Paraparatv.id |Sentani| – Sagu yang selama berabad-abad menjadi makanan pokok masyarakat Papua kini semakin sulit ditemukan. Perubahan pola konsumsi, kebijakan pemerintah, serta alih fungsi lahan menyebabkan populasi sagu terus menyusut. Jika tidak ada langkah konkret, bukan hanya ketahanan pangan yang terancam, tetapi juga identitas budaya Papua.
Dr. Drs. Beatus Tambaip, MA, Rektor Universitas Musamus Merauke, dalam perbincangan bersama paraparatv.id di Base Camp Cemara, Sentani Timur, Selasa 01 April 2025 menegaskan bahwa sagu adalah bagian dari sejarah Papua yang tidak bisa dipisahkan. “Dulu, peradaban Papua tumbuh dengan sagu sebagai sumber utama makanan. Sekarang, hutan sagu ditebang tanpa ada usaha serius untuk melestarikannya. Generasi muda pun semakin jauh dari sagu,” ujarnya.
Perubahan sosial menjadi faktor utama meredupnya eksistensi sagu. Masyarakat kini lebih akrab dengan beras, terutama setelah program raskin (beras untuk keluarga miskin) yang didistribusikan bertahun-tahun di Papua. “Anak-anak muda sekarang lebih mengenal nasi daripada sagu (papeda dan berbagai olahannya, Red). Mereka tidak punya keterikatan emosional dengan sagu seperti generasi sebelumnya,” kata Beatus.
Selain itu, proses pengolahan sagu yang panjang dan berat menjadi alasan lain mengapa masyarakat mulai meninggalkannya. “Menebang pohon sagu, memeras patinya, dan mengolahnya butuh waktu dan tenaga. Sementara beras tinggal dimasak. Ini membuat masyarakat semakin beralih ke beras,” tambahnya.
Tidak hanya karena perubahan pola makan, sagu juga terancam oleh pembangunan yang masif. Hutan sagu banyak dialihkan menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Di Merauke, misalnya, banyak lahan sagu berubah menjadi sawah dan perkebunan tebu. Ke depan, Kabupaten Mappi juga berencana mengembangkan tanaman jagung.
“Banyak kebijakan pembangunan lebih mengutamakan komoditas yang dianggap menguntungkan secara ekonomi, sementara sagu tidak mendapat perhatian serius. Akibatnya, populasi sagu terus menurun,” jelas Beatus.
Ironisnya, wilayah dengan populasi sagu terbesar seperti Mappi, Asmat, dan Teluk Bintuni sebenarnya masih memiliki cadangan sagu melimpah. Beberapa perusahaan telah mengelola dan membudidayakannya, tetapi skala pengelolaannya belum cukup untuk mempertahankan keberlangsungan sagu di Papua.
Potensi Besar yang Kurang Dimanfaatkan
Padahal, sagu tidak hanya penting untuk pangan lokal, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Sagu bisa diolah menjadi berbagai produk turunan, mulai dari tepung sagu untuk industri makanan, bahan baku kosmetik, hingga bioetanol.
“Sagu punya potensi besar, tetapi tidak pernah benar-benar digarap serius. Jika dikembangkan, sagu bisa menjadi komoditas unggulan Papua, baik untuk konsumsi lokal maupun pasar ekspor,” tegas Beatus.
Namun, ia menekankan bahwa tanpa kebijakan yang jelas dari pemerintah, potensi ini hanya akan menjadi wacana. “Butuh investasi, kebijakan strategis, dan kemauan politik untuk melestarikan sagu. Jika tidak, kita hanya akan menyaksikan sagu semakin menghilang,” tambahnya.
Selain menjadi sumber pangan, sagu memiliki peran ekologis yang penting. Pohon sagu mampu menyerap air dalam jumlah besar dan menjaga keseimbangan lingkungan. “Jika hutan sagu hilang, kita akan menghadapi risiko lingkungan yang lebih besar, seperti banjir dan kekeringan,” ujar Beatus.
Lebih dari itu, sagu adalah bagian dari identitas dan budaya Papua. Dalam berbagai tradisi adat, sagu bukan hanya makanan, tetapi juga simbol kehidupan dan kebersamaan.
“Kehilangan sagu berarti kehilangan warisan budaya. Jangan sampai modernisasi membuat kita lupa siapa diri kita,” tegasnya.
Menurut Beatus, tantangan terbesar saat ini adalah mengubah cara pandang pemerintah dan masyarakat terhadap sagu. Ia berharap ada kebijakan nyata untuk menjaga keberlanjutan sagu, bukan hanya menjadikannya sebagai proyek percontohan tanpa tindak lanjut.
“Generasi muda Papua yang kini menjadi pemimpin daerah harus mengambil peran. Mereka tidak hanya mewarisi hasil pembangunan, tetapi juga bertanggung jawab untuk menjaga warisan budaya dan sumber daya alam,” pungkasnya.
Jika tidak ada upaya nyata, bukan hanya sagu yang akan punah, tetapi juga bagian penting dari kehidupan masyarakat Papua. (Arie)

















