Example floating
Sosial Budaya

Dorong Pelestarian Bahasa Daerah, Alberth Merauje Ikut Tulis Buku Cerita Rakyat Port Numbay Jilid II

138
×

Dorong Pelestarian Bahasa Daerah, Alberth Merauje Ikut Tulis Buku Cerita Rakyat Port Numbay Jilid II

Sebarkan artikel ini
Ir. Alberth Merauje, A.Md.Tek., S.T., M.T., IPM, bersama Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku saat menunjukan salah satu buku cerita rakyat

Paraparatv.id | Jayapura | Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan resmi memulai persiapan sosialisasi Buku Cerita Rakyat Port Numbay Jilid II Tahun 2025. Rapat digelar bersama para penulis, narasumber adat, akademisi, Balai Bahasa, serta tim penyangga dari dinas terkait bertempat di Jayapura, Senin (27/10).

Salah satu penulis buku sekaligus anggota Komisi IV DPR Papua dari Fraksi NasDem, Ir. Alberth Merauje, menyampaikan apresiasi atas langkah Pemkot Jayapura. Ia menulis 3 hingga 4 cerita dalam buku jilid kedua ini, berdasarkan kisah leluhur dari Kampung Tobati–Enggros.

“Sejak kecil kami dengar cerita dari orang tua dan leluhur. Saya teruskan ke anak-anak saya, lalu sekarang kami tulis supaya tidak hilang. Bahasa dan cerita ini adalah jati diri kami orang Port Numbay,” ungkap Alberth.

Ia juga menegaskan, jika tidak didokumentasikan dalam bentuk tulisan, maka cerita rakyat dan bahasa lokal bisa hilang bersama dengan meninggalnya para penutur aslinya.

Sebagai legislator, ia mengaku sedang mendorong lahirnya regulasi dan peraturan daerah tentang pelestarian kebudayaan dan bahasa di 8 kabupaten dan 1 kota di Papua.

Penerbitan Buku Cerita Rakyat Port Numbay Jilid II menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya melalui upacara adat dan tarian, tetapi juga melalui penulisan, pendidikan, dan kurikulum sekolah. Harapannya, anak-anak Kota Jayapura tidak hanya tahu cerita rakyat dari luar Papua, tetapi juga memahami akar budaya dan bahasa mereka sendiri.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku.
mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian bahasa dan budaya lokal yang saat ini semakin tergerus perkembangan zaman.

“Rapat hari ini untuk mempersiapkan tim sekaligus menunjukkan kepada para narasumber isi buku yang sudah diedit. Kami ingin memastikan penulisan cerita rakyat dan bahasa daerahnya sesuai seperti yang mereka sampaikan, karena buku ini menggunakan dua bahasa: Indonesia dan bahasa daerah,” ujar Grace Yoku, usai memimpin rapat bersama Tim Sosialisasi Buku Cerita Rakyat Port Numbay Jilid II.

Ia menjelaskan, Pada jilid pertama terdapat 19 cerita rakyat, sementara pada Jilid II bertambah menjadi 30 cerita. Cerita-cerita ini ditulis dalam Bahasa Indonesia dan diterjemahkan ke dalam tiga bahasa daerah, yakni Bahasa Tobati–Enggros, Bahasa Nafri dan Bahasa Sentani.

Menurut Grace, para penulis dan narasumber diundang untuk melihat kembali hasil akhir buku, mencocokkan isi, alur cerita, serta kesesuaian bahasa daerah dan terjemahannya.

“Ini bahasa mereka. Jadi kami panggil mereka untuk baca ulang apakah cerita dan bahasanya sudah sesuai. Jangan sampai makna budaya berubah,” tambahnya.

Grace Yoku memastikan, setelah proses finalisasi, buku ini akan dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah Kota Jayapura.

Sekolah-sekolah akan diajarkan bahasa daerah sesuai wilayah adat tempat mereka berada, di antaranya: Kampung Nafri → wajib Bahasa Nafri
Muara Tami → Bahasa Skouw, Kayu Batu dan Kayu Pulau (Jayapura Utara) → Bahasa setempat, Kotaraja → Bahasa Tobati–Enggros serta Waena dan Padang Bulan → Bahasa Sentani.

“Kami ingin anak-anak di tanah adatnya masing-masing belajar bahasa ibu mereka. Ini bagian dari pelestarian bahasa Port Numbay yang sekarang sudah sangat rentan punah,” jelasnya.

Tahap sosialisasi akan melibatkan sekitar 100 peserta, termasuk guru, kepala sekolah, dan pegiat kebudayaan.

Program penerbitan buku ini merupakan bagian dari tiga agenda kebudayaan Pelestarian bahasa dan budaya lokal, Revitalisasi bahasa ibu dan Pendokumentasian cerita rakyat Port Numbay

Grace Yoku menegaskan, buku ini bukan hanya arsip budaya, tetapi juga jembatan pengetahuan untuk generasi muda.

“Kalau misalnya narasumber meninggal dan cerita tidak didokumentasikan, maka hilang sudah. Buku ini adalah cara kita menjaga warisan leluhur untuk generasi berikutnya.”(VN)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *