Example floating
AdvetorialBERITAKABAR KOTA JAYAPURAPeristiwa

Lestarikan Bahasa Ibu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura Susun Kamus Bahasa Nafri

2
×

Lestarikan Bahasa Ibu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura Susun Kamus Bahasa Nafri

Sebarkan artikel ini

Paraparatv.id | Jayapura — Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggelar pembukaan kegiatan Penyusunan Kamus Bahasa Nafri di Gedung GSG Gereja GKI Petra, Kampung Nafri, Kota Jayapura. Kamis (15/10).

Kegiatan ini menjadi upaya mendokumentasikan, melestarikan, dan merevitalisasi Bahasa Nafri sebagai salah satu bahasa ibu di wilayah Port Numbay agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Mewakili Wali Kota Jayapura, Asisten I Setda Kota Jayapura, Nicolas Evert Merauje, mengatakan Kota Jayapura memiliki keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, dan tradisi yang menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.

Salah satu kekayaan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan adalah Bahasa Nafri, yang merupakan bagian penting dari identitas masyarakat adat Nafri di Kota Jayapura.

Menurutnya, penyusunan Kamus Bahasa Nafri menjadi salah satu upaya menjawab tantangan globalisasi sekaligus merevitalisasi bahasa daerah Port Numbay agar bahasa ibu tidak terancam punah.

Ia menegaskan, pelestarian bahasa daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan tetua adat, tokoh masyarakat, penutur asli, lembaga pendidikan, dan generasi muda.

Melalui penyusunan kamus ini, Pemerintah Kota Jayapura berharap generasi muda semakin mengenal, mencintai, dan melestarikan bahasa ibu sebagai warisan budaya.

“Bahasa adalah jiwa suatu bangsa. Jika bahasa hilang, maka hilang pula identitas dan keberadaban sebuah masyarakat,” ujarnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku, dalam laporannya mengatakan, keberagaman bahasa merupakan pilar keberagaman budaya.

“Kepunahan yang terjadi pada suatu bahasa berarti juga hilangnya kekayaan budaya, tradisi, memori kolektif, serta cara berpikir dan berekspresi yang merupakan warisan yang tak ternilai. Untuk mencapai masa depan yang lebih baik pun akan hilang,” ucapnya.

Sejumlah ahli linguistik ekologi, dengan menggunakan analisis wacana kritis, mendapati bahwa budaya bahasa dan keanekaragaman hayati memiliki korelasi.

“Analisis itu menyingkap bahwa praktik kebahasaan memperlihatkan sikap eksploitatif terhadap lingkungan alam. Oleh karena itu, mereka mengklaim bahwa punahnya lingkungan alam sebagian disebabkan oleh bahasa,” ujarnya.

Namun, yang lebih menyedihkan adalah ketika penutur suatu bahasa kehilangan bahasanya. Bahasa sering dianggap sebagai simbol identitas kesukuan atau identitas kebangsaan. Ketika seseorang kehilangan bahasanya, itu berarti ia telah kehilangan identitas etnis atau identitas kebangsaannya.

Suatu bahasa dikatakan terancam apabila semakin sedikit masyarakat yang mengakui bahasanya dan bahasa tersebut tidak lagi digunakan ataupun diajarkan kepada anak-anak mereka.

Selain itu, suatu bahasa dikategorikan terancam punah jika semakin sedikit digunakan dalam kegiatan sehari-hari sehingga kehilangan fungsi sosial atau komunikatifnya. Semakin berkurangnya penggunaan bahasa dalam masyarakat cenderung memengaruhi persepsi penuturnya terhadap kesesuaian penggunaan bahasa dalam fungsi yang lebih luas.

Kepunahan bahasa lokal terjadi di beberapa wilayah Papua yang diketahui memiliki ratusan bahasa daerah. Bahasa-bahasa tersebut tidak mampu diselamatkan karena tidak lagi dituturkan oleh generasi muda saat ini. Selain itu, tidak adanya pendokumentasian dalam bentuk tertulis, seperti kamus, buku, ataupun sumber dokumentasi lainnya, turut menjadi tantangan.

Penyusunan Kamus Bahasa Nafri merupakan upaya untuk mendokumentasikan bahasa Nafri sebelum bahasa ini punah. Penyusunan kamus tersebut diharapkan menghasilkan rekaman kosakata bahasa Nafri yang terdokumentasi.

“Tujuan kegiatan ini adalah melestarikan, merevitalisasi, dan mendokumentasikan bahasa Nafri sebagai salah satu dari tujuh bahasa ibu di wilayah Port Numbay. Secara khusus, kegiatan ini bertujuan mengumpulkan dan mendokumentasikan 1.500 hingga 2.000 kosakata bahasa Nafri serta menyusun Kamus Bahasa Nafri–Bahasa Indonesia sebagai bahan ajar muatan lokal,”jelasnya.

Kegiatan ini melibatkan langsung penutur asli, ondoafi, kepala suku, tokoh adat, dan tokoh perempuan sebagai narasumber utama.
Penyusunan buku Kamus Bahasa Nafri dilaksanakan selama lima hari, mulai Selasa, 27 Oktober hingga 31 Oktober 2026.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Rocky Bebena, S.Pd., M.Pd., berharap pelestarian bahasa daerah ke depan dikembangkan melalui film animasi agar lebih menarik bagi anak-anak, khususnya untuk mengenalkan Bahasa Nafri, Tobati, dan Skouw di lingkungan sekolah.

Sementara itu, Sekretaris LMA Kota Jayapura, Rudi Mebri, mengajak seluruh pihak bekerja sama agar penyusunan Kamus Bahasa Nafri selesai tepat waktu dan dapat dimanfaatkan oleh anak-anak, peserta didik, serta masyarakat yang ingin mempelajari bahasa tersebut.

Sementara itu, penutur asli Bahasa Nafri, Emma Tjoe, menyampaikan bahwa penyusunan kamus tersebut merupakan sesuatu yang istimewa sekaligus menjadi impian yang kini mulai terwujud.

Ia berharap kosakata Bahasa Nafri dapat terdokumentasi dalam sebuah buku dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Emma juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Jayapura, para guru, dan seluruh pihak yang mendukung pelestarian Bahasa Nafri,”Walaupun kami bukan orang Nafri, tapi di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” ucapnya.

Melalui penyusunan kamus ini, diharapkan Bahasa Nafri dapat terus dilestarikan, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Port Numbay.(VN)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *