Parapatv.id | Sentani | Organisasi Pangan dan Pertanian, Food Agriculture Organization (FAO) akan memberikan bantuan penting dalam pengelolaan sagu di Kampung Yoboi, Distrik Sentani Kota pada hari Senin mendatang. Bantuan ini bukan hanya sekadar dukungan teknis, tetapi juga merupakan langkah awal dalam upaya penyelamatan sagu sebagai bagian penting dari warisan budaya dan sumber pangan masyarakat adat di Kabupaten Jayapura.
Yo Ondofollo Kampung Babrongko, Ramses Wally, menyambut baik inisiatif ini dan menekankan bahwa kerja sama antara lembaga internasional dan masyarakat adat adalah kunci untuk melindungi sagu dari kepunahan. “Sagu adalah identitas kita, sumber kehidupan kita. Jika sagu hilang, maka hilang juga sebagian dari diri kita,” ujarnya dengan penuh semangat.

Wally menjelaskan bahwa sagu memiliki nilai filosofis yang sangat dalam bagi masyarakat adat Papua, khususnya di sekitar Danau Sentani. Sagu bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol kemakmuran, keberlanjutan, dan hubungan yang erat antara manusia dengan alam. “Sagu adalah firdaus yang jatuh ke bumi,” demikian ungkapan yang sering diucapkan oleh masyarakat adat untuk menggambarkan betapa berharganya sagu bagi mereka.
Namun, Wally juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi dusun sagu yang semakin terancam akibat alih fungsi lahan untuk pembangunan. Ia menilai bahwa kebijakan yang tidak memperhatikan keberlanjutan sagu adalah kebijakan yang salah dan merugikan masyarakat adat. “Kita harus bertindak sekarang sebelum semuanya terlambat,” kata Ramses di Sentani, Kamis 06 Februari 2025.
Oleh karena itu, bantuan dari FAO ini diharapkan dapat menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya penyelamatan sagu. Selain itu, bantuan ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat melalui pengembangan produk-produk olahan sagu yang bernilai tambah.
Lebih lanjut, Wally juga mengajak masyarakat Papua untuk kembali mengonsumsi pangan lokal seperti sagu dan meninggalkan makanan instan. Ia menilai bahwa makanan instan kurang bergizi dan dapat menjadi salah satu penyebab stunting pada anak-anak. “Dengan kembali ke pangan lokal, kita tidak hanya melestarikan budaya kita, tetapi juga menjaga kesehatan generasi penerus kita,” imbaunya.
“Sagu adalah sumber pangan asli Indonesia yang harus kita jaga bersama. Papua adalah salah satu daerah yang masih memiliki sagu dengan seluruh variannya. Ini adalah kekayaan yang tak ternilai harganya,” pungkas Wally. (Arie)

















