Mengabdi sejak 1996 kenaikan honor baru terjadi pada tahun 2021 dengan nilai Rp. 60.000.
Catatan : Ari Bagus Poernomo
SETELAH turun dari sepeda motor, sejurus kemudian Lenora Puhili langsung menghampiri kami yang tengah duduk di pelataran rumah Kepala Kampung Puay.
Dia mengira ada masyarakat kampung yang sedang sakit karena dijemput paksa oleh Kepala Kampung Puay, Yunus Wahey.
“Ah, saya kira ada yang sakit, abisnya pak Kepala Kampung suruh saya cepat-cepat jadi, kalau tau yang datang ini kaka kam dua (kalian berdua) tadi saya dandan dulu” canda Lenora, Rabu (08/11) sore.
Usai bercanda dengan kami, Lenora duduk di salah satu kursi plastik dan mulai mengisahkan pengabdian yang ia jalani sebagai kader Posyandu selama 27 tahun terakhir ini.
Lenora Puhili adalah seorang Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Ia menggeluti pekerjaan sampingan ini bukan karena mengejar nominal dalam rupiah.
“Tidak ada tujuan kesitu, karena saya lihat sendiri di kampung ini dulu itu banyak yang sakit khususnya anak-anak jadi pas ditunjuk sama Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura sebagai Kader Posyandu saya senang, dalam arti saya bisa bantu saya punya masyarakat di Kampung sini. Kalau ada yang sakit” kata Lenora.
Dia mengatakan, sejak tahun 1996 hingga 2020 dia mengabdi, honornya sebagai seorang Kader Posyandu adalah Rp. 300 ribu pertahun. Barulah pada tahun 2021 ada kenaikan sebesar Rp. 60.000.
“Ya, disyukuri saja. Karena tujuan saya sebenarnya bukan untuk uang tapi untuk bantu masyarakat di Kampung sini, karena kita di kampung ini semua keluarga” katanya.
Selain menjadi kader Posyandu, Lenora juga merupakan kader Malaria di Kampung Puay, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura.
“Untuk kader malaria kita dapat honor lumayan lah dari pada Kader Posyandu. untuk malaria honor kita dibayar perbulan jadi bisalah dipakai untuk memenuhi kebutuhan” ucapnya.
Dikatakannya, penyakit yang paling banyak diidap oleh masyarakat Kampung Puay adalah Malaria dan TB.
Dia menjelaskan, sebagai kader posyandu dan juga malaria, dia hanya bisa menangani gejala awal jika ada masyarakat yang sakit.
“Tapi kalau sudah parah mau tidak mau harus dilarikan ke puskesmas rumah sakit terdekat. Karena Pustu (Puskesmas Pembantu) disini hanya melayani 2 kali dalam satu bulan” ucapnya.
Itupun dengan peralatan dan kesedian obat seadanya, sehingga jika ada yang berobat saat Pustu sedang pelayanan maka akan dilayani seadanya pula.
Dia berharap sekiranya pelayanan di Pustu Kampung Puay bisa lebih sering dilaksanakan.
Hal ini dimaksudkannya masyarakat yang sakit tidak lagi harus berobat ke Puskesmas Yoka, dan Rumah Sakit Dian Harapan, Kota Jayapura.
“Kalau untuk di Puskesmas Yoka ya masih gratis, kalaupun bayar paling cuma bayar administrasi saja. Tapi kalau sakit sudah parah biasa masyarakat dibawa ke Dian Harapan tapi dengan ongkos berobat yang lebih mahal” tutupnya. (***)

















