Example floating
BERITAPeristiwa

Hari Lahir Pancasila, Alberth Merauje: Pendidikan Pancasila Perlu Terus Ditanamkan kepada Generasi Muda di Era Teknologi

23
×

Hari Lahir Pancasila, Alberth Merauje: Pendidikan Pancasila Perlu Terus Ditanamkan kepada Generasi Muda di Era Teknologi

Sebarkan artikel ini
Anggota DPR Papua dari Partai NasDem, Dr. Ir. Alberth Merauje, A.Md.Tek., S.T., M.T., IPM

Paraparatv.id | Jayapura | Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni menjadi momentum penting bagi seluruh rakyat Indonesia untuk mengenang lahirnya dasar negara yang menjadi pemersatu bangsa. Peringatan tersebut merujuk pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 yang menetapkan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila.

Sebagai tokoh intelektual dan tokoh adat Port Numbay, yang juga merupakan Anggota DPR Papua dari Partai NasDem, Dr. Ir. Alberth Merauje, A.Md.Tek., S.T., M.T., IPM mengatakan tema nasional Hari Lahir Pancasila tahun ini yakni “Pancasila Pemersatu Bangsa, fondasi Perdamaian Dunia” sangat tepat dan relevan dengan kondisi Indonesia sebagai negara yang memiliki keberagaman suku, bahasa, budaya, dan agama.

Menurut Alberth, Pancasila merupakan landasan negara, filosofi negara, sekaligus dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lahir dari pemikiran para pendiri bangsa. Para pendiri bangsa melihat Indonesia sebagai negara yang terdiri dari ribuan pulau dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda sehingga diperlukan dasar negara yang mampu mempersatukan seluruh rakyat Indonesia.

“Para pemikir bangsa sejak zaman Sriwijaya, Majapahit hingga Indonesia merdeka memikirkan bagaimana negara yang sangat besar dan beragam ini dapat dipersatukan. Pancasila adalah karunia Tuhan yang diberikan melalui para pendiri bangsa sehingga Indonesia memiliki dasar negara yang mampu mempersatukan seluruh rakyatnya,” kata Alberth melalui sambungan selular kepada paraparatv.id, Senin (1/6).

Ia menjelaskan bahwa meskipun Pancasila telah mengalami berbagai dinamika sepanjang sejarah bangsa, namun hingga saat ini tetap menjadi fondasi yang kokoh bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun demikian, Alberth menilai bahwa dalam perkembangan zaman, khususnya di era teknologi atau digital yang berkembang sangat pesat saat ini, nilai-nilai Pancasila mulai mengalami degradasi dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini mulai mengalami penurunan dalam mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara.

“Kalau kita lihat saat ini, nilai-nilai Pancasila mulai mengalami degradasi. Mulai ada penurunan bagaimana warga negara Indonesia mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam seluruh aspek kehidupan. Nilai-nilai itu sedikit demi sedikit mulai terkikis,” ujarnya.

Alberth mencontohkan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurutnya, sebagai negara yang berlandaskan Pancasila, seluruh warga negara harus menghargai Tuhan dan menghormati setiap bentuk peribadatan yang dilakukan oleh pemeluk agama yang berbeda.

Ia mengamati bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan dalam kehidupan beragama masyarakat. Jika dahulu masyarakat berbondong-bondong datang ke gereja, masjid maupun tempat ibadah lainnya untuk bersekutu dan beribadah bersama, kini sebagian orang lebih memilih mengikuti ibadah secara daring melalui berbagai platform digital.

“Teknologi memang memudahkan. Orang bisa mengikuti ibadah melalui live streaming atau YouTube dari rumah. Tetapi kalau kita datang langsung ke gereja atau tempat ibadah, kita merasakan suasana ibadah yang sesungguhnya. Kita bertemu dengan sesama, saling menghargai dan merasakan kebersamaan secara fisik,” katanya.

Menurut Alberth, kehadiran teknologi tidak bisa dihindari, namun harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai sosial, budaya dan spiritual agar tidak mengikis semangat kebersamaan yang menjadi bagian dari nilai-nilai Pancasila.

Selain perkembangan teknologi, ia juga menyoroti berkurangnya pendidikan Pancasila di lingkungan sekolah. Alberth mengenang pada masa dirinya menempuh pendidikan, terdapat mata pelajaran khusus seperti Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) maupun Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang mengajarkan teori sekaligus praktik nilai-nilai Pancasila.

“Kalau dulu waktu kami sekolah dari SD, SMP sampai SMA ada mata pelajaran P4 dan PMP. Kita belajar teori dan juga praktiknya dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi sekarang di era teknologi seperti ini pengajaran yang mendalam tentang Pancasila sudah semakin jarang dilakukan, bahkan hampir tidak ada lagi,” ungkapnya.

Karena itu, Alberth menilai pendidikan Pancasila harus kembali diperkuat sejak usia dini. Menurutnya, pondasi pendidikan karakter yang kuat harus dibangun mulai dari tingkat sekolah dasar agar generasi muda memiliki pemahaman yang baik mengenai nilai-nilai kebangsaan.

“Kalau pondasinya sudah kuat sejak SD, SMP dan SMA, maka ketika mereka menjadi pemuda dan mahasiswa tinggal mengaplikasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari. Generasi muda harus diajarkan kebersamaan, kekompakan, gotong royong dan semangat persatuan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Alberth menegaskan bahwa apabila nilai-nilai Pancasila benar-benar dilaksanakan oleh seluruh elemen bangsa, mulai dari Presiden hingga aparat pemerintah di tingkat kampung, maka cita-cita kesejahteraan bangsa Indonesia dapat terwujud.

Ia mengatakan bahwa Pancasila tidak boleh hanya menjadi slogan, simbol atau semboyan semata. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus diwujudkan dalam kebijakan dan tindakan nyata yang berpihak kepada rakyat.

“Pancasila harus diwujudnyatakan. Jangan hanya menjadi simbol. Negara harus hadir di tengah-tengah masyarakat. Apa yang tertuang dalam UUD 1945 bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dipergunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat harus benar-benar diwujudkan,” katanya.

Menurut Alberth, berbagai program nasional yang saat ini dijalankan pemerintah seperti Proyek Strategis Nasional (PSN), Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat maupun Koperasi Merah Putih pada dasarnya bertujuan memperkuat persatuan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Program-program itu tujuannya untuk pemersatu bangsa, bukan untuk memecah belah bangsa. Karena itu yang harus dilihat adalah bagaimana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Mengenai tantangan terbesar dalam menjaga nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda, Alberth menekankan pentingnya pendidikan sejak usia dini. Menurutnya, penanaman nilai-nilai Pancasila tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus dimulai dari tingkat dasar.

Selain pendidikan, generasi muda juga perlu mendapatkan kesempatan yang lebih luas untuk berkembang melalui penyediaan lapangan kerja, ruang kreativitas serta berbagai kegiatan yang mendorong kebersamaan dan persatuan.

“Kalau generasi muda dipersiapkan dengan baik, diberikan pendidikan yang baik, lapangan pekerjaan dan ruang untuk berkembang, maka mereka akan menjadi generasi yang mampu menjaga nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Dalam konteks menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, Alberth juga menyoroti pentingnya keterwakilan seluruh suku bangsa dalam pemerintahan, TNI, Polri maupun sektor swasta.
Menurutnya, keberagaman harus tercermin dalam berbagai sektor sehingga seluruh masyarakat merasa memiliki Indonesia dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

“Tidak boleh ada satu suku yang terlalu dominan. Semua suku bangsa dari Sabang sampai Merauke harus ada dan merasa memiliki Indonesia. Bukan hanya di pemerintahan tetapi juga di sektor swasta. Dengan begitu semua merasa menjadi bagian dari bangsa ini,” ujarnya.

Alberth optimistis cita-cita para pendiri bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang makmur dan sejahtera dapat tercapai apabila seluruh elemen bangsa berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila.

Ia menilai Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah dan lebih dari cukup untuk menyejahterakan rakyat. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut dikelola secara adil dan bertanggung jawab demi kepentingan masyarakat.

“Kita punya potensi alam yang luar biasa. Yang perlu dilakukan adalah mengelolanya dengan baik sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh rakyat Indonesia,” katanya.

Khusus kepada masyarakat Papua, terutama generasi muda, Alberth mengajak untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan dan anugerah Tuhan yang harus dijaga bersama.
Ia mengingatkan bahwa Pancasila merupakan falsafah negara yang harus menjadi pedoman dalam berkata, bertindak dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebagaimana tema nasional tahun ini, Pancasila adalah pemersatu bangsa. Bagi kita yang hidup di Tanah Papua, mari melihat bahwa perbedaan itu indah. Taruhlah Pancasila di hati kita sehingga nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan dan keadilan benar-benar hidup dalam diri kita,” ujarnya.

Menurut Alberth, mengamalkan Pancasila pada hakikatnya juga merupakan bagian dari pengamalan iman kepada Tuhan. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan masyarakat untuk menghormati Tuhan sekaligus menghargai sesama manusia tanpa membedakan latar belakang suku, agama maupun golongan.

Ia juga mengajak generasi muda untuk mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.

“Kalau ada persoalan, mari kita duduk bersama dan berbicara. Kalau ingin menyampaikan aspirasi, lakukan dengan baik tanpa mengganggu orang lain. Itulah nilai-nilai Pancasila yang harus terus kita jaga,” katanya.

Di akhir pesannya, Alberth berharap generasi muda Papua dapat menjadikan Pancasila sebagai pedoman hidup dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Otonomi Khusus Papua.

“Dengan Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, mari kita membangun Papua ke depan. Mari kita tanamkan lima sila Pancasila dalam hati kita sehingga kekayaan Papua dapat dikelola untuk kesejahteraan masyarakat Papua, kesejahteraan Indonesia dan juga kesejahteraan dunia,” pungkasnya.(VN)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *