Paraparatv.id | Jayapura | Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, Benhur Tomi Mano dan Constan Karma (BTM-CK), secara dramatis mengumumkan klaim kemenangan dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilgub Papua 2025. Pidato yang disampaikan pada Jumat malam di Kantor DPD PDI Perjuangan Papua ini bukan hanya mengklaim keunggulan, tetapi juga melempar tudingan dan peringatan tajam terhadap para penyelenggara pemilu, termasuk institusi kepolisian.
Dengan data internal yang disebutnya berasal dari 100% C Hasil Salinan, BTM-CK mengklaim memenangkan 50,72% suara, atau 259.886 suara, unggul 1,44% dari rival mereka. Namun, alih-alih merayakan, Benhur Tomi Mano langsung menyoroti adanya “tekanan yang hadir tanpa seragam” dan “bisikan kekuatan tersembunyi” yang mencoba memadamkan demokrasi.
Polri Diperingatkan: Jangan Terseret ke Politik
Dalam pernyataan yang paling berani, Benhur Tomi Mano secara gamblang menyoroti peran institusi Kepolisian. Ia tidak lagi sekadar mengingatkan, tetapi melontarkan tantangan serius terkait netralitas.
“Kepada Kepolisian Republik Indonesia, izinkan kami mengingatkan dengan hormat, tugas Anda bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjaga martabat demokrasi. Jangan sampai institusi yang seharusnya melindungi rakyat, justru terseret ke dalam tarikan politik tertentu,” katanya.
Pidato tersebut memposisikan Kepolisian dalam persimpangan dilema: antara melindungi keamanan atau justru menjadi alat politik. BTM bahkan menggunakan metafora “api dalam sekam” untuk menggambarkan potensi konflik yang bisa meletus jika keberpihakan politik benar-benar terjadi.
“Kita tak ingin bara itu menyala menjadi konflik,” ujarnya. “Maka hari ini, kami bicara bukan dengan amarah, tapi dengan kesadaran. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan bukti. Bukan pula untuk menjatuhkan, tapi untuk mengingatkan: bahwa rakyat Papua telah memilih. Hargailah itu.”
Ia memperkuat sindirannya dengan menuding adanya upaya manipulasi. “Kita telah mendengar sendiri rekaman telepon, pesan WhatsApp, SMS, semuanya menyebar seperti bara dalam sekam, membuka kedok mereka yang menjual nurani demi kepentingan sesaat. Ini bukan sekadar pelanggaran administratif, ini adalah kelakuan biadab para pelacur politik,” ungkapnya, menggunakan diksi yang sangat provokatif.
Pidato tersebut berakhir dengan seruan kepada pendukung untuk mengawal ketat proses rekapitulasi, menunjukkan bahwa pasangan BTM-CK tidak akan percaya begitu saja pada jaminan keamanan dan netralitas dari pihak terkait. (redaksi)
















