Paraparatv.id | Jayapura | Kunjungan Wali Kota Jayapura ke Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, mendapat apresiasi mendalam dari masyarakat kampung Mosso. Kepala Kampung Mosso menilai kehadiran Wali Kota tidak hanya membawa semangat pembangunan, tetapi juga menunjukkan kepedulian yang besar terhadap masyarakat di perbatasan.
“Kunjungan Bapak Wali Kota ke Kampung Mosso ini merupakan momen yang luar biasa. Respon beliau terhadap masyarakat sangat baik, dan beliau adalah sosok teladan yang peduli dengan lpkondisi kami di kampung,”.kata Kepala Kampung Mosso, Biliam Woga Foa, Rabu 24 September 2025
Diungkapkan saat ini, Kampung Mosso dihuni oleh 235 kepala keluarga atau sekitar 600 jiwa. Dengan dukungan dana kampung lebih dari Rp7 miliar, pemerintah kampung fokus pada sejumlah program pembangunan.
Bidang pendidikan: Pemerintah kampung membiayai dua anak dari Mosso yang bersekolah di Pulau Jawa menggunakan Dana Desa.
Perumahan: Program pembangunan rumah layak huni dipastikan akan menjangkau seluruh masyarakat agar tidak ada warga yang tinggal di rumah tidak layak.
Potensi wisata: Kampung Mosso memiliki sumber air panas alami yang diharapkan dapat dikelola menjadi destinasi wisata melalui kerja sama dengan dinas terkait.
Kampung Mosso dihuni oleh 12 suku, dengan sebagian besar masyarakat berasal dari suku Nyao. Banyak warga suku tersebut sebelumnya tinggal di wilayah Papua Nugini (PNG), tepatnya di Kampung Nyao, Distrik Vanimo Green.
Saat ini sebagian besar telah pindah ke Kampung Mosso, sementara sekitar 20–30 kepala keluarga masih menetap di PNG untuk menjaga hak ulayat mereka.
Kepala Kampung Mosso menegaskan bahwa pihaknya bersama para tokoh adat, termasuk Kepala Suku Indoafi, telah sepakat menerima program transmigrasi lokal yang difasilitasi oleh Wali Kota Jayapura sebagai bentuk perubahan positif bagi masyarakat.
Menanggapi isu peredaran ganja di wilayah perbatasan, Kepala Kampung Mosso menegaskan bahwa masyarakat asli suku Nyao tidak terlibat dalam aktivitas tersebut.
“Kami orang asli Mosso tidak ada hubungan dengan ganja. Namun karena ada hubungan kekerabatan, sebagian orang PNG yang menikah dengan warga Mosso kerap membawa barang itu masuk ke sini,” ungkapnya.
Menurutnya, lemahnya pengawasan di jalur tradisional perbatasan membuat peredaran ganja sulit dikendalikan. Ia berharap aparat keamanan dan pihak imigrasi lebih tegas dengan membangun pos jaga di titik-titik jalan tradisional yang masih digunakan sebagai jalur keluar masuk masyarakat dari Papua Nugini.
Kepala Kampung Mosso berharap perhatian dan dukungan Pemerintah Kota Jayapura terus berlanjut, baik dalam bidang pembangunan, peningkatan ekonomi masyarakat, Kesehatan, pendidikan, maupun penguatan keamanan di wilayah perbatasan.
“Dengan adanya kepedulian Wali Kota dan kerja sama berbagai pihak, kami yakin Kampung Mosso bisa berkembang lebih baik, aman, dan sejahtera bagi seluruh masyarakat,”tutupnya. (Redaksi)

















