Paraparatv.id | Jayapura | Menyikapi polemik yang muncul akibat pernyataannya dalam laporan 100 hari kerja, Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, menggelar pertemuan bersama sejumlah tokoh penting dari wilayah Pegunungan Papua, di Hotel Swiss-Bel Jayapura, Kamis (19/6) malam.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh intelektual dari wilayah Lapago dan Meepago, serta perwakilan Forkopimda, termasuk Wakil Wali Kota, Dandim, Kapolres, Ketua Pengadilan, dan Asisten I dari Pemerintah Kabupaten Jayapura.
Dalam konferensi pers usai pertemuan, Wali Kota Abisai Rollo menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas pernyataannya yang dinilai menyinggung warga pegunungan.
“Kita berkumpul di tempat ini untuk berbicara dari hati ke hati. Dalam laporan kerja 100 hari saya, ada kalimat yang saya sampaikan soal pemalangan atau demonstrasi, yang saya sebut akan dikembalikan ke kampungnya, dan saya sebutkan kata ” orang gunung”. Kata-kata itu menyinggung, dan saya mohon maaf dan malam hari di akhirnya kita selesaikan kita sudah tanda tangan pernyataan,” ujar Wali Kota Abisai Rollo.
“Pada malam hari ini kita telah berdamai dengan persoalan yang beredar, saya harap untuk semua masyarakat gunung yang di Jayapura, bahkan di Kabupaten Keerom, Kabupaten Jayapura dan seluruhnya bahwa saya telah minta maaf dan ini berlaku untuk kita semua,” Ucapnya
Ia menegaskan bahwa tidak ada niat mendiskreditkan kelompok manapun, dan berharap masyarakat dari berbagai latar belakang di Kota Jayapura dapat bersatu menjaga keamanan dan membangun kota bersama.
“Kita semua yang ada di Kota Jayapura, dari berbagai suku, ras, dan agama, mari kita bersatu membangun kota ini. Mari kita bergandengan tangan menjaga Kota Jayapura dari segala persoalan,” imbuhnya.
Sementara itu, perwakilan masyarakat pegunungan di Kota Jayapura, Drg. Aloysius Giyai, menyatakan bahwa pertemuan tersebut menjadi momentum bersejarah karena melahirkan ikrar damai.
“Kami dari masyarakat Lapago dan Meepago mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wali Kota atas keberanian mengakui kekhilafan dan meminta maaf. Ini adalah sikap seorang pemimpin dan orang tua bagi kami,” kata Drg. Aloysius Giyai.
Ia menegaskan bahwa masyarakat Pegunungan Papua mendukung penuh kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jayapura dalam menjalankan visi dan program pembangunan. Ia juga menegaskan pentingnya penegakan hukum secara adil bagi semua pihak.
“Kami siap mendukung pembangunan Kota Jayapura. Dan jika ada anak-anak kami yang melakukan pelanggaran hukum seperti mabuk atau anarkis, kami tidak akan melindungi hukum ditegakan. Namun untuk menyampaikan aspirasi, harus tetap mengacu pada aturan dan perda yang berlaku, bukan hanya untuk orang pegunungan tapi juga seluruh masyarakat yang ada di kota Jayapura,”tegasnya.
Menutup pernyataannya, Aloysius menyerukan kepada para pemuda dan mahasiswa asal pegunungan untuk tidak lagi memperpanjang polemik tersebut, karena proses damai sudah dilakukan secara terbuka.
“Pesan khusus untuk para pemuda, mahasiswa ataupun yang sampai saat ini merasa tersakiti atau tersinggung perasaan, terutama dari masyarakat Pemuda mahasiswa dari pegunungan, Bapak Wali Kota sudah mengaku dan memohon maaf dan mengenai masalah ini sudah selesai sehingga jangan dikembangkan lagi sudah tanda tangan pernyataan damai,”tutupnya
Dengan selesainya pertemuan dan ikrar damai tersebut, diharapkan seluruh komponen masyarakat di Kota Jayapura dapat kembali fokus pada persatuan, keamanan, dan pembangunan yang inklusif untuk semua.(VN)

















