Perjalanan itu dimulai dari kaki yang melangkah, dari bahu yang memikul, dari napas yang perlahan menjadi pendek. Pagi masih basah oleh sisa hujan ketika sekelompok relawan medis meninggalkan Kampung Bangai, pusat Distrik Gresi Selatan. Tidak ada suara mesin, tidak ada roda yang berputar. Hanya tubuh-tubuh yang bergerak masuk ke hutan Grime Nawa, membawa ransel berisi obat, alat medis sederhana, dan harapan yang tak pernah benar-benar ringan. Tujuan mereka adalah Kampung Omon.
Catatan : Ari Bagus Poernomo
DI ATAS KERTAS, jaraknya hanya sekitar 17 hingga 18 kilometer. Angka yang tampak kecil, nyaris tak berarti. Namun di lapangan, angka itu berubah menjadi tujuh hingga delapan jam berjalan kaki menembus lumpur, menyeberangi sungai, dan menantang waktu yang terus bergerak tanpa peduli siapa yang tertinggal. Peta hanya mengenal jarak. Tubuh mengenal lelah. Waktu mengenal korban.
Kampung Omon berada di Kabupaten Jayapura, kabupaten induk dan tertua di Provinsi Papua. Secara geografis, kampung ini tidak jauh dari pusat pemerintahan provinsi. Dengan kendaraan bermotor, jarak itu seharusnya dapat ditempuh dalam waktu singkat. Namun kata “seharusnya” berhenti di tepi hutan. Di Kampung Omon, jalan tidak pernah benar-benar ada.
Setelah satu jam berjalan, tanah berubah licin. Lumpur menelan mata kaki, menahan langkah, memaksa tubuh menyesuaikan diri. Setiap orang berjalan dengan ritme sendiri, berhenti ketika perlu, menunggu yang tertinggal. Jalur ini bukan hanya dilalui relawan medis. Jalur ini adalah jalur hidup warga Kampung Omon.

Di sinilah orang sakit dipikul.
Tanpa tandu. Tanpa ambulans. Tanpa kepastian. Orang sakit dibaringkan di atas kayu, diikat dengan kain seadanya, lalu diangkat bergantian di pundak warga. Tubuh-tubuh lain menjadi penyangga bagi tubuh yang melemah. Ketika hujan turun dan sungai meluap, perjalanan berhenti. Ketika malam datang lebih cepat, mereka bertahan di hutan. Ketika tubuh tak lagi kuat menahan sakit, waktu berhenti lebih dulu.
Tiga sungai besar menghadang di tengah jalur. Tidak ada jembatan. Air mengalir keruh, arusnya berubah-ubah. Relawan medis menyeberang satu per satu, berpegangan tangan, menjaga ransel agar tidak basah. Di sungai-sungai ini, banyak perjalanan terputus.
“Kalau air besar, kami tunggu,” kata seorang warga. “Pernah orang sakit meninggal karena tunggu air surut.” Tambahnya.
Kalimat itu disampaikan tanpa amarah, tanpa nada tinggi. Di Kampung Omon, kematian telah lama menjadi bagian dari perjalanan.
Kampung ini dihuni oleh Suku Elseng. Secara administratif, Kampung Omon baru dibentuk pada 1993. Namun jauh sebelum itu, masyarakat adat telah mendiami kawasan hutan Grime Nawa selama puluhan bahkan ratusan tahun. Hutan adalah rumah, sekaligus batas. Ia memberi makan, tetapi juga memisahkan.
Keterisolasian ini bukan peristiwa sesaat. Ia diwariskan. Dari generasi ke generasi. Dari satu tubuh ke tubuh lain.
Kampung Omon baru terlihat setelah hampir delapan jam berjalan. Rumah-rumah kayu berdiri sederhana di antara pepohonan. Tidak ada listrik. Tidak ada bangunan puskesmas. Tidak ada sekolah permanen. Hanya kehidupan yang bertahan dengan apa adanya.

Yafet tidak perlu berpikir lama untuk bercerita. Cerita itu seperti sudah lama menunggu di dalam dirinya. Ia telah menjadi saksi terlalu banyak kematian di jalur yang sama yang baru saja dilalui rombongan relawan medis.
“Saya punya bapak kandung sakit,” kata Yafet. “Kami pikul ke Bangai. Mati di jalan. Kami kubur di jalan.”ujarnya.
Ayahnya meninggal di atas pundaknya sendiri. Tubuh ayahnya melemah, sementara jarak masih panjang. Tidak ada dokter. Tidak ada obat. Tidak ada pilihan lain selain terus berjalan hingga langkah berhenti dengan sendirinya.
Paman Yafet adik dari ayahnya mengalami nasib yang sama. Sakit. Dipikul. Mati di jalan. Jenazah kembali dipikul masuk ke kampung.
“Banyak orang mati seperti itu,” ujar Yafet.
“Penderitaan ini kami alami sejak Indonesia merdeka. Tapi kami tidak pernah merasakan pembangunan di Kampung Omon ini.”tuturnya lagi.

