA  sebagai BENDERA CULTUR.        

Syallom !!! 

(Penulis, adalah Kader  GMKI Cabang Jayapura)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here