Example floating
AdvetorialBERITAPeristiwa

Kabut Asap Selimuti Jayapura, BMKG Ungkap Penyebabnya

21
×

Kabut Asap Selimuti Jayapura, BMKG Ungkap Penyebabnya

Sebarkan artikel ini

Paraparatv.id | Jayapura | Warga di wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, hingga Kabupaten Keerom sempat diresahkan oleh munculnya fenomena udara kabur yang merata dan disertai samar-samar bau khas terbakar sejak Kamis (8/10/2026). Menjawab keresahan publik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura menyampaikan pemutakhiran analisis komprehensif terkait kondisi udara permukaan tersebut.
‎
‎BMKG mengonfirmasi bahwa fenomena yang terjadi bukanlah kabut basah biasa, melainkan kabut asap tipis (smoke) yang dipicu oleh aktivitas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dari beberapa wilayah di Papua serta lintas batas dari utara Papua Nugini (PNG).
‎
‎Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Ninien, menjelaskan bahwa pengamatan citra satelit Himawari-9 dan data pengamatan permukaan menunjukkan kenampakan udara kabur secara jelas.
‎
‎”Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari, terdapat sebaran asap di wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom. Hal ini dipengaruhi oleh kebakaran yang terjadi di Papua New Guinea bagian utara, didukung arah angin yang berhembus dari arah timur hingga tenggara menuju barat, hingga barat laut ” ujar Ninien.
‎
‎Ia juga menambahkan bahwa karhutla di Merauke turut diperhatikan, namun dampaknya relatif kecil ke utara Papua karena pola pergerakan angin dominan mengarah ke barat.
‎
‎Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Jayapura pada periode 10–12 Oktober 2026 berada dalam kategori Sedang, khususnya untuk parameter partisipatif PM 2.5 dengan kisaran angka 66–73.
‎
‎Meskipun potensi partikel basah (fog/mist) sempat terbentuk pada dini hari menjelang pagi saat kelembaban udara (RH) cukup tinggi, kondisi tersebut cepat meluruh seiring terbitnya matahari.
‎
‎Memasuki pagi hingga sore hari, kelembaban udara relatif berada di bawah 90%, yang mempertegas bahwa udara kabur yang membentang dominan disebabkan oleh partikulat kering (smoke/haze).
‎
‎Dari penelusuran data hotspot (titik panas) dan simulasi pergerakan massa udara CAMS/ECMWF yang diolah BMKG:
‎Papua Nugini (Utara): Menjadi penyumbang utama asap yang terbawa hembusan angin dari tenggara ke barat  laut menuju Jayapura.
‎
‎Wilayah Papua Lainnya: Terpantau adanya kontribusi signifikan dari karhutla di wilayah Fakfak serta titik lokal skala kecil seperti di Doyo Baru, Kabupaten Jayapura.
‎
‎Berdasarkan pengamatan Radiosonde pada 10 Oktober 2026, terdeteksi adanya lapisan inversi subsidensi pada ketinggian sekitar 6,0 km hingga 6,6 km. Lapisan udara hangat ini menahan pergerakan udara ke atas, sehingga kabut asap dan polutan terperangkap di dekat permukaan tanah.
‎
‎Melihat kondisi kualitas udara yang berada pada tingkat sedang serta paparan partikel asap tipis yang masih berlangsung, BMKG Wilayah V Jayapura mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah antisipasi kesehatan yakni Mengurangi aktivitas di luar ruangan dan wajib mengenakan masker saat harus beraktivitas di ruang terbuka.
‎
‎Hindari melakukan pembakaran sampah atau lahan di ruang terbuka untuk tidak memperburuk kualitas udara. Menutup pintu dan jendela saat kondisi udara terdeteksi cukup berasap Segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gangguan pernapasan atau sesak napas, terutama bagi kelompok rentan. ( Redaksi)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *