Example floating
BERITA

GIDI Klasis Keerom Peringati 74 Tahun Injil Masuk di Senggi

134
×

GIDI Klasis Keerom Peringati 74 Tahun Injil Masuk di Senggi

Sebarkan artikel ini

Paraparatv.id | Keerom | Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Klasis Keerom memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Injil Masuk Senggi dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Perayaan yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh para pendeta, majelis jemaat, tokoh adat, pemerintah setempat, serta ratusan jemaat dari berbagai wilayah di Kabupaten Keerom.

Ibadah deklarasi ulang tahun yang ke- 74 tahun Injil masuk di Senggi Keerom pada 2 Maret 1952, bertempat di Jemaat Gidi Asia TCM Arso 8, kampung Baburia rabu, 4 maret 2026.

---

Suasana pemperingati masuknya injil di wilayah Senggi yang menjadi cikal bakal berdirinya Gereja-gereja Injili (GIDI) di wilayah Keerom sampai saat ini menjadi makna penting bagi Orang Papua. dimana, penginjilan adalah kunci untuk memberikatakn injil sampai ke pelosok Tanah Papua.

Presiden GIDI, Pdt. Usman kobak, S, Th, MA mengajak seluruh jemaat untuk terus mengingat perjalanan sejarah masuknya Injil di wilayah Senggi yang telah membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat, khususnya dalam bidang iman, pendidikan, dan kehidupan sosial.

“Orang GIDI masuk di keerom, kalau hanya bikin kebun, makan tidur di keerom itu rugi, Harus melayani dan memberitakan Injil” tutur Presiden Gidi Usman Kobak, S,Th,MA dalam Pelayanan Firmannya.

Usman Kobak menekankan bahwa Injil yang pertama kali diberitakan 74 tahun lalu di Senggi telah menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan gereja dan pembentukan karakter masyarakat Kristen di wilayah tersebut.

“Perjalanan 74 tahun Injil di Senggi merupakan anugerah Tuhan yang harus terus dijaga sebagai warisan rohani berkat kekal, Kita harus berani beritakan Injil ”tegas Usman

Usman mengatakan 74 Tahun lalu Injil dari misi GIDI masuk Keerom di Senggi sebuah perjalanan dan cerita panjang dalam misi penginjilan.

Dalam penerapanya GIDI memiliki Tiga Poin dalam semangat memberitakan injil, yaitu 3D
‎1. doa
‎2. Daya
‎3. Dana

‎‎”Warisan rohani adalah berkat kekal, Kita harus berani beritakan Injil, dan harus kurangi orang penakut,tapi harus utamakan orang -orang berani, Memberitakan Injil jangan setengah -setengah,”tegas Usman
‎‎
Andreas Wakur , Ketua KLASIS GIDI Wilayah Keerom dalam sambutannya mengatakan bahwa perayaan 74 tahun ini akan di laksanakanan di Senggi sebagai pengingat sejarah perjalanan pelayanan injil melalui GIDI di Keerom pada tahun 1952 yang di mulai dari Senggi..
‎” pelayanan GIDI pertama kali pada tahun 1952 sampai saat ini. momentum ulang tahun ini, kami akan kembali menelusuri telapak kaki penginjilan disana” ungkap Andreas Wakur.

Ditambahkan, perayaan yang sama di tahun pihaknya juga akan melakukan perayaan 75 tahun di Senggi tempat dimana pertama kali Panji Penginjilan di kibarkan GIDI.

Selain itu Andreas Wakur juga mengungkapkan bahwa selama 74 Tahun Penginjilan Gidi, sudah mendirikan 24 Gereja GIDI di Kabupaten Keerom menurut data GIDI Klasis Keerom.

” kami sudah melebarkan misi pelayanan, ada 24 gereja yang sudah di dirikan GIDI di Kabupaten Keerom, sebuah capaian luar biasa yang harus di syukuri ” katanya.

Selain ibadah syukur, peringatan ini juga diisi dengan berbagai kegiatan rohani dan kebersamaan jemaat, seperti puji-pujian, kesaksian iman, serta refleksi sejarah pelayanan gereja di wilayah Senggi.

Tema sentra Hu Pekabaran Injil masuk di Senggi yakni “Penginjilan Belum selesai” dengan sub Thema, GIDI Maju Mandiri dan Menjadi Berkat Bagi Seluruh Bangsa”

Sejarah singkat Perjanalan Misi GIDI memberitakan Injil di Tanah Papua, pertama kali dirintis oleh tiga orang dari Badan Misi UFM dan APCM yaitu Hans Veldhuis, Fred Dawson, Russel Bond. Setelah merintis pos di Senggi termasuk membuka lapangan terbang pertama Senggi (1951-1954), pada tanggal 20 Januari 1955 ketiga misionaris beserta tujuh orang pemuda dari Senggi terbang dari Sentani tiba di Lembah Baliem di Hitigima menggunakan pesawat amphibi Sealander.

Kemudian mereka melanjutkan misi dengan berjalan kaki dari Lembah Baliem ke arah Barat pegunungan Jayawijaya melalui dusun Piramid. Dari Piramid bertolak menyeberangi sungai Baliem dan menyusuri sungai Wodlo dan tiba di Ilugwa. Setelah mereka beristirahat lanjutkan perjalanan ke arah muara sungai Ka’liga (Hablifura) dan akhirnya tiba di danau Archbol pada tanggal 21 Februari 1955.(Nesta)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *