Paraparatv.id | Jayapura | Kelestarian alam dan budaya di kawasan pesisir Teluk Youtefa menjadi tanggung jawab bersama, termasuk generasi muda.
Untuk memperkuat peran tersebut, pemuda Kampung Enggros mengikuti penguatan kapasitas melalui kegiatan Capacity Building yang mengangkat tema “Merawat Alam, Melestarikan Budaya, Membangun Masa Depan Pesisir Teluk Youtefa”, kegiatan digelar di Cafe Sederhana (Lokasi Bapak Steven Semra), Pantai Ciberi, Kota Jayapura, Papua. Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan yang terbuka untuk umum tersebut menghadirkan Motivator Papua, Kaka Jose,
Tokoh intelektual, tokoh adat Port Numbay sekaligus Anggota DPR Papua , Dr. Ir. Alberth Merauje, A.Md.Tek., S.T., M.T., IPM, serta Kepala Suku Semra, Steven Semra.
Melalui kegiatan ini, para peserta diajak mengenali potensi kampung, menjaga kelestarian pesisir, mempertahankan budaya, serta membangun masa depan masyarakat adat di kawasan Teluk Youtefa.
Motivator Papua, Kaka Jose, mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Namun, ia menyoroti masih rendahnya partisipasi generasi muda asli Port Numbay dalam berbagai kegiatan pengembangan kapasitas.
Menurutnya, dari ribuan peserta yang pernah mengikuti pelatihan yang ia berikan, jumlah pemuda Port Numbay masih sangat sedikit. Kondisi itu, kata dia, menunjukkan bahwa anak-anak muda setempat perlu terus didorong agar berani berkembang dan memanfaatkan peluang yang ada di daerahnya sendiri.
“Ini ironis, karena kemajuan justru datang ke tempat mereka. Orang lain datang mencari peluang di sini, sementara pemilik wilayah belum siap mengambil kesempatan itu,” ujarnya.
Melalui materi yang disampaikan, Kaka Jose mengaku sengaja menggugah pola pikir peserta agar keluar dari zona nyaman. Ia ingin menumbuhkan kesadaran bahwa masyarakat adat, khususnya generasi muda, memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku utama pembangunan di tanah kelahirannya.
Ia menegaskan, kemajuan Port Numbay akan menjadi fondasi bagi kemajuan wilayah Tabi dan Kota Jayapura secara keseluruhan. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki kekayaan alam, sejarah, dan budaya yang luar biasa sehingga harus dimanfaatkan dengan baik oleh generasi mudanya.
“Kemajuan harus dimulai dari Port Numbay. Kalau Port Numbay maju, maka Tabi akan maju, dan Jayapura juga akan maju,” katanya.
Kaka Jose juga mengapresiasi kehadiran para kepala suku, tokoh adat, serta mama-mama yang ikut mendukung kegiatan tersebut. Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi pertanda baik bahwa semangat membangun Kampung Enggros mulai tumbuh dan dapat menjadi modal bagi kemajuan di masa depan.
Sementara itu Alberth Merauje, mengajak generasi muda Papua untuk menjadi pelopor perubahan dengan membangun kehidupan yang dekat dengan Tuhan serta tetap menjaga identitas budaya sebagai jati diri masyarakat adat.
Ia mengapresiasi kehadiran motivator Kaka Jose yang dinilai mampu membangkitkan semangat generasi muda untuk melihat masa depan Papua dengan optimisme.
“Pertama-tama kita patut mengucap syukur atas kegiatan ini. Motivasi yang diberikan Kakak Yosua menggugah kita semua. Perubahan hanya bisa terjadi ketika kita bersandar kepada Tuhan, karena Dia adalah pemilik alam dan manusia,” ujarnya.
Menurut Alberth, Bukit Srobu memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi Tanah Papua. Kawasan tersebut diyakini sebagai tempat awal peradaban manusia, lokasi masuknya Injil, hingga pusat pemerintahan pertama di wilayah yang kini menjadi Kota Jayapura.
“Segala peristiwa besar di tanah ini berawal dari tempat ini. Peradaban manusia, masuknya Injil, hingga pemerintahan pertama di Kampung Tobati. Dari sinilah kemudian berkembang menjadi Hollandia atau Kota Jayapura sekarang,” katanya.
Sebagai peneliti yang pernah melakukan kajian di kawasan Bukit Srobu, Alberth mengaku melihat banyak tanda bahwa Papua sedang memasuki masa perubahan.
Ia menyebut perubahan itu mulai terlihat di lingkungan adat, birokrasi, hingga kehadiran putra-putra asli Papua dalam lembaga legislatif.
“Saya sudah melihat tanda-tanda perubahan itu. Tuhan izinkan saya masuk DPR Papua, dan saya ingin memperjuangkan kepentingan masyarakat, terutama terkait sumber daya manusia, sumber daya alam, infrastruktur, hingga persoalan perizinan yang menyangkut potensi daerah,” ungkapnya.
Alberth juga menekankan pentingnya menjaga bahasa dan budaya sebagai identitas masyarakat Port Numbay. Menurutnya, generasi muda tidak boleh melupakan bahasa ibu yang diwariskan leluhur.
“Budaya adalah jati diri. Saya selalu mengingatkan masyarakat Tobati dan Enggros agar tetap menjaga bahasa. Kalau mengaku memakai marga Merauje atau Sembra, maka harus bisa berbahasa daerahnya. Bahasa itu adalah warisan yang Tuhan berikan kepada kita,” tegasnya.
Ia berharap kegiatan pembinaan seperti ini menjadi awal lahirnya gerakan besar yang dipelopori anak-anak muda Port Numbay untuk membawa perubahan positif bagi Papua.
“Walaupun yang hadir hari ini belum banyak, saya berharap mereka menjadi penggerak bagi teman-temannya. Dari sinilah kita membangun gerakan besar untuk mengubah Tanah Papua dan memberikan kontribusi bagi Indonesia,” Ungkap Alberth.
Ditempat yang sama, Kepala Suku Semra, Steven Semra menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan pembinaan dan motivasi bagi masyarakat di Kampung Tobati. la berharap kegiatan serupa terus dilakukan untuk membangkitkan semangat generasi muda sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya mama-mama.
la mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengundang para pemuda dari Tobati hingga Holtekamp untuk mengikuti kegiatan tersebut. Meski kehadiran pemuda belum maksimal dan lebih banyak dihadiri mama-mama, hal itu tidak mengurangi semangat penyelenggara.(VN)