Bagi Yafet, jalan bukan sekadar infrastruktur. Jalan adalah garis tipis antara hidup dan mati. Jalan adalah penentu apakah seseorang bisa sampai ke pertolongan, atau hanya sampai ke liang kubur.
Berangkat dari pengalaman itu, Yafet melakukan sebuah tindakan kecil yang sarat makna. Ia menuliskan keluhan masyarakat Kampung Omon di selembar kertas dan menggantungkannya di sebuah pohon di jalur menuju kampung. Sebuah pesan sederhana, digantung di antara hutan dan harapan.

Masyarakat Kampung Omon tidak menuntut banyak. Mereka hanya meminta jalan.
Komunitas Medis Papua Tanpa Batas menjadi salah satu pihak yang mencoba menembus batas keterisolasian ini. Koordinator pelayanan Wilayah Tabi, dr. Rafael Morin, menjelaskan bahwa pendampingan kepada masyarakat Suku Elseng dimulai sejak 2021. Pada tahap awal, pelayanan belum bisa menjangkau Kampung Omon dan hanya dilakukan di Kampung Bangai, pusat Distrik Gresi Selatan.
“Waktu itu warga Omon yang turun untuk berobat,” kata Rafael.
Baru pada 2024, tim medis mulai masuk langsung ke Kampung Omon. Hingga kini, pelayanan telah dilakukan sebanyak enam kali. Enam kali berjalan kaki sejauh 18 kilometer. Enam kali menyeberangi sungai. Enam kali menantang medan yang sama.
“Kampung Omon ini salah satu titik pelayanan terjauh dan tersulit yang pernah kami jangkau,” ujar Rafael.
Ia menyebut ironi yang sulit diabaikan. Kampung ini berada di kabupaten tertua di Provinsi Papua. Jaraknya relatif dekat dengan pusat pemerintahan provinsi. Namun masih ada masyarakat yang hidup berpindah-pindah, dengan keterbatasan pendidikan dan tingkat tuna aksara yang tinggi.

“Ketika kami masuk, komunikasi juga sulit,” katanya. “Ini bukan hanya soal kesehatan. Ini soal keterisolasian yang dibiarkan lama.” Tambahnya.
Pelayanan kesehatan dilakukan di rumah-rumah warga. Anak-anak diperiksa di lantai kayu. Lansia duduk menunggu giliran dengan sabar. Penyakit yang ditemukan sebagian besar adalah penyakit yang sebenarnya bisa ditangani lebih awal jika akses kesehatan tersedia.

Namun tanpa jalan, waktu selalu lebih cepat dari pertolongan.
Rafael menyadari keterbatasan peran timnya. Relawan medis bisa datang dan pergi. Obat bisa dibawa dan habis. Tetapi tanpa perubahan struktural, tragedi seperti yang dialami Yafet akan terus berulang.
“Kami berharap kehadiran kami bisa menjadi perhatian pemerintah, akses jalan adalah kunci” ujarnya.

Harapan itu juga disimpan Kepala Kampung Omon, Frans Tabisu. Dalam masa jabatannya, ia berupaya berkomunikasi dengan berbagai pihak di tingkat Kabupaten Jayapura maupun Provinsi Papua. Hingga kini, belum ada jawaban pasti.
Meski demikian, Frans tidak berhenti. Dengan anggaran kampung yang terbatas, ia perlahan menjalankan program pembangunan bersama masyarakat Suku Elseng.
“Jalan harus ada. Kesehatan harus ada. Sekolah harus ada. Lampu juga harus ada, kami ingin kampung ini sama seperti kampung lain.” katanya.
Ia sadar masa jabatannya tidak panjang. Tetapi ia ingin meninggalkan jejak bahwa Kampung Omon pernah diperjuangkan.
Sore mulai turun ketika relawan medis bersiap meninggalkan kampung. Perjalanan pulang sama beratnya. Sungai kembali diseberangi. Lumpur kembali menahan langkah. Di jalur yang sama, bayangan cerita Yafet terus mengikuti.
Tentang tubuh yang dipikul. Tentang waktu yang tidak menunggu. Tentang jalan yang tidak pernah datang.
Relawan medis akan kembali, entah kapan. Tetapi selama jalan belum ada, Kampung Omon akan tetap berada di tempat yang sama dekat di peta, jauh dalam kehidupan.
Di Kampung Omon, tubuh selalu menjadi alat transportasi. Waktu selalu menjadi lawan. Dan jalan yang bagi banyak tempat hanyalah sarana menjadi persoalan paling filosofis: tentang siapa yang berhak sampai lebih dulu kepada kehidupan. (***)
















